Kolom
Seni Menghadapi Drama Teman Kantor yang Suka Ambil Hati Hal-Hal Sepele
Dunia kerja itu emang tempat yang ajaib. Kita gak cuma dituntut buat kelarin deadline atau ngejar target, tapi kadang juga harus punya radar ekstra buat baca suasana hati orang-orang di sekitar. Lucunya, drama paling epik di kantor sering kali bukan lahir dari perebutan jabatan atau masalah project yang gagal. Nggak jarang, "perang dingin" justru meletus cuma gara-gara urusan sepele yang lewat begitu aja.
Contohnya kayak pengalaman yang baru aja saya alamin di area pantry—spot yang harusnya jadi tempat paling netral buat rehat sejenak.
Misi Kilat di Pantry yang Berujung Salah Paham
Siang itu, saya lagi sibuk cuci tangan. Tiba-tiba ada seorang rekan kerja yang lewat dan menyapa. Karena posisi tangan saya lagi basah penuh sabun dan isi kepala mungkin masih tertinggal di kubikel mikirin kerjaan, saya cuma bisa menoleh sekilas. Literally, saya cuma menatap dia lewat mata samping (side-eye) sepersekian detik sambil mengangguk cepat karena saya harus buru-buru naik lagi.
Dalam hati saya waktu itu: "Aman, yang penting udah saya respons secara efisien." Tapi ternyata, isi kepala manusia siapa yang tahu?
Sorenya, pas jam pulang kantor tiba, saya bersiap-siap balik. Sebagai orang yang menjunjung tinggi sopan santun duniawi, saya pamitan dong sama anak-anak ruangan, termasuk ke rekan kerja yang di pantry tadi. Dan tebak apa yang terjadi?
Saya dikacangin total. Dia sama sekali gak nengok, gak ngeliat saya, apalagi ngebales pamitan saya. Bersih. Rapi. Sebuah aksi silent treatment yang dilakukan dengan penuh kesadaran.
Ketika Negative Reciprocity Masuk ke Ruang Kerja
Jujur, refleks pertama saya pas digituin adalah pengen ketawa tapi sekaligus mikir, "Wah, ini mah dia sengaja lagi balas dendam dikit." Dan ternyata, kalau dibedah secara ilmiah, tebakan saya gak salah-salah amat. Di dalam dunia psikologi sosial, ada sebuah konsep yang dikenal sebagai Norm of Reciprocity.
Secara umum, hukum resiprositas ini mengatur dorongan alami manusia untuk membalas perlakuan orang lain. Kalau dibaikin, kita bakal balas baik (positive reciprocity). Nah, apesnya, hukum ini juga punya sisi gelap yang namanya Negative Reciprocity Bias, yaitu kecenderungan psikologis seseorang untuk membalas tindakan interpersonal yang dianggap tidak menyenangkan dengan tindakan yang setara.
Dalam kasus saya, si rekan kerja ini tampaknya menginterpretasikan lirikan mata samping saya di pantry sebagai sebuah "penolakan" atau sikap sombong. Alih-alih mengklarifikasi, otaknya langsung mengaktifkan mode counter-attack. Begitu saya pamitan pulang, dia merasa punya hak legal secara psikologis untuk melakukan pembalasan kecil: “Lo kacangin gue tadi siang, sekarang giliran lo yang gue kacangin.”
Sebuah skenario balas dendam instan berskala mikro yang dianggapnya adil demi menyeimbangkan neraca ego.
Menolak Terjebak dalam Silent War
Sadar gak sih, betapa melelahkannya hidup kalau setiap interaksi mikro di kantor harus dihitung pakai kalkulator kasta sosial kayak gini? Padahal situasinya sederhana banget: saya lagi cuci tangan, buru-buru, dan gak ada niat sama sekali buat buang muka. Tapi bagi orang yang punya endorsement kuat terhadap negative reciprocity norm, salah paham kecil bisa langsung berubah jadi bahan bakar silent war.
Menghadapi rekan kerja yang sensitif dan hobi membalas dendam kecil kayak gini sebenarnya cuma butuh satu kunci: jangan ikut masuk ke dalam permainannya. Kalau mereka milih buat main drama dan sibuk menjaga skor "siapa mengacangi siapa", ya udah, biarin mereka jadi tokoh utamanya sendirian di panggung sana.
Tugas utama saya di kantor adalah kerja profesional, cari duit, lalu pulang dengan tenang. Selama performa kerjaan saya gak keganggu, gak usah pusing mikirin kenapa si A mendadak amnesia gak mau melihat saya pas pamitan. Lagipula, energi saya terlalu berharga kalau harus habis buat meladeni overthinking orang lain yang kurang komunikasi, kan?
Jadi, kalau besok-besok kamu gak sengaja dikacangin atau dibalas sinis cuma karena salah paham kecil di pantry, senyumin aja. Anggap aja kamu lagi nonton simulasi hukum psikologi secara live dan gratis.
Kalau menurut kalian sendiri gimana? Pernah gak terjebak silent war atau kena aksi balas dendam mikro di kantor cuma gara-gara hal yang lebih gak penting dari ini?