Kolom
Generasi Muda dan Kemerdekaan Ekonomi: Ketika Lapangan Kerja Jadi Tantangan
Sulitnya mendapat pekerjaan membuat makna kemerdekaan ekonomi bagi generasi muda perlu dipertanyakan. Saat lapangan kerja menjadi tantangan, benarkah merdeka secara ekonomi hanya soal punya pekerjaan?
Setiap Agustus, kata “merdeka” kembali memenuhi ruang publik. Kita berbicara tentang perjuangan, kebebasan, dan cita-cita Indonesia yang lebih baik. Namun, bagaimana kita bisa bicara tentang kemerdekaan ekonomi jika mendapatkan pekerjaan saja masih butuh perjuangan?
Bagi banyak anak muda, lulus pendidikan bukan berarti otomatis memasuki kehidupan yang mapan. Setelah punya ijazah, muncul fase mencari pekerjaan, menghadapi persaingan proses rekrutmen, dan menunggu kesempatan yang belum tentu datang dengan cepat.
Punya Pekerjaan Bukan Satu-satunya Ukuran
Selama ini, pekerjaan sering dianggap sebagai pintu utama menuju kemandirian ekonomi. Saat sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri, seseorang dianggap telah berhasil berdiri di atas kaki sendiri.
Namun, realitasnya tidak sesederhana itu. Memiliki pekerjaan belum tentu berarti kondisi ekonomi aman. Ada yang bekerja dengan penghasilan yang harus dibagi untuk berbagai kebutuhan atau malah statusnya belum punya kepastian jangka panjang.
Karena itu, kemerdekaan ekonomi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Sudah bekerja atau belum?” Kita juga perlu mempertanyakan kelayakan penghasilan, kesempatan berkembang, perlindungan dalam bekerja, serta peluang untuk merencanakan masa depan.
Ketika Mencari Kerja Menjadi Perjuangan
Dunia kerja punya tantangannya sendiri. Lulusan berpendidikan dan punya keterampilan, tetap harus berhadapan dengan persyaratan pengalaman kerja, persaingan ketat, hingga posisi yang jumlahnya terbatas.
Belum lagi muncul fenomena pekerjaan yang membutuhkan kemampuan beragam untuk satu posisi. Dalam situasi seperti ini, mengatakan “anak muda harus bekerja keras” saja tentu tidak cukup.
Ada persoalan struktural yang juga perlu diperhatikan: bagaimana menciptakan lebih banyak kesempatan kerja, meningkatkan kualitas pekerjaan, serta memastikan generasi muda memiliki akses yang adil terhadap peluang ekonomi.
Jangan Jadikan Hustle Culture sebagai Solusi
Ketika sulit mendapatkan pekerjaan, anak muda sering diarahkan untuk terus meningkatkan diri. Belajar keterampilan baru, membangun personal branding, mengikuti kursus, membuat portofolio, hingga mencoba berbagai strategi pengembangan diri.
Namun, kita juga perlu berhati-hati agar semua persoalan ekonomi tidak dibebankan kepada individu. Tidak semua orang yang belum mendapatkan pekerjaan berarti kurang berusaha. Tidak semua kegagalan proses rekrutmen jadi bukti inkompetensi.
Ada kalanya seseorang sudah berusaha, tapi kesempatan yang tersedia memang belum cukup. Namun, terkadang muncul tekanan harus terus produktif agar dianggap layak mendapatkan kehidupan yang baik.
Kemerdekaan Ekonomi Berarti Memiliki Pilihan
Menurut saya, makna kemerdekaan ekonomi bagi generasi muda seharusnya tentang memiliki pilihan dan kesempatan untuk membangun kehidupan yang layak.
Pilihan untuk bekerja sesuai kemampuan. Kesempatan untuk memperoleh upah yang wajar. Ruang untuk belajar dan berkembang. Bahkan, kesempatan untuk membangun usaha atau memilih jalur karier yang berbeda.
Kemerdekaan ekonomi bukan berarti semua anak muda harus kaya atau memiliki pekerjaan bergengsi. Kemerdekaan ekonomi adalah ketika seseorang tidak terus-menerus berada dalam posisi terpaksa karena tidak memiliki pilihan.
HUT ke-81 RI dan Harapan untuk Generasi Muda
HUT ke-81 RI seharusnya menjadi momentum untuk melihat kemerdekaan bukan hanya sebagai warisan sejarah, tapi juga cita-cita yang harus terus diperjuangkan. Bukan hanya hidup merdeka, tapi merdeka dalam hidup, termasuk soal aspek ekonomi.
Bagi generasi muda, merdeka secara ekonomi bukan sekadar sudah menerima gaji setiap bulan, tapi juga memiliki kesempatan untuk bekerja, berkembang, memenuhi kebutuhan, dan merancang masa depan dengan lebih tenang.
Karena itu, saat mendapatkan pekerjaan saja masih sulit, pertanyaannya bukan “Mengapa anak muda belum bekerja?”, melainkan “Sudahkah negara dan masyarakat menyediakan ruang yang cukup agar generasi muda bisa bekerja dan hidup layak?”
Sebab, kemerdekaan ekonomi tidak seharusnya menjadi hadiah bagi mereka yang paling beruntung. Ia harus menjadi kesempatan yang bisa diakses seluas-luasnya oleh generasi muda untuk membangun masa depan.