Ulasan

Usia 20-an dan Rasa Cemas soal Masa Depan: Mengupas Makna Lagu Takut

Usia 20-an dan Rasa Cemas soal Masa Depan: Mengupas Makna Lagu Takut
Official Lyric Video Takut (YouTube/Idgitaf)

Usia 20-an bisa dikatakan sebagai fase di mana banyak orang rentan kebingungan menentukan arah hidupnya. Di fase ini, kita melihat orang-orang di sekitar yang mulai menemukan jalan. Ada yang menikah dengan kekasihnya, ada yang masih sibuk berkuliah, ada yang kariernya terlihat mentereng, ada pula yang media sosialnya dipenuhi dengan unggahan traveling.

Di sisi lain, ada juga seseorang yang kehidupannya masih abu-abu. Mungkin, ia sudah berhasil menyelesaikan kuliah dan memperoleh gelar sarjana. Lalu, apa yang harus ia lakukan setelahnya? Jawabannya tidak sesederhana "cari info loker". Sebab di saat yang sama, bisa jadi dia telah mencoba mengirimkan lamaran ke sana kemari, tetapi belum ada satu pun yang terlihat hasilnya. Bisa juga, ia masih belum menemukan arah dan sibuk mencari tahu apa yang bisa dan mampu dilakukannya. Atau masih mencari tahu langkah pertama untuk memulai perjalanan menggapai mimpi-mimpinya.

Yeah, begitulah masa dewasa yang jauh lebih rumit dari soal ujian Matematika. Teruntuk Gen Z, anak-anak muda yang sedang berada di fase awal pendewasaan, lagu Takut karya Idgitaf aku rasa bakal relate banget buat kalian.

"Sudah di kepala dua, harus mulai dari mana? Ambisiku bergejolak, antusias tak karuan. Banyak mimpi-mimpi yang 'kan kukejar."

Idgitaf membuka lagu ini dengan gambaran euforia sekaligus kebingungan saat baru memasuki usia dewasa. Di usia 20 tahun ini, kita punya banyak mimpi dan ambisi besar yang ingin dicapai. Hanya saja, karena baru pertama kali merasakannya, tidak jarang seseorang merasa bingung harus mulai dari mana.

"Lika-liku perjalanan, ku terjebak sendirian. Tumbuh dari kebaikan, bangkit dari kesalahan. Berusaha pendamkan kenyataan bahwa—"

Di usia 20 tahun, kita mungkin punya banyak mimpi. Namun, di saat yang sama, kita juga harus terbentur realita bahwa ternyata perjalanan untuk mengejar mimpi itu tidaklah mudah. Sering kali kita jatuh dan melakukan kesalahan. Namun, di sisi lain, ada tuntutan untuk tetap terlihat baik-baik saja. Tetap berusaha bangkit dan belajar menerima kegagalan. Di titik ini, ada orang yang mulai merasa terisolasi dalam perjuangannya. Ia berusaha menyembunyikan rasa takut di balik kepura-puraan bahwa semuanya baik-baik saja.

"Takut tambah dewasa, takut aku kecewa. Takut tak seindah yang kukira. Takut tambah dewasa, takut aku kecewa. Takut tak sekuat yang kukira."

Inilah intinya. Menjadi dewasa untuk pertama kalinya, tentu melahirkan rasa takut dan cemas yang tak bisa dielakkan. Melalui bait ini, Idgitaf menyuarakan perasaan itu secara jujur. Ada ketakutan mendalam akan kegagalan. Ada pikiran tentang masa depan yang bisa jadi tak seindah bayangan kita dulu. Lebih dari itu, kita juga ragu bahwa mungkin kita tidak begitu menghadapi semuanya sendiri.

"Aku tetap bernafas, meski sering tercekat. Aku tetap bernafas, meski aku tak merasa bebas."

Di sini, masa dewasa digambarkan seperti perjuangan bertahan hidup di tengah tekanan mental yang berat. Hidup terus berjalan meskipun terasa sesak. Kita tetap harus melalui hari demi hari dengan beban tanggung jawab yang terasa merenggut kebebasan. Namun, apa yang bisa kita lakukan, selain terus bertahan dan berusaha menjalaninya?

"Pertengahan 25, selanjutnya bagaimana? Banyak mimpi yang terkubur, mengorbankan waktu tidur. Ku tak tahu apa lagi yang 'kan kukejar."

Lalu masuk usia 25 yang biasa disebut masa quarter-life crisis. Di masa ini, seseorang mengalami pergeseran emosi. Jika di awal 20-an ia merasa begitu ambisius, di sini ia sudah mulai lelah. Banyak mimpi yang terpaksa berakhir gugur karena realita. Rasanya, sudah banyak hal dikorbankan, termasuk waktu tidur. Namun, hidup terasa jalan di tempat. Di titik ini, seseorang bisa saja kehilangan arah tentang apa lagi yang harus dikejar. Ada yang memilih menikmati hidupnya yang sekarang, ada pula yang sibuk mencari peluang dari hal baru. Meski artinya, ia harus mempelajarinya dari nol lagi.

Setelah bait tersebut, Idgitaf mengulang kembali lirik sebelumnya: "Takut tambah dewasa, takut aku kecewa. Takut tak seindah yang kukira. Takut tambah dewasa, takut aku kecewa. Takut tak sekuat yang kukira. Aku tetap bernafas, meski sering tercekat. Aku tetap bernafas, meski aku tak merasa bebas." Pengulangan di bagian ini dilakukan beberapa kali. Seolah melalui lagu ini, Idgitaf benar-benar ingin menyampaikan bahwa ketakutan seseorang menghadapi masa dewasa tidaklah sederhana. Ada tekanan emosi dan mental yang cukup berat menyertai perjalanan mereka yang berada di fase ini.

Setelah bait pengulangan, lirik berikutnya adalah tentang pengakuan dan penerimaan.

"Maaf jika belum seturut yang dipinta. Maaf jika seperti tak tahu arah. Aku sudah dewasa, aku sudah kecewa. Memang tak seindah yang kukira. Aku sudah dewasa, aku sudah kecewa. Memang tak sekuat yang kukira."

Ada permintaan maaf yang kita ucapkan karena belum bisa menjalani fase dewasa ini dengan sempurna. Permintaan maaf sebab jalan yang dilalui masih terasa begitu gelap dan membingungkan. Juga permintaan maaf sebab terkadang masih bertanya "ini arahnya ke mana?" pada diri yang belum menemukan titik terang.

Setelah itu, kalimat selanjutnya adalah pengakuan bahwa kita memang sudah dewasa. Di titik ini, kita menyadari jika ternyata jadi dewasa memang tak seindah yang kita kira, kita pun sebenarnya tidak sekuat itu menjalaninya.

Kemudian inilah akhirnya. "Engkau tetap bernafas, meski sering tercekat. Engkau tetap bernafas dan langkahmu 'kan terasa bebas. Dan hatimu 'kan terasa bebas. Dan jiwamu 'kan terasa bebas." Idgitaf menutup lagunya dengan perubahan sudut pandang dari "aku" menjadi "engkau". Kalimat yang seolah menjadi bentuk afirmasi dan dorongan semangat untuk diri kita sendiri. Mencoba kembali meyakinkan diri bahwa selama kita masih bernapas dan terus melangkah, rasa lega dan kebebasan hati pada akhirnya akan ditemukan.

Secara keseluruhan, lagu ini tak hanya berisi keluhan seseorang yang merasa takut akan banyak hal setelah usianya mulai beranjak dewasa. Melalui lagu Takut, kita seolah juga sedang dipeluk dan diyakinkan bahwa masa yang berat ini tidak kita lewati sendirian. Mungkin, ada banyak orang di luar sana yang mungkin sedang menghadapi di fase yang sama.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda