Kolom

Genjer, Stigma, dan Kang Edai, Sang Penggerak Desa Sejahtera Astra Kemiren

Genjer, Stigma, dan Kang Edai, Sang Penggerak Desa Sejahtera Astra Kemiren
Semua bagian warga desa terlibat dalam proses kemajuan Desa Adat Osing Kemiren. (Sumber: Koleksi Pribadi Kang Edai)

Setelah belasan tahun tinggal di Bandung, saya baru menyadari nikmatnya menyantap tumis genjer. Sebelumnya, hanya tahu olahan ini dengan kombinasi oncom dan bumbu kencur yang tajam. Tak cocok dengan lidah Jawa Timur saya. Sampai suatu hari saya dipertemukan dengan olahan genjer dengan bumbu yang lebih ringan, yang langsung diturunkan dari api sebelum dedauannya terlalu layu. Sejak saat itu, setiap kali melihat sayur ini dipajang di rak warung sayur, pasti akan saya beli. Sebegitu sukanya saya dengan sayur ini.

Saat mulai menyukai genjer inilah saya mengulik lagu Genjer-Genjer, lagu berbahasa Osing yang dipenuhi dengan stigma negatif. Berkat menetapkan diri sebagai penikmat genjer, saya tak lagi menganggap kisah lalu itu sebagai sekadar peristiwa. Butuh upaya kita untuk menghapus semua stigma itu. Maka, menyenangkan rasanya saat mendapati kabar Desa Sejahtera Astra Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dengan suku Osingnya tumbuh sebagai salah satu masyarakat adat Indonesia yang mandiri dan berprestasi. 

Genjer dan Masyarakat Osing di Masa Lalu

Di masa lalu, genjer hanyalah makanan rakyat jelata. Ia adalah gulma. Tanaman pengganggu yang disingkirkan dari area tanam padi. Paling bagus, tanaman ini dimanfaatkan untuk campuran makanan itik. Namun, kondisi yang demikian buruk di bawah pendudukan Jepang, memaksa masyarakat untuk mencari sumber makanan alternatif agar perut-perut tidak keroncongan. Salah satunya adalah menjadikan genjer yang dianggap hama ini sebagai sayuran.

Muhammad Arief adalah petani dengan kepekaan seorang seniman. Ia menuangkan apa yang dialaminya, yang dilihatnya dari masyarakat sekitar dan apa yang menjadi keluhan mereka ke dalam larik-larik catatan.

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Emaké thulik teka-teka mbubuti génjér
Emaké thulik teka-teka mbubuti génjér

Emake jebeng padha tuku nggawa welasah
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Setengah mateng dientas ya dienggo iwak
Setengah mateng dientas ya dienggo iwak
Sega sak piring sambel jeruk ring pelanca

Diduga Arief menjadikan cerita genjer ini sebagai lagu pada kisaran tahun 1942-1943, saat Jepang sedang keras-kerasnya mencengkeram bumi Nusantara. Dengan menggunakan bahasa Osing, Arief mencoba menggambarkan kondisi masa paceklik itu dengan permainan anak-anak berjudul Tong Alak Gentak. Alat musik yang dipakai untuk mengiringinya hanyalah angklung--alat musik khas Jawa Barat--yang saat itu mulai diakrabi masyarakat Banyuwangi.

Arief mulai mengenalkan lagunya saat ia bergabung dengan organisasi yang bergerak di bidang khusus angklung caruk, Sri Tanjung pada 1954. Saat organisasi ini lebur menjadi Seni Rakyat Indonesia Pemuda (Sri Muda), Genjer-Genjer telah dikenal luas masyarakat Osing. Lagu ini makin menanjak popularitasnya saat dibawakan penyanyi nasional yang sangat terkenal masa itu, Lilis Suryani pada 1962.

Di masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966) Partai Komunis Indonesia (PKI) memanfaatkan popularitas Genjer-Genjer sebagai alat propaganda. Tak lain karena nuansa proletar yang terasa lekat dengan lagu tersebut. Saat pecah pemberontakan PKI, segala hal yang bersinggungan dengan partai ini dilibas habis. Genjer-Genjer, lagu pilu yang menggambarkan penderitaan masyarakat Osing di masa Jepang ini pun tak luput dari imbas peristiwa politik tersebut. Stigma yang terus menerus menempel seiring dengan label menyeramkan yang disematkan pada partai berlambang palu arit itu.

Kang Edai dan Masyarakat Osing yang Bangkit dan Bergegas dalam Kemajuan

Dalam perjalanannya, kesejahteraan masyarakat Osing mengalami perkembangan yang signifikan. Secara khusus, masyarakat Osing di Desa Kemiren yang mendapatkan pendampingan dari PT Astra International Tbk. dalam program Desa Sejahtera Astra.

Sejak hadir pada 2024 lalu, Astra telah membantu perkuat potensi yang telah dimiliki masyarakat Kemiren melalui pengembangan bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan. Indeks kemiskinan yang sebelumnya di atas rata-rata, kini telah menurun drastis. Dengan berbagai peluang yang masih sangat mungkin dikembangkan, Kemiren telah memantapkan diri bertumbuh sebagai desa yang berdikari.

Secara alamiah, setiap anggota keluarga Osing lahir dan bertumbuh dengan kesadaran untuk senantiasa menjaga tradisi suku yang menyandang nama besar Kerajaan Blambangan tersebut. Kesadaran yang mengalir dalam darah mereka untuk tak henti mempertahankan berbagai peninggalan leluhur seperti rumah adat tradisional, bahasa, kuliner khas, serta tradisi lainnya seperti Tumpeng Sewu dan Barong.

Di antara sosok-sosok muda yang bergiat menjaga tradisi ada satu sosok bernama Muhammad Edy Saputro atau yang biasa dipanggil Kang Edai. Didaulat sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Kang Edai bahu membahu membangun desa adat bersama warga.

Di bidang kesehatan, penguatan dilakukan dengan menghadirkan tenaga ahli untuk melengkapi pengetahuan masyarakat. Secara khusus penguatan bagi para penggerak secara berkala terus dilakukan. Tim Penggerak (TP) PKK Desa Kemiren juga telah menjalankan fungsinya dengan baik melalui Posyandu. Kesehatan ibu dan anak serta pencegahan stunting masih menjadi fokus TP PKK, sejalan dengan program nasional.

Untuk mendukung sektor pendidikan, bersama Astra, Kang Edai melakukan perbaikan dan penyediaan sarana dan prasarana. Tenaga pengajar juga tak luput dari perhatian demi terus terjaga kualitas pengajaran. Dan yang tentu saja tak boleh terlewatkan adalah memastikan muatan lokal masuk dalam pembelajaran sehari-hari. Muatan lokal terkait bahasa, seni, sejarah, dan tradisi suku Osing merupakan sumber bahan bakar bagi anak-anak masa depan ini.

Seperti pada umumnya desa adat yang menjadikan ritual sebagai upaya merawat Bumi, suku Osing pun memupuk nilai-nilai luhur tersebut. Hal ini seiring dengan program keberlanjutan yang digerakkan oleh Kang Edai bersama kaum muda Kemiren. Bedanya kali ini dilengkapi dengan pengelolaan yang menyentuh kekinian mengingat produk sampah makin meluas seiring modernitas. Bukan lagi sekadar limbah dari tumbuhan, namun juga sisa pembuangan yang membutuhkan perlakukan khusus. Program Desa Sejahtera Astra menyasar pengolahan limbah yang berkelanjutan dan mendatangkan manfaat bagi warga, seperti pembuatan pupuk organik dan pengolahan sampah menjadi biogas.

Yang unik dalam program Desa Sejahtera Astra yang digawangi Kang Edai ini, semua sektor saling berkelindan, saling mendukung, saling mengisi. Sehingga ketika di ujungnya bertemu dalam muara wirausaha, segala sesuatu sudah berjalan selaras.

Saat ini terdata sebanyak 40 pelaku UMKM yang aktif. Masing-masing dengan kekhususan usaha kuliner, kerajinan, dan kopi. Mereka disiapkan untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan yang tercatat mencapai 3.000 lebih kunjungan pada setiap tahunnya. Para wisatawan biasanya berkunjung untuk melihat dari dekat kehidupan masyarakat adat Osing. Mereka tinggal di homestay yang disediakan oleh warga lokal yang memungkinkan mereka bersentuhan dengan keseharian masyarakat setempat. Pada tahun kedua program Desa Sejahtera Astra ini, Desa Kemiren telah memiliki 50 homestay dengan total 92 kamar yang siap menyambut wisatawan.

Keberhasilan Kemiren tak hanya dinikmati segelintir orang. Masyarakat adat Osing secara keseluruhan telah menjaga tradisi leluhur sehingga kesejahteraan pun terbagi rata. Di sinilah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menunjukkan peran pentingnya dalam pengelolaan usaha komunal desa adat ini.

Genjer dan Masyarakat Adat Osing di Masa Depan

Kisah menyayat yang pernah dijadikan lirik lagu itu sudah tidak ada lagi. Di masa kini, kisah memilukan di tengah masyarakat adat Osing itu hanya tinggal kenangan. Sebaliknya, dengan segala keunggulannya, desa adat ini telah mengantongi banyak penghargaan. Pada 2025 lalu, Desa Sejahtera Astra Kemiren mendapatkan apresiasi dari dua institusi. Yang pertama datang dari Kementerian Pariwisata serta ASEAN Tourism Award 2025, penghargaan Wonderful Indonesia Impact dan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Satu lagi, desa adat di ujung Pulau Jawa ini terpilih sebagai bagian dari The Best Tourism Village Upgrade Program 2025, suatu program yang mendukung pelestarian budaya, alam, dan tradisi lokal agar tercipta pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Meski demikian, perjuangan belum usai. Menurut Kang Edai, justru apresiasi-apresiasi itu awal dari kemajuan agar para penggerak tidak berpuas diri dan terus berkarya. Ia berharap Desa Kemiren terus melaju dalam bidang pariwisata dengan tetap mengedepankan budaya Osing sebagai akarnya. Desa adat berjaya, rakyatnya makin sejahtera.

Lalu, apa kabar genjer? Tanaman ini memang tak terkait langsung dengan Desa Sejahtera Astra. Namun, antara genjer-stigma masa lalu-Osing seperti memiliki pertalian kuat.

Seperti halnya masyarakat adat Osing yang makin berdaya, genjer pun kini menemukan tempatnya yang jauh lebih layak. Ia bukan gulma yang sekadar menjadi campuran makanan ternak. Namanya bersanding dengan menu-menu lain di berbagai ragam rumah makan.

Ada yang belum pernah mencoba olahan genjer? Cobalah. Rasakan teksturnya yang sedikit liat, rasa pahit yang samar, dan aroma segar khas tanaman air. Mintalah maaf atas segala yang terjadi, yang membuat tanaman ini menjadi korban tragedi politik di tanah air. Dan berterimakasihlah karena tanaman ini telah sekian lama ikut menjaga keberlangsungan hidup manusia. Namaste.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda