Kolom
Stop Sikap Overproud: Pejabat Bukan Raja, Kenapa Masih Disambut Berlebihan?
Di Indonesia, kedatangan pejabat ke suatu daerah sering memiliki ritualnya sendiri. Ada spanduk ucapan selamat datang, rombongan penyambut, dokumentasi, hingga berbagai bentuk seremoni yang membuat kunjungan tersebut terasa seperti agenda penting yang patut dirayakan.
Terlebih ketika kunjungan tersebut berlangsung di tengah situasi bencana. Di tengah kepulan asap, kerusakan, atau warga yang sedang membutuhkan penanganan, pemandangan penyambutan yang terlalu meriah terasa janggal. Bukan karena pejabat tidak boleh dihormati, tetapi karena situasi darurat seharusnya membuat kita lebih peka terhadap apa yang benar-benar perlu diprioritaskan.
Lantas, apa yang sebenarnya sedang kita rayakan dari kedatangan pejabat, terutama jika yang dilakukan memang bagian dari tugasnya?
Ketika Kunjungan Pejabat Jadi Pertunjukan
Kebiasaan menyambut pejabat dengan berbagai seremoni rasanya sudah terlalu akrab dan dianggap lumrah. Padahal, pejabat mengunjungi daerah, melihat kondisi masyarakat, atau turun ke lokasi bencana memang sudah menjadi bagian dari tanggung jawab yang melekat pada jabatan mereka.
Saya jadi teringat dengan video tentara Jepang yang baru-baru ini viral di X. Mereka datang untuk membantu penanganan karhutla di Kalimantan dan terlihat mengenakan masker, tetapi justru disambut dengan seremoni oleh TNI yang dilengkapi terompet.
Selain itu, beberapa waktu yang lalu, Pemprov Kalimantan Tengah juga menggelar apel pelepasan pasukan dan armada pemadam kebakaran. Gubernur Kalteng Agustiar Sabran bahkan memimpin langsung prosesi tersebut sebagai tanda dimulainya pengerahan pasukan ke lapangan.
Di media sosial, prosesi tersebut dianggap terlalu seremonial untuk situasi karhutla yang sudah berlangsung. Ada kesan bahwa pemerintah sedang sibuk menunjukkan bahwa mereka bekerja, sementara publik lebih membutuhkan respons yang cepat dan hasil yang nyata.
Kita Terlalu Mudah Kagum pada Hal yang Seharusnya Biasa
Mungkin salah satu penyebabnya adalah kita memang terlalu terbiasa menganggap kehadiran pejabat sebagai sesuatu yang spesial. Begitu pejabat pusat datang ke daerah, rombongan langsung disiapkan, orang-orang pun berbondong-bondong melihat dari dekat.
Kebiasaan ini kemudian membuat batas antara apresiasi dan pengkultusan menjadi semakin tipis. Seorang pejabat datang ke daerah yang jauh, misalnya, langsung dianggap luar biasa hanya karena mau turun melihat kondisi lapangan.
Padahal, kalau wilayah tersebut memang berada dalam lingkup tanggung jawabnya, bukankah memang sudah seharusnya ia datang dan melihat langsung?
Di sinilah sikap overproud kepada pejabat menjadi penting untuk dibahas. Kita terlalu mudah memberikan tepuk tangan untuk sesuatu yang sebenarnya merupakan bare minimum dari pekerjaan mereka.
Pejabat Datang untuk Bekerja, Bukan Jumpa Fans
Penyambutan meriah seperti itu lama-lama membentuk kesan bahwa pejabat memang pantas mendapat perlakuan istimewa. Kita jadi terbiasa melihat jabatan sebagai sesuatu yang harus dikagumi, bukan posisi yang perlu diawasi.
Padahal, hubungan antara pejabat dan masyarakat seharusnya tidak seperti hubungan penggemar dengan idolanya. Masyarakat punya hak untuk menghormati, tetapi juga punya hak untuk kritis.
Kalau setiap kedatangan selalu disambut seperti jumpa fans, kita justru kehilangan jarak yang sehat untuk menilai apakah mereka benar-benar bekerja dengan baik atau hanya terlihat sibuk di depan kamera.
Ironisnya, perlakuan semacam ini juga bisa membuat pejabat makin jauh dari posisi mereka sebagai pelayan publik. Terlalu banyak sanjungan kadang justru membuat kekuasaan terasa semakin tinggi, sementara masyarakat ditempatkan seperti pihak yang harus merasa beruntung bisa berhadapan dengan mereka.
Kalau semua pejabat diperlakukan seperti tamu agung, jangan heran kalau budaya feodal terasa betah di kantor pemerintahan. Padahal mereka bukan raja, dan kita juga bukan rakyat kerajaan yang tugasnya cuma menyambut lalu membungkuk.