Kolom
Setelah Paru-Paru Dunia Dikepung Asap, Kapan Hutan Pulih?
Asap karhutla sekarang pasti membuat kita berpikir bahwa masalah selesai ketika api padam dan titik panas menurun. Padahal, pemulihan karhutla justru dimulai ketika kamera berita pergi, masker dilepas, dan langit kembali biru. Di titik itulah persoalan yang lebih panjang muncul berapa lama tanah, air, vegetasi, satwa, dan masyarakat yang terdampak bisa kembali seperti semula?
Kementerian Kehutanan melalui pembaruan penanganan karhutla menyebut titik panas menunjukkan penurunan dan upaya penanganan terus diperkuat. Kabar ini tentu patut diapresiasi. Namun, penurunan hotspot tidak seharusnya dibaca sebagai tanda bahwa pekerjaan telah selesai. Sebab, hutan bisa tampak pulih jauh sebelum benar-benar pulih.
Api Padam, Tetapi Kerusakan Belum Berhenti
Sesuatu yang pasti dari kebakaran hutan. Api memiliki akhir yang jelas ketika nyala hilang, kita merasa krisis telah berakhir. Tapi Hutan tidak lagi sama seperti si jago merah memporak porandakannya.
Setelah kebakaran, tanah menghadapi perubahan sifat fisik dan kimia. Vegetasi kehilangan tutupan, organisme tanah terganggu, sementara kemampuan lahan menyimpan air dapat berubah. Pada kawasan gambut, persoalannya lebih spesifik lagi. Kebakaran dapat meninggalkan lapisan gambut yang rusak dan membuat kawasan lebih rentan terbakar kembali ketika musim kering datang. Artinya, memadamkan api hanyalah menyelesaikan satu masalah.
Kita juga perlu berhenti menggunakan warna hijau sebagai satu-satunya ukuran pemulihan. Beberapa jenis tanaman memang dapat tumbuh kembali dengan cepat. Dari kejauhan, kawasan bekas terbakar bisa terlihat menghijau. Tetapi hutan bukan sekadar kumpulan pohon.
Hutan adalah jaringan kehidupan. Ada tumbuhan bawah, mikroorganisme, serangga, burung, mamalia, aliran air, serta hubungan antarmakhluk hidup yang membutuhkan waktu berbeda untuk kembali terbentuk. Hutan sekunder yang tumbuh setelah kebakaran pun belum tentu memiliki fungsi ekologis yang sama dengan hutan sebelum terbakar.
Di sinilah persoalannya menjadi penting. Kecepatan penghijauan tidak sama dengan kecepatan pemulihan.
Kita Terlalu Terbiasa Mengukur Krisis dari Asap
Ketika jarak pandang membaik, aktivitas sekolah kembali normal, penerbangan tidak lagi terganggu, dan aplikasi kualitas udara menunjukkan kondisi yang lebih baik, perhatian publik ikut surut. Ini manusiawi. Kita memiliki banyak persoalan lain yang harus dipikirkan.
Tetapi pola tersebut menciptakan siklus yang berbahaya. Karhutla memperoleh perhatian besar ketika menjadi bencana kesehatan dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Setelah asap menghilang, tekanan publik ikut menghilang. Sementara itu, pekerjaan pemulihan ekologis justru berlangsung dalam diam dan membutuhkan waktu panjang.
Kementerian Kehutanan dalam pembaruan penanganan karhutla menekankan bahwa penurunan hotspot perlu diikuti penguatan penanganan. Pesan ini penting karena angka hotspot pada dasarnya adalah indikator untuk membantu membaca aktivitas panas di permukaan, bukan sertifikat bahwa sebuah ekosistem telah sembuh.
Ada persoalan lain yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Kebakaran berulang dapat mengubah cara orang memandang lahan. Tanah yang terbakar mungkin kembali digunakan, tanaman kembali ditanam, dan aktivitas ekonomi bergerak lagi. Namun jika tata kelola air, pembukaan lahan, pengawasan, serta perilaku pembakaran tidak berubah, kawasan tersebut hanya sedang menunggu musim kering berikutnya.
Karhutla dengan demikian bukan hanya persoalan api. Tapi juga persoalan insentif ekonomi, tata kelola lahan, kebiasaan, pengawasan, dan bagaimana kita memberi nilai pada hutan.
Pemulihan Harus Lebih Panjang dari Siklus Berita
Lalu Pertanyaannya kapan hutan pulih? sebenarnya tidak memiliki satu jawaban.
Lahan terbakar dengan tingkat kerusakan berbeda membutuhkan waktu berbeda. Ekosistem yang rusak ringan tentu tidak bisa disamakan dengan kawasan gambut yang mengalami kebakaran berulang. Pemulihan juga tidak cukup dengan menanam pohon sebanyak-banyaknya.
Yang perlu dipulihkan adalah fungsi.
Apakah tutupan vegetasi kembali? Apakah air dapat dipertahankan? Apakah risiko kebakaran berkurang? Apakah spesies asli kembali? Apakah masyarakat sekitar memiliki sumber penghidupan yang tidak mendorong pembukaan atau pembakaran lahan? Dan yang tidak kalah penting, apakah kawasan tersebut tetap terlindungi ketika perhatian publik sudah berpindah ke isu lain?
Ukuran keberhasilan semestinya bergerak dari berapa banyak api berhasil dipadamkan menuju seberapa kecil kemungkinan api kembali terjadi.
Untuk itu teknologi juga memiliki peran. Pemantauan hotspot, citra satelit, sistem peringatan dini, hingga pemetaan kawasan rawan dapat membantu mempercepat respons. Tetapi teknologi hanya sekuat keputusan manusia yang menggunakannya. Satelit dapat menunjukkan titik panas, tetapi tidak bisa sendirian menyelesaikan konflik penggunaan lahan atau mengubah kebiasaan masyarakat.
Karena itu, keberhasilan penanganan karhutla seharusnya tidak dirayakan hanya ketika asap menghilang. Keberhasilan yang lebih penting adalah ketika musim kering berikutnya datang dan api tidak lagi menjadi berita utama.
Hutan Indonesia tidak membutuhkan kita sekadar menjadi pemadam kebakaran yang datang ketika keadaan sudah genting. Hutan membutuhkan sistem yang membuat kebakaran semakin sulit terjadi, pemulihan semakin terukur, dan masyarakat memperoleh alasan ekonomi yang kuat untuk menjaga lahannya tetap hidup.
Kita sering meminta hutan pulih secepat mungkin, seolah-olah alam bekerja mengikuti kalender pemberitaan. Padahal, pohon mungkin membutuhkan bertahun-tahun untuk tumbuh, tanah membutuhkan waktu untuk membangun kembali kesuburannya, dan ekosistem membutuhkan jauh lebih lama untuk mengembalikan hubungan yang terputus.
Penutup
Jadi, ketika hotspot menurun dan langit kembali biru, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan apakah karhutla sudah selesai?
Pertanyaannya apa yang sedang kita lakukan ketika api sudah tidak terlihat?
Sebab ukuran keberhasilan bukan sekadar seberapa cepat kita membuat asap menghilang, melainkan apakah kita mampu membuat kebakaran berikutnya tidak perlu terjadi. Jika tidak, kita hanya akan terus merayakan padamnya api yang sama setiap beberapa musim kering.