Kolom
AI Membuat Kita Bingung Membedakan Realitas dan Kepalsuan Digital
Pernah melihat video seseorang menangis, meminta maaf, atau mengaku melakukan sesuatu, lalu baru tahu ternyata wajah dan suaranya hasil AI?
Di media sosial, konten semacam itu bisa lewat di antara video kucing, gosip selebritas, dan promosi produk. Kita menontonnya beberapa detik, merasa percaya, lalu mungkin ikut membagikannya sebelum sempat bertanya: ini benar-benar terjadi atau cuma hasil rekayasa?
Masalah AI membuat kita bingung membedakan realitas dan kepalsuan bukan sekadar soal teknologi yang makin canggih. Ada persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari kebiasaan kita mempercayai sesuatu karena terlihat meyakinkan.
Ketika gambar, suara, dan video bisa diproduksi sedemikian realistis, kemampuan membuat konten perlahan mengalahkan tanggung jawab untuk membuktikan kebenarannya.
Ketika Mata dan Telinga Tak Lagi Cukup Dipercaya
Dulu, video sering dianggap sebagai bukti kuat bahwa sebuah kejadian benar-benar berlangsung. Kalau ada rekaman seseorang mengucapkan kalimat tertentu, kita cenderung percaya bahwa orang tersebut memang mengatakannya.
Sekarang, anggapan itu mulai goyah. Teknologi AI generatif mampu menciptakan gambar, meniru suara, bahkan menyusun video yang membuat kejadian fiktif terlihat masuk akal.
Coba bayangkan sebuah video yang memperlihatkan tokoh publik menerima uang, seorang guru mengucapkan kalimat kontroversial, atau teman sendiri terlihat menghina orang lain.
Tanpa konteks yang jelas, konten seperti itu bisa memancing kemarahan, merusak reputasi, bahkan memicu pertengkaran. Orang yang menjadi sasaran mungkin harus menjelaskan bahwa video tersebut palsu, sementara potongan videonya telanjur beredar ke mana-mana.
Persoalannya, media sosial membuat proses percaya dan menyebarkan informasi berlangsung sangat cepat. Kita sering melihat konten sambil mengantre makanan, naik kendaraan umum, atau mengobrol dengan teman. Dalam situasi seperti itu, memeriksa sumber terasa merepotkan, sedangkan menekan tombol bagikan hanya membutuhkan satu sentuhan.
Ada pula dorongan sosial yang membuat kita ingin menjadi orang pertama yang mengetahui atau menyebarkan kabar. Informasi yang mengejutkan terasa lebih menarik daripada klarifikasi yang panjang. Akibatnya, konten palsu punya peluang mendapatkan perhatian sebelum fakta sempat menyusul.
AI memang mempermudah kreativitas, mulai dari membuat ilustrasi sampai membantu produksi video. Namun, teknologi yang sama juga menurunkan hambatan untuk membuat kebohongan tampak profesional. Masalahnya bukan semata-mata karena manusia mudah tertipu, melainkan karena lingkungan digital memberi hadiah berupa perhatian kepada konten yang menarik, bukan selalu kepada konten yang benar.
Deepfake dan Bahaya Budaya Percaya pada Tampilan
Peringatan mengenai persoalan ini bukan sekadar dugaan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), melalui pemberitaan resminya pada Juni 2026, menyoroti bagaimana AI dapat meniru wajah dan suara seseorang melalui teknologi deepfake, sehingga membuka peluang penyalahgunaan untuk penipuan digital.
Ancaman tersebut memperlihatkan bahwa kepalsuan berbasis AI bukan cuma bahan lelucon internet, melainkan persoalan keamanan dan kepercayaan publik.
Gambaran yang lebih spesifik juga muncul dalam penelitian yang diterbitkan di Jurnal Pekommas pada 2024. Penelitian Darman Fauzan Dhahir dan sejumlah peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji hubungan literasi digital, paparan video deepfake, dan kemampuan mengenalinya pada Generasi X di Indonesia.
Studi terhadap 199 responden itu menemukan bahwa kemampuan mengidentifikasi deepfake tergolong rendah. Temuan ini tidak bisa langsung digeneralisasi kepada semua kelompok usia, tetapi cukup menjadi pengingat bahwa pengalaman menggunakan internet belum otomatis membuat seseorang mahir mengenali manipulasi.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih rumit. Selama ini, literasi digital kerap dibayangkan sebagai kemampuan memakai aplikasi, mencari informasi, atau memahami fitur media sosial. Padahal, ketika AI mampu menghasilkan bukti visual yang menyesatkan, keterampilan teknis saja tidak cukup. Seseorang bisa sangat aktif di internet, tetapi tetap kesulitan memeriksa apakah sebuah video benar-benar berasal dari sumber yang dapat dipercaya.
Dampaknya juga menyentuh kehidupan sosial. Bayangkan seseorang dituduh mengatakan sesuatu berdasarkan rekaman palsu. Meski kebohongannya kemudian terbongkar, tidak semua orang yang melihat tuduhan awal akan membaca klarifikasinya. Nama baik bisa rusak lebih cepat daripada dipulihkan. Dalam kasus penipuan, tiruan suara anggota keluarga atau atasan bahkan bisa dimanfaatkan untuk mendesak korban mentransfer uang.
Lebih jauh lagi, kita menghadapi risiko ketika orang mulai meragukan semua bukti digital. Jika video asli dan video buatan AI sama-sama dianggap mungkin palsu, pelaku pelanggaran bisa menggunakan keberadaan teknologi ini sebagai alasan untuk menyangkal rekaman yang benar-benar autentik. Artinya, AI berpotensi menciptakan dua masalah sekaligus: membuat kita percaya pada sesuatu yang tidak pernah terjadi dan membuat kita meragukan sesuatu yang benar-benar terjadi.
Berhenti Jadi Penonton, Mulai Jadi Pemeriksa
Menghadapi situasi ini, menyuruh masyarakat agar tidak mudah percaya jelas belum cukup. Kita membutuhkan kebiasaan baru dalam mengonsumsi informasi. Saat menemukan video yang memancing emosi, langkah pertama bukan langsung menyukai, mengomentari, atau membagikannya, melainkan menahan diri sebentar.
Siapa yang pertama kali mengunggah konten itu? Apakah ada sumber tepercaya yang mengonfirmasi kejadian serupa? Apakah video tersebut memiliki konteks lengkap, atau hanya berupa potongan yang mengarahkan opini?
Pencarian gambar terbalik, pemeriksaan tanggal unggahan, dan perbandingan dengan sumber lain bisa membantu. Namun, tanda visual seperti gerakan bibir yang janggal atau ekspresi wajah yang aneh jangan dijadikan patokan tunggal.
Konten buatan AI terus berkembang, sehingga hasil pemeriksaan otomatis pun tidak selalu memberikan kepastian. Ketika menyangkut tuduhan serius, keselamatan, atau uang, verifikasi langsung melalui saluran resmi jauh lebih penting daripada sekadar menebak dari tampilan video.
Sekolah dan kampus juga perlu mengubah cara mengajarkan literasi digital. Siswa tidak cukup diminta mencari informasi dari internet atau membuat presentasi menggunakan AI.
Mereka perlu berlatih membandingkan sumber, memeriksa asal gambar, memahami manipulasi media, dan menjelaskan alasan sebuah informasi layak dipercaya. Pemanfaatan AI tetap bisa diajarkan, tetapi transparansi penggunaannya dan tanggung jawab terhadap hasilnya harus menjadi bagian dari pembelajaran.
Platform digital dan pembuat konten pun punya tanggung jawab. Pelabelan konten buatan AI, mekanisme pelaporan yang efektif, dan penanganan penyalahgunaan identitas perlu diperkuat. Beban membedakan konten asli dan palsu tidak seharusnya diserahkan sepenuhnya kepada pengguna, terutama ketika teknologi dan sistem distribusi konten ikut menentukan apa yang muncul di layar mereka.
Pada akhirnya, tantangan terbesar AI bukan membuat kita kehilangan kemampuan melihat, melainkan menggoyahkan alasan kita untuk percaya. Kita tidak harus mencurigai setiap foto, video, atau suara yang lewat di internet. Namun, kita perlu memahami bahwa sesuatu yang terlihat nyata belum tentu benar, sama seperti sesuatu yang sulit dipercaya belum tentu palsu.
Di tengah dunia yang makin mudah memproduksi kepalsuan, sikap kritis bukan berarti menjadi orang yang selalu curiga. Sikap kritis berarti memberi kebenaran kesempatan untuk diperiksa sebelum menjatuhkan penilaian. Sebab, ketika teknologi bisa menciptakan hampir semua hal yang tampak meyakinkan, kepercayaan seharusnya tidak lagi diberikan hanya karena sebuah konten terlihat nyata, melainkan karena ada alasan yang bisa dipertanggungjawabkan untuk mempercayainya.