Kolom

Fenomena Hujatan Massal di Medsos: Kenapa Orang Lebih Berani Jahat di Kolom Komentar?

Fenomena Hujatan Massal di Medsos: Kenapa Orang Lebih Berani Jahat di Kolom Komentar?
Ilustrasi Bullying. (pexels.com/Keira Burton)

Pernah lihat satu komentar nyinyir di TikTok, lalu beberapa menit kemudian kolom komentarnya berubah jadi arena ramai-ramai menghujat? Awalnya cuma satu akun yang nyeletuk. Setelah itu, yang lain ikut ketawa, menimpali, bahkan bikin lelucon baru. Si korban? Mungkin sedang membaca semuanya dari depan layar ponselnya.

Di situlah bullying digital terasa berbeda. Seseorang bisa dihantam puluhan komentar tanpa pernah berhadapan langsung dengan pelakunya. Masalahnya bukan sekadar orang yang kelewat bercanda, melainkan kebiasaan digital yang membuat empati gampang kalah oleh keinginan ikut ramai.

Ketika Layar Membuat Korban Terasa Jauh

Ada alasan kenapa orang lebih berani berkata kasar di kolom komentar dibanding saat bertatap muka. Layar menciptakan jarak. Kita tidak melihat ekspresi orang yang sedang membaca komentar kita. Tidak melihat dia diam, menangis, atau mungkin menutup ponselnya karena sudah terlalu malu.

Akibatnya, kalimat seperti cuma bercanda, baper banget, atau namanya juga netizen sering dipakai sebagai tameng. Seolah-olah niat bercanda otomatis menghapus dampak yang ditimbulkan.

Menurut UNICEF, cyberbullying mencakup perilaku berulang melalui teknologi digital yang bertujuan menakuti, membuat marah, atau mempermalukan seseorang. Bentuknya bisa berupa menyebarkan kebohongan, mengirim pesan menyakitkan, menyebarkan foto memalukan, sampai membuat akun palsu untuk mempermalukan orang lain. 

Mirisnya, persoalan ini bukan cuma tentang pelaku dan korban. Ada penonton. Ada orang yang memberi emoji tertawa. Ada yang ikut membagikan. Ada pula yang sebenarnya tahu itu keterlaluan, tetapi memilih diam karena takut dianggap sok suci.

Dalam ruang digital, penonton bisa berubah menjadi bagian dari mesin perundungan tanpa merasa sedang melakukan apa-apa.

Satu Komentar Bisa Menjadi Kerumunan

Indonesia punya alasan kuat untuk tidak menganggap persoalan ini sebagai drama kecil di internet. Kajian UNICEF tentang kebiasaan daring anak di Indonesia yang terbit pada 2023 menemukan bahwa sebagian besar anak menggunakan internet setiap hari, terutama untuk bersosialisasi dan hiburan. Namun, hanya 37,5 persen anak dalam studi tersebut yang pernah menerima informasi tentang cara menjaga keamanan saat online, sementara 42 persen mengaku pernah merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman daring. 

Artinya, kita mendorong anak dan remaja masuk ke ruang digital dengan sangat cepat, sementara bekal untuk menghadapi risikonya belum tentu ikut diberikan.

Masalahnya makin rumit karena bullying digital tidak berhenti ketika bel sekolah selesai. Jika perundungan terjadi di sekolah, korban setidaknya punya kemungkinan menjauh dari pelaku ketika pulang. Di dunia digital, komentar, pesan, tangkapan layar, dan unggahan bisa ikut masuk ke kamar tidur.

UNICEF juga menjelaskan bahwa cyberbullying meninggalkan jejak digital. Rekaman tersebut dapat menjadi bukti untuk membantu menghentikan tindakan perundungan. 

Dampaknya pun bukan sekadar jadi kepikiran. Sebuah systematic review yang dipublikasikan di Cadernos de Saúde Pública menemukan hubungan antara cyberbullying dan berbagai persoalan pada remaja, termasuk masalah emosional, psikososial, serta gejala depresi. Penelitian tersebut memang tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa setiap korban pasti mengalami gangguan tertentu, tetapi cukup menunjukkan bahwa dampak cyberbullying layak diperlakukan serius. 

Jadi, ketika seseorang berkata, Kan cuma komentar, persoalannya justru ada pada kata cuma itu.

Empati Digital Bukan Berarti Harus Selalu Setuju

Melawan bullying digital bukan berarti semua orang harus berhenti mengkritik. Kritik tetap penting. Kreator, pejabat, brand, bahkan teman sendiri boleh dikritik ketika melakukan kesalahan. Yang perlu dibedakan adalah kritik terhadap tindakan dengan serangan terhadap harga diri seseorang.

Mengatakan, Konten ini keliru karena datanya tidak sesuai, berbeda jauh dengan, Dasar bodoh, pantas dihujat.

Perbedaannya sederhana, tetapi sering hilang ketika algoritma memberi hadiah pada sesuatu yang ramai. Konten yang memancing emosi lebih mudah mengundang respons. Ketika keramaian dianggap sebagai hiburan, manusia di balik akun bisa berubah menjadi sekadar bahan konten.

Karena itu, literasi digital seharusnya tidak berhenti pada kemampuan membedakan hoaks dan fakta. Kita juga perlu mengajarkan literasi sosial: kapan harus berkomentar, kapan harus berhenti, kapan harus melapor, dan kapan seseorang sebenarnya membutuhkan dukungan.

Kalau melihat teman menjadi korban, UNICEF menyarankan untuk memberi dukungan, berbicara kepada orang yang dipercaya, menyimpan bukti, memblokir akun pelaku, serta menggunakan fitur pelaporan di platform. 

Namun ada satu hal yang lebih sederhana dan sering dilupakan: jangan ikut menyebarkan.

Kita memang tidak bisa mengontrol semua orang di internet. Kita juga tidak bisa menghapus budaya komentar pedas hanya dengan satu kampanye. Tapi kita bisa mengontrol satu akun yang kita pegang sendiri.

Mungkin empati digital memang sesederhana berhenti sejenak sebelum menekan tombol kirim. Bertanya dalam hati: kalau orang yang saya komentari berdiri tepat di depan saya, apakah saya masih sanggup mengatakan kalimat yang sama?

Jika jawabannya tidak, mungkin masalahnya bukan pada internet yang terlalu bebas. Bisa jadi, kita yang terlalu mudah lupa bahwa di balik setiap username tetap ada manusia.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda