Kolom

Jeda dari Performative Happiness: Tersenyum di Medsos, Lelah di Dunia Nyata

Jeda dari Performative Happiness: Tersenyum di Medsos, Lelah di Dunia Nyata
ilustrasi merasa lelah (Pexels/Ivan S)

Pernahkah kamu tersenyum di depan kamera, mengunggah foto dengan caption ceria, lalu kembali merasa lelah setelah menutup media sosial? Atau menjawab “aku baik-baik saja” saat orang bertanya tentang kabar, padahal pikiran sedang penuh dan hati terasa tidak tenang?

Saya pernah, dan mungkin pengalaman seperti ini juga dirasakan banyak orang saat ini. Kita terbiasa menunjukkan sisi terbaik kepada dunia, seolah-olah hidup harus selalu terlihat menyenangkan dan baik-baik saja.

Ada tuntutan untuk tetap produktif, berpikir positif, menikmati hidup, dan membuktikan bahwa semuanya berjalan baik-baik saja. Di tengah budaya media sosial yang dipenuhi pencapaian dan potret kebahagiaan, menunjukkan kesedihan terkadang terasa seperti sesuatu yang tabu.

Saya mulai bertanya-tanya, apakah kita benar-benar bahagia atau hanya terlalu terbiasa memperlihatkan kebahagiaan? Fenomena performative happiness ini dipicu ekspektasi sosial demi membangun citra tertentu, meski harus abai pada perasaan sendiri.

Media Sosial dan Tuntutan untuk Selalu Bahagia

Media sosial membuat kita semakin mudah membagikan momen kehidupan. Foto bersama teman, pencapaian karier, perjalanan liburan, hingga rutinitas sederhana bisa menjadi konten yang menarik perhatian.

Tidak ada yang salah dengan membagikan kebahagiaan semacam itu. Hanya saja, masalah muncul saat kita merasa harus selalu menampilkan sisi positif agar diterima lingkungan. Perlahan, tuntutan untuk selalu bahagia malah menghilangkan kebahagiaan itu sendiri.

Kita terbiasa mengunggah kabar baik dibanding mengakui sedang mengalami hari yang berat. Kita juga sering merasa perlu memberikan respons ceria agar tidak dianggap terlalu sensitif, kurang bersyukur, atau membawa suasana negatif.

Akibatnya, media sosial yang seharusnya menjadi ruang berekspresi justru terasa seperti panggung. Kita bukan hanya menjalani kehidupan, tapi juga sibuk memikirkan bagaimana kehidupan tersebut terlihat di mata orang lain.

Padahal, tidak semua momen harus menjadi konten. Tidak semua perasaan perlu dikemas menjadi cerita inspiratif. Ada kalanya hanya ingin menjalani hari tanpa merasa harus membuktikan bahwa hidup saya menyenangkan.

Capek Menjadi Pribadi yang Selalu Terlihat Kuat

Bagi generasi muda, tekanan untuk terlihat baik-baik saja tidak hanya datang dari media sosial. Lingkungan pertemanan, keluarga, pendidikan, dan pekerjaan juga bisa membentuk ekspektasi tersebut.

Kita ingin dianggap mandiri, dewasa, mampu menghadapi masalah, dan tidak merepotkan orang lain. Karena itu, mengakui kelelahan terkadang terasa seperti menunjukkan kelemahan dan memilih menyimpan masalah sendiri.

Ada kekhawatiran kalau bercerita tidak akan dipahami, dianggap berlebihan, atau justru menjadi bahan penilaian. Namun, terus-menerus menyembunyikan perasaan bisa membuat kita kehilangan kesempatan mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.

Kita tidak harus selalu menjadi orang yang paling kuat. Meminta bantuan bukan berarti gagal. Mengatakan sedang tidak baik-baik saja juga bukan bentuk ketidakmampuan. Menjadi manusia berarti memiliki batas, dan batas tersebut layak dihormati.

Mengambil Jeda dari Performative Happiness

Bagi saya, jeda dari performative happiness bukan berarti harus berhenti total menggunakan media sosial atau menolak semua bentuk kebahagiaan. Jeda ini lebih tentang mengembalikan kebebasan untuk merasakan emosi tanpa tekanan dan menampilkannya secara positif.

Hanya saja, mungkin kita perlu mengurangi tekanan untuk selalu membagikan momen. Cukup nikmati pengalaman secara langsung tanpa merasa setiap hal menyenangkan harus diabadikan dan diunggah.

Beranikan juga diri untuk mulai mengakui perasaan sendiri. Ketika lelah, kecewa, atau sedih, beri ruang untuk mengenali emosi tersebut tanpa langsung menyalahkan diri. Beri diri waktu beristirahat, memperlambat langkah, dan menata kembali prioritas.

Saat semua terasa berat ditanggung sendiri, tidak masalah untuk mencari bantuan. Jika tekanan emosional berlangsung lama atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, berbicara dengan tenaga profesional bisa menjadi langkah yang tepat.

Dengan mengambil jeda bukan berarti kita sudah menyerah pada keadaan. Justru, kita sedang belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih jujur dan manusiawi.

Saya Tidak Harus Selalu Bahagia untuk Menjadi Berharga

Pada akhirnya, saya ingin percaya bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh seberapa ceria penampilan, seberapa menarik unggahan media sosial, atau seberapa sering orang lain melihat kita tersenyum.

Kita tetap berharga ketika sedang lelah. Kita tetap layak disayangi ketika tidak memiliki kabar baik untuk dibagikan. Kita juga tidak kehilangan rasa syukur hanya karena sesekali merasa sedih.

Dunia mungkin akan terus menawarkan standar kebahagiaan yang terlihat sempurna. Namun, kita juga selalu punya pilihan untuk tidak menjadikan standar tersebut sebagai ukuran kehidupan pribadi.

Saya ingin mengambil jeda dari kebutuhan untuk terlihat baik-baik saja. Saya ingin bisa tertawa ketika memang bahagia, menangis ketika merasa sedih, dan beristirahat ketika membutuhkan waktu untuk diri sendiri.

Sebab, kesehatan mental bukan tentang mempertahankan citra bahagia, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan emosi secara utuh dan jujur tanpa harus berpura-pura kuat.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda