Kolom

Tolak Perfect Woman Syndrome: Saatnya Perempuan Hidup Realistis dan Merdeka

Tolak Perfect Woman Syndrome: Saatnya Perempuan Hidup Realistis dan Merdeka
Ilustrasi perempuan muda (Pexels/cottonbro studio)

Saat perempuan Gen Z mulai mempertanyakan tuntutan dan standar sosial untuk selalu tampil sempurna, apakah menolak perfect woman syndrome menjadi bentuk baru kemerdekaan diri?

Menjadi perempuan seolah memiliki daftar tuntutan yang tidak pernah selesai. Harus berpendidikan, punya karier, mandiri finansial, pandai mengurus rumah dan diri sendiri, menjaga hubungan sosial, hingga tetap tampil menarik.

Ironisnya, saat berhasil memenuhi sebagian besar tuntutan tersebut, standar baru kembali muncul. Di media sosial, gambaran perempuan ideal bahkan terlihat semakin kompleks.

Perempuan diharapkan produktif tapi tidak boleh terlalu sibuk, mandiri tapi tetap dianggap “feminin”, sukses dalam karier tapi juga memiliki kehidupan pribadi yang terlihat baik.

Di momentum HUT ke-81 RI, situasi ini membuat saya berpikir: apakah perempuan benar-benar merdeka jika masih merasa harus menjadi sempurna untuk dianggap cukup?

Saat Perempuan Dituntut Bisa Segalanya

Istilah perfect woman syndrome digunakan untuk menggambarkan tekanan untuk memenuhi standar kesempurnaan dalam berbagai aspek kehidupan. Sayangnya, standar tersebut sering kali tidak realistis.

Perempuan akan merasa harus menjadi pekerja yang profesional, teman yang selalu hadir, anak yang membanggakan keluarga, pasangan yang pengertian, sekaligus individu yang selalu mampu mengurus dirinya sendiri.

Saat satu bagian kehidupan berantakan, muncul perasaan gagal. Padahal, tidak ada orang yang mampu menjalankan semua peran secara sempurna setiap saat. Perempuan juga punya batas energi, waktu, kemampuan, dan kondisi yang berbeda-beda.

Media Sosial Membuat Kesempurnaan Terlihat Normal

Media sosial membuat persoalan ini semakin rumit saat menormalisasi kesempurnaan. Banyak perempuan muda punya karier, membangun bisnis, bisa bepergian, dan menjalani kehidupan yang terlihat tertata.

Masalahnya, yang ditampilkan tadi hanya hasil akhirnya, bukan seluruh proses di balik layar. Akibatnya, standar yang sebenarnya sulit dicapai bisa terlihat seperti sesuatu yang normal dan bisa dilakukan siapa saja.

Perempuan Gen Z juga masih harus berhadapan dengan pertanyaan yang melelahkan: “Kalau orang lain bisa melakukan semuanya, mengapa aku tidak?” Padahal, hidup bukan perlombaan siapa yang paling mampu mengerjakan banyak hal sekaligus.

Berani Mengakui “Aku Tidak Bisa”

Menurut saya, salah satu bentuk kemerdekaan perempuan hari ini adalah kemampuan mengatakan “aku tidak bisa” tanpa merasa harga diri ikut berkurang. Berani mengakui ketidakmampuan bukan kegagalan.

Tidak bisa menghadiri semua acara. Tidak mampu menerima pekerjaan tambahan. Tidak selalu punya energi untuk membalas pesan. Tidak ingin mengikuti standar tertentu. Bahkan belum tahu sebenarnya ingin menjadi apa. Semua itu manusiawi.

Menolak tuntutan yang tidak sesuai bukan berarti kehilangan ambisi. Justru, mengenali batas diri akan membantu kita menentukan mana yang benar-benar penting. Tidak harus membuktikan kita kuat dengan mengerjakan semuanya sendirian, kok.

Sempurna Bukan Satu-satunya Definisi Berhasil

Ada hal menarik dari perubahan cara Gen Z memandang kesuksesan. Bagi sebagian perempuan muda, sukses tidak lagi selalu berarti memiliki kehidupan yang terlihat sempurna.

Pekerjaan yang memberikan ruang untuk kehidupan pribadi bisa dianggap berharga. Memiliki waktu untuk keluarga bisa menjadi pencapaian. Berani meninggalkan lingkungan yang tidak sehat juga bisa menjadi bentuk keberhasilan.

Kini, definisi sukses lebih personal. Dan menurut saya, itu merupakan perkembangan yang positif. Sebab, hidup seharusnya tidak menjadi “proyek” untuk memenuhi standar orang lain.

Kemerdekaan Berarti Berhak Menjadi Tidak Sempurna

HUT ke-81 RI bisa menjadi momentum untuk memperluas arti kemerdekaan bagi perempuan tentang standar kesempurnaan. Merdeka berarti memiliki ruang untuk menentukan pilihan dan menerima kalau pilihan tersebut mungkin berbeda dari ekspektasi sosial.

Perempuan boleh mengejar karier, tapi tidak harus menjadikannya seluruh identitas. Perempuan boleh ingin berkeluarga, tapi tidak perlu merasa tertinggal jika jalannya berbeda. Perempuan boleh tampil percaya diri, tapi juga berhak terlihat tidak sempurna.

Pada akhirnya, menjadi perempuan merdeka bukan tentang berhasil memenuhi semua standar kesempurnaan. Justru, kemerdekaan bisa dimulai saat kita berhenti merasa harus memenuhi semuanya.

Perempuan Gen Z tidak harus menjadi perfect woman untuk dianggap berhasil. Sebab, menjadi manusia yang terus belajar, bertumbuh, membuat kesalahan, beristirahat, dan mencoba lagi sebenarnya sudah lebih dari cukup.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda