Kolom
Kehilangan Binar Masa Kecil: Apakah Menjadi Dewasa Berarti Berhenti Bermimpi?
Sewaktu kecil, pertanyaan "Kalau besar nanti mau jadi apa?" selalu menyalakan binar di mata saya. Jawaban saya saat itu begitu liar, megah, dan tanpa batas. Saya bisa membayangkan diri saya menembus luar angkasa sebagai astronot, menyembuhkan dunia sebagai dokter ajaib, atau melukis langit dengan ide-ide gila. Namun, seiring berjalannya waktu dan usia yang terus bertambah, saya mulai menyadari satu hal yang menakutkan. Binar itu perlahan meredup. Pertanyaan yang sama kini tidak lagi memicu imajinasi, melainkan mendatangkan rasa cemas dan tekanan yang berat.
Apakah menjadi dewasa secara otomatis berarti kita harus kehilangan kemampuan untuk bermimpi?
Secara pribadi, saya sering merasa bahwa proses kedewasaan adalah sebuah proses pemangkasan ekspektasi. Ketika dunia mulai menagih tanggung jawab, mulai dari tagihan bulanan, tuntutan karier, hingga ekspektasi sosial dari lingkungan sekitar, ruang di dalam kepala yang dulunya berisi imajinasi tanpa batas mendadak berjejal dengan daftar hal yang harus diselesaikan. Realitas hidup seolah bertindak seperti gravitasi kuat yang menarik kita jatuh dari awan-awan impian, memaksa kaki kita untuk berpijak keras di tanah yang retak.
Ada masa di mana saya merasa getir dan menuduh diri sendiri telah menjadi sosok yang membosankan. Saya merasa telah mengkhianati sosok anak kecil dalam diri saya yang dulu begitu berani memimpikan hal-hal besar tanpa takut gagal. Mengapa sekarang memikirkan rencana lima tahun ke depan saja terasa begitu melelahkan dan didominasi oleh hitungan finansial yang dingin? Apakah menjadi rasional adalah harga mutlak yang harus dibayar untuk sebuah kedewasaan?
Namun, setelah merenungi proses pendewasaan ini lebih dalam, saya mulai memahami bahwa kita sebenarnya tidak pernah benar-benar kehilangan kemampuan untuk bermimpi. Yang berubah hanyalah wujud, skala, dan cara kita mendefinisikan impian itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari.
Saat masih kanak-kanak, mimpi kita bersifat abstrak dan lepas dari gravitasi realitas karena kita belum mengenal pahit manisnya beban hidup. Ketika dewasa, mimpi tidak lantas mati, melainkan beradaptasi dengan kondisi kita. Mimpi seorang dewasa mungkin tidak lagi selalu tentang menaklukkan dunia, menguasai panggung megah, atau terbang ke bulan. Melainkan mewujud dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Memiliki pekerjaan yang nyaman, memiliki waktu luang untuk menyeduh kopi tanpa terburu-buru, atau memiliki kemampuan finansial untuk membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
Mata telanjang mungkin melihat perubahan ini sebagai bentuk penurunan ambisi atau rasa menyerah pada keadaan. Tetapi saya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Bagi saya, ini adalah wujud keberanian yang baru. Bermimpi di masa dewasa membutuhkan ketangguhan yang jauh lebih besar daripada saat kita kecil. Jika dulu kita bermimpi tanpa tahu betapa sulitnya dunia, kini kita tetap berani bermimpi justru setelah kita tahu betapa keras dan sengitnya kenyataan. Bagi saya, hal tersebut bukan bentuk keputusasaan, melainkan sebuah kedewasaan.
Kita tidak pernah kehilangan kemampuan untuk bermimpi. Kita hanya belajar memilih mimpi mana yang realistis dan pantas untuk diperjuangkan. Menjadi dewasa bukan berarti membunuh imajinasi masa kecil, melainkan memberikan imajinasi tersebut sebuah fondasi yang kokoh agar ia bisa berdiri tegak di dunia nyata.
Jadi, jika hari ini Anda merasa impian Anda semakin mengecil, bergeser, atau berubah arah dari masa kecil dulu, jangan pernah berkecil hati. Selama kita masih memiliki keberanian untuk berharap pada hari esok yang lebih baik, sekecil apa pun harapan itu, artinya kemampuan kita untuk bermimpi masih sangat hidup.