Kolom
Sekolah Mahal Bukan Jaminan Anak Bebas Bullying, Orang Tua Perlu Lakukan Ini
Menyekolahkan anak di sekolah yang mahal ternyata tidak menjamin anak kita terbebas dari tindak bullying atau perundungan. Belum lama ini, kabar soal dugaan tindakan bullying di Alexandria Islamic School yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat, menggemparkan media sosial.
Kasus tersebut mencuat saat orang tua siswa yang anaknya diduga menjadi korban kekerasan di sekolah tersebut memilih melaporkan kasus tersebut ke Polres Metro Bekasi Kota.
Korban dilaporkan mengalami sejumlah luka di bagian wajah serta dada. Sontak saja, kabar tersebut langsung menyorot perhatian publik karena terjadi di sekolah yang cukup populer dan terkenal dengan biaya pendidikannya yang mahal. Hingga saat ini, kasus tersebut masih terus bergulir dan dalam penyelidikan kepolisian.
Belum selesai dengan kasus bullying di Alexandria Islamic School tersebut, publik kembali dihebohkan dengan kasus serupa yang terjadi di Telkom University, Bandung, Jawa Barat.
Kasus perundungan ini menjadi perhatian setelah sebuah video yang merekam peristiwa tersebut viral di internet. Dalam video yang beredar, tampak seorang pria merundung pria lain di sebuah kamar asrama yang melibatkan mahasiswa semester pertama Fakultas Rekayasa Industri Telkom University.
Setelah video tersebut viral, pihak kampus kemudian menindak tegas dengan memberikan sanksi administratif. Imbasnya, salah satu pelaku dijatuhi dropout (DO) atau pemberhentian sebagai mahasiswa.
Sekolah Bergengsi Bukan Berarti Bebas Perundungan

Dua kasus tersebut menjadi pengingat bahwa biaya pendidikan yang mahal dan reputasi institusi bukan jaminan terciptanya lingkungan belajar yang aman. Sekolah atau kampus populer sekalipun tetap berpotensi menghadapi masalah perundungan jika perilaku tersebut tidak dicegah dan ditangani dengan serius.
Dari kasus ini kita juga bisa menarik kesimpulan bahwa persoalan bullying tidak cukup diselesaikan dengan memberikan sanksi kepada pelaku setelah kejadian viral. Penanganan memang penting agar korban mendapatkan keadilan, tetapi pencegahan juga harus menjadi perhatian bersama, mulai dari keluarga hingga lingkungan pendidikan.
Orang tua pun perlu memahami bahwa memilih sekolah terbaik tidak berarti seluruh tanggung jawab perlindungan anak berpindah kepada pihak sekolah. Anak tetap membutuhkan pendampingan agar mampu mengenali perundungan, berani bercerita, serta memahami cara memperlakukan orang lain dengan baik.
6 Cara Mencegah Bullying pada Anak
![Ilustrasi kasus bullying yang terjadi di lingkungan sekolah [magnific/gpointstudio]](https://media.arkadia.me/v2/articles/rizkautami/yGwZjcViWIoh1zXq4ugnX37JevxEouHO.png)
Melansir laman UNICEF.org, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu mencegah perundungan.
1. Berikan edukasi tentang bullying
Anak perlu memahami bentuk-bentuk perundungan agar bisa mengenalinya ketika terjadi pada diri sendiri maupun orang lain. Jelaskan bahwa perilaku yang menyakiti, merendahkan, atau mempermalukan orang lain tidak boleh dianggap sebagai candaan biasa.
2. Bangun komunikasi terbuka
Luangkan waktu untuk menanyakan pengalaman anak di sekolah maupun aktivitasnya di dunia maya. Jangan hanya membahas nilai atau pelajaran, tetapi tanyakan juga bagaimana perasaan mereka dan apakah ada pengalaman yang membuat mereka tidak nyaman.
3. Ajarkan anak menjadi panutan positif
Meskipun tidak menjadi korban, anak dapat mencegah perundungan dengan bersikap inklusif, penuh hormat, dan baik hati kepada teman-temannya. Jika menyaksikan perundungan, mereka bisa membela korban, memberikan dukungan, atau mempertanyakan perilaku perundungan tersebut.
4. Bantu anak membangun kepercayaan diri
Dorong anak mengikuti kegiatan yang disukai agar mereka bisa mengembangkan kemampuan dan memperluas pergaulan. Lingkungan pertemanan yang positif dapat membantu anak merasa lebih percaya diri.
5. Jadilah contoh yang baik
Orang tua perlu menunjukkan cara memperlakukan orang lain dengan hormat dan penuh empati. Anak belajar dari perilaku orang dewasa, termasuk bagaimana kita bersikap ketika melihat seseorang diperlakukan secara buruk.
6. Dampingi aktivitas daring anak
Kenali platform yang digunakan anak dan ajak mereka membicarakan risiko di dunia maya. Ingatkan bahwa perilaku menyakiti orang lain tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga bisa berlangsung melalui internet.
Mencegah bullying bukan hanya tugas sekolah atau kampus, melainkan tanggung jawab bersama. Kita tidak bisa menjamin anak sepenuhnya terhindar dari perundungan hanya dengan menyekolahkannya di sekolah yang mahal. Akan tetapi, orang tua dapat membekali mereka dengan pemahaman, kepercayaan diri, dan keberanian untuk mencari pertolongan.