Kolom

Politik di Ruang Pengasuhan: Kecemasan Membesarkan Anak di Negeri Sendiri

Politik di Ruang Pengasuhan: Kecemasan Membesarkan Anak di Negeri Sendiri
Ilustrasi anak-anak (magnific)

Sejak menjadi orang tua, saya merasa tidak pernah benar-benar lepas dari rasa khawatir. Mulai dari anak sakit, biaya sekolah, kebutuhan sehari-hari, keamanan, hingga tabungan untuk masa depan, semuanya seolah punya ruang sendiri di kepala.

Namun, belakangan, ada satu hal lain yang ikut menambah kekhawatiran orang tua, yakni kondisi politik dan arah negara tempat anak-anak mereka akan tumbuh. Berita tentang kebijakan pemerintah, ekonomi yang tidak menentu, persoalan pendidikan dan kesehatan, hingga isu lingkungan terasa semakin dekat dengan kehidupan keluarga.

Politik yang dulu mungkin dianggap sebagai urusan para pejabat kini ikut menentukan pertanyaan sederhana di kecemasan orang tua yang bertanya-tanya, apakah anak-anak kita akan punya masa depan yang layak?

Politik Ternyata Ikut Masuk ke Rumah

Dulu, saya termasuk orang yang tidak terlalu tertarik membaca berita politik. Kalau pun membaca, saya tidak "memasukkan ke dalam hati". Berita itu lewat begitu saja tanpa saya pedulikan kelanjutannya.

Tetapi, sekarang rasanya berbeda. Setiap hari, saya membuka linimasa media sosial yang dipenuhi berita tentang harga kebutuhan pokok yang merangkak naik, PHK di mana-mana, biaya sekolah semakin mahal, hingga kebijakan pemerintah yang sering bikin mengelus dada.

Mau tidak mau, pikiran saya langsung tertuju pada anak saya dan jutaan anak-anak lain di Indonesia. Sebagai orang tua, kita tentu ingin memberi yang terbaik untuk anak. Kita bisa, menabung, mencari sekolah yang terbaik, atau bekerja lebih keras. Namun, ada banyak hal yang tetap berada di luar kendali kita.

Di sinilah politik terasa lebih dekat dari yang dibayangkan. Keputusan yang dibuat di ruang pemerintahan bisa berujung pada hal-hal yang sangat domestik hingga menyentuh dapur kita, bahkan lingkungan tempat anak tumbuh.

Orang Tua Bisa Menyiapkan Banyak Hal, Namun Negara Tetap Punya Peran

Menjadi orang tua sering kali identik dengan persiapan, terutama yang berkaitan dengan finansial, seperti dana pendidikan, tabungan kesehatan, dana darurat, asuransi, dan berbagai rencana lain untuk memastikan anak punya kehidupan yang cukup. Kita diajarkan untuk memikirkan masa depan jauh-jauh hari.

Masalahnya, masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh seberapa rapi orang tua membuat perencanaan. Ada banyak hal yang tidak bisa ditabung atau dipersiapkan sendirian. Negara juga punya andil yang besar untuk masa depan anak-anak.

Pendidikan yang layak, layanan kesehatan, keamanan, kondisi lingkungan, hingga kesempatan kerja kelak turut dipengaruhi oleh kebijakan dan kondisi negara. Orang tua memang bisa berusaha memberikan yang terbaik dari rumah, tetapi tidak mungkin mengendalikan semua hal yang berada di luar lingkup keluarga.

Oleh karena itu, wajar jika kondisi politik ikut memengaruhi kecemasan orang tua. Sebanyak apa pun persiapan yang dibuat, tetap ada kekhawatiran tentang dunia yang nantinya akan ditempati anak-anak. Ada bagian dari masa depan mereka yang memang tidak bisa disiapkan hanya dengan tabungan dan perencanaan keluarga.

Keputusan Politik Hari Ini Berdampak ke Kehidupan Anak Nanti

Apa yang diputuskan hari ini mungkin hanya menjadi berita selama beberapa hari, tetapi dampaknya bisa dirasakan oleh generasi muda bertahun-tahun kemudian.

Anak yang sekarang masih sibuk bermain belum tentu memahami soal politik, ekonomi, atau kebijakan publik. Namun, kelak mereka yang akan menghadapi hasil dari keputusan yang dibuat orang dewasa hari ini.

Di tengah semua kekhawatiran itu, muncul perasaan yang cukup menyedihkan. Orang tua merasa bersalah atas sesuatu yang sebenarnya tidak mereka ciptakan. Mereka khawatir telah membawa anak ke dunia yang tidak cukup baik, padahal kondisi tersebut berada jauh di luar kendali mereka.

Padahal, punya anak seharusnya tetap bisa menjadi bentuk harapan. Oleh karena itu, keresahan para orang tua seharusnya tidak hanya didengar sebagai keluhan, tetapi juga dibaca sebagai tuntutan agar kehidupan yang diwariskan kepada generasi berikutnya benar-benar diperbaiki.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda