Kolom

Gaji Pertama Anak Muda: Awal Kemandirian atau Jebakan Finansial?

Gaji Pertama Anak Muda: Awal Kemandirian atau Jebakan Finansial?
Ilustrasi Menghitung Gaji (magnific.com/jcomp)

Setelah menerima gaji pertama, apa yang langsung terlintas di pikiran Sobat Yoursay?

Ketika saya menerima gaji pertama, rasanya sangat menyenangkan. Tentu, bisa memperoleh penghasilan sendiri terasa seperti pencapaian yang besar bagi sebagian orang, termasuk saya. Yang langsung terlintas di benak saya kala itu adalah untuk apa saya akan menggunakan uang tersebut.

Makanan, jajan, dan kebutuhan pokok tentu sudah masuk ke daftar teratas. Setelah itu baru liburan, menikmati waktu dengan jalan-jalan sederhana di taman kota atau sekadar pergi makan di luar. Terbayang di pikiran saya saat itu, rasanya pasti menyenangkan jika kita bisa menikmati hasil kerja keras kita sendiri tanpa memikirkan kebutuhan rumah tangga.

Lalu betapa menyenangkannya juga ketika saya bisa membeli barang-barang yang saya butuhkan tanpa harus meminta uang ke orang tua. Nggak perlu lagi meminta izin menggunakan uang, nggak perlu terus bergantung ke orang tua. Semua tampak begitu mudah dimiliki ketika kita memiliki uang.

Apakah Sobat Yoursay pernah memikirkan hal serupa?

Bagi banyak orang, penghasilan pertama menjadi simbol awal kemandirian seseorang. Sebab di saat yang sama, mereka bisa memenuhi kebutuhannya tanpa bergantung pada orang lain. Beban yang ditanggung oleh orang tua pun menjadi ikut semakin berkurang.

Namun, muncul sebuah ironi di sini. Ketika seseorang mulai mempunyai uang sendiri, tidak jarang keinginan ikut bertambah. Sebagai contoh, dulu ketika belum berpenghasilan, saya bisa dikatakan kurang begitu peduli dengan produk make up maupun skincare. Namun, begitu uang ada di tangan dan saya merasa mampu membeli, keinginan tumbuh tanpa bisa saya cegah. Bersamaan dengan itu muncul pula keinginan lainnya, seperti: nongkrong di tempat estetik, liburan ke spot Instagramable, upgrade outfit dan barang-barang lainnya, hingga mencoba gaya hidup baru.

Sebenarnya semua keinginan itu sah-sah saja untuk dimiliki. Namun, jika yang kita bahas adalah gaji pertama, maka persoalannya bisa jadi tak lagi sederhana. Bekerja dengan status lulusan baru dan minim pengalaman tidaklah seindah yang kita kira. Tidak jarang, kita harus dihadapkan pada nominal gaji yang ternyata nggak sebesar yang dibayangkan. Jangankan untuk memenuhi keinginan pribadi, setelah terpakai untuk kebutuhan pokok, transportasi, makan sehari-hari, dan mungkin membantu keluarga, uang yang tersisa jauh lebih sedikit.

Di titik ini, kemudian muncul pertanyaan yang sangat klise, "Baru juga gajian, kok sudah habis aja?" Bayangan indah tentang gaji pertama sirna seketika. Punya penghasilan yang kita kira bisa menjadi titik awal kemandirian justru berubah menjadi tekanan finansial yang tidak terelakkan.

Ada ekspektasi baru yang ikut lahir bersamaan dengan gaji pertama yang kita terima. Mulai dari rasa keharusan untuk bisa menabung, membantu keluarga, memenuhi kebutuhan pribadi, sekaligus tetap menikmati hasil kerja. Di sini, gaji yang semula terasa seperti pintu menuju kebebasan kini seolah berubah menjadi tanggung jawab yang harus kita pikul.

Di sini, gaji pertama menjadi titik awal bagi anak muda untuk belajar memahami kondisi finansialnya sendiri. Dari segi pengelolaan, mungkin belum bisa langsung sempurna. Namun, justru dari ketidaksempurnaan ini kita mulai mengevaluasi berapa banyak uang yang benar-benar dibutuhkan untuk hidup, apa yang menjadi prioritas, dan sejauh mana kemampuan kita dalam memenuhi berbagai keinginan.

Nggak ada yang salah dengan keinginan menikmati hasil kerja keras kita. Begitu pun dengan niat baik untuk menabung atau membantu keluarga. Yang jadi persoalan di sini adalah bagaimana kita bisa menemukan keseimbangan di antara semuanya tanpa membuat penghasilan yang dimiliki justru menjadi sumber tekanan.

Tentu, ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan, apalagi bagi anak muda yang baru menapaki dunia kerja dengan pendapatan pas-pasan. Namun, mungkin kita bisa melakukannya perlahan dengan berusaha menabung atau pun membantu orang tua dengan nominal realistis sembari tetap menikmati hidup yang diinginkan, yang tentunya dengan tetap memperhatikan kemampuan finansial kita sendiri.

Sampai sini, kesimpulan yang bisa kita ambil adalah gaji pertama mungkin memang bisa menjadi awal kemandirian bagi anak muda. Namun, tetap perlu diingat bahwa memiliki penghasilan sendiri tidak lantas membuat semua persoalan finansial kita terselesaikan begitu saja. Justru sejak itu jugalah kita mulai belajar dan menyadari bahwa memiliki uang sendiri artinya kita juga memiliki tanggung jawab untuk mengelolanya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda