Kolom
Peluang Emas Buat UMKM: Jangan Batasi Pasar 'Modest Fashion' Cuma di Segmen Muslim!
Beberapa bulan terakhir, saya perhatikan brief dari klien untuk video iklan produk fashion mulai bergeser. Kalau dulu banyak yang minta warna-warna berani dan motif ramai, sekarang permintaan potongan tunik dengan warna lembut seperti krem, sage, dan kuning pastel jauh lebih sering muncul. Awalnya saya kira ini cuma selera musiman, tapi ternyata pergeseran ini sejalan dengan tren modest fashion yang memang sedang naik di level nasional maupun global.
Bukan Sekadar Tren Musiman
Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor modest fashion Indonesia ke negara-negara anggota Organization of Islamic Cooperation melonjak 83 persen dibanding tahun sebelumnya, membuat Indonesia masuk tujuh besar negara pengekspor ke pasar tersebut. Skala pasarnya sendiri jauh lebih besar dari yang saya bayangkan sebelumnya: berdasarkan State of Global Islamic Economy Report, konsumsi fashion muslim dunia diproyeksikan naik dari sekitar USD327 miliar menjadi USD433 miliar pada 2028.
Yang menarik, pertumbuhan ini tetap terjadi di tengah kondisi daya beli masyarakat yang menurun. Bisnis.com melaporkan gelaran Ramadan Rhapsody di Pakuwon Mall Bekasi tetap mampu mencatatkan omzet lebih dari Rp1 miliar, meski penyelenggara sendiri mengakui konsumen kini jauh lebih selektif dalam berbelanja. Bagi saya yang sehari-hari mengamati perilaku pembeli lewat data engagement konten, pola ini masuk akal — orang tidak berhenti membeli, tapi mereka lebih pilih-pilih produk mana yang benar-benar sepadan dengan harganya.
Definisi "Modest" yang Melebar
Satu hal yang menurut saya perlu dicatat pelaku usaha kecil: definisi modest fashion sekarang tidak lagi terbatas pada busana muslim. Liputan6 mengutip pendiri label lokal Anantari yang menyebut pasar kini melihat kesopanan berbusana secara lebih universal, termasuk konsumen yang tidak berjilbab tapi tetap memilih pakaian tertutup. Pergeseran cara pandang ini membuka pasar yang jauh lebih luas dibanding kalau produk hanya diposisikan untuk segmen muslim saja.
Dari sisi desain, RRI melaporkan tren busana Lebaran 2026 masih didominasi siluet longgar seperti tunik panjang dan dress A-line, dengan palet warna hangat dan lembut seperti terracotta, sage green, dusty blue, hingga butter cream jadi favorit, sejalan dengan apa yang saya lihat sendiri di brief-brief produksi belakangan ini. Sementara itu, mulai Oktober 2026 pemerintah juga mewajibkan sertifikasi halal untuk produk fesyen, yang diperkirakan akan jadi pembeda baru di pasar, terutama untuk menembus pasar ekspor yang makin memperhatikan aspek etika produksi.
Pelajaran buat Pelaku Usaha Kecil
Buat reseller atau brand kecil yang biasa saya bantu produksikan kontennya, ada dua hal yang menurut saya penting diperhatikan dari tren ini. Pertama, detail fungsional seperti kenyamanan bahan dan kemudahan dipakai sehari-hari (termasuk fitur seperti busui friendly yang belakangan makin diminati) sebaiknya jadi nilai jual utama, bukan sekadar pelengkap, karena konsumen yang makin selektif akan lebih tertarik pada produk yang benar-benar menjawab kebutuhan mereka.
Kedua, jangan buru-buru membatasi target pasar hanya pada konsumen berjilbab. Dengan definisi modest yang makin melebar, produk yang nyaman dan tertutup punya peluang menjangkau segmen yang lebih luas, asal cara promosinya tidak terlalu sempit membingkai siapa yang "cocok" memakainya.
Tren ini kemungkinan besar akan terus bergerak sepanjang 2026, dan bagi pelaku usaha kecil, memahami arah pergeserannya bisa jadi modal penting untuk tetap relevan di tengah pasar yang makin kompetitif.
Artikel ini merupakan opini pribadi penulis berdasarkan pengamatan terhadap tren produksi konten fashion untuk klien reseller dan brand lokal.