Kolom

Harganya Bikin Mikir Dua Kali, Kenapa Kafe Estetik Tetap Banyak Diminati?

Harganya Bikin Mikir Dua Kali, Kenapa Kafe Estetik Tetap Banyak Diminati?
Ilustrasi Nongkrong di Kafe (magnific.com/lookstudio)

Belakangan ini, kalau kita melewati jalanan di Kediri, rasanya semakin mudah menemukan coffee shop baru di sepanjang jalan. Bahkan, dalam sebulan saja, bisa ada beberapa kafe yang menggelar grand opening. Tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini coffee shop estetik memang menjadi salah satu tempat yang banyak menarik perhatian anak muda, termasuk saya.

Seperti Gen Z pada umumnya, saya pun suka ketika melihat kafe dengan desain interior yang menarik dan instagramable. Bisa mengambil foto dari berbagai spot dan angle di tempat seperti itu juga menjadi salah satu hal yang saya sukai. Namun, sayangnya, setiap kali akan pergi nongkrong di kafe-kafe estetik seperti itu, hal pertama yang saya cari tahu adalah daftar menunya. Jujur, melihat harga makanan dan kopinya sering kali membuat saya berpikir dua kali untuk pergi.

Akan tetapi, di saat yang sama, saya juga menjadi bertanya-tanya: dengan rata-rata harga makanan dan minuman yang mencapai puluhan ribu rupiah, kenapa bisnis kafe estetik ini tetap memiliki banyak peminat, khususnya di kalangan anak muda?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya mencoba mengingat kembali beberapa kunjungan saya ke beberapa kafe yang ada di Kediri juga berbagai konten terkait hal serupa yang saya temukan di media sosial. Dari sana, saya perlahan memahami bahwa rupanya daya tarik yang mereka tawarkan pada pengunjung bukan hanya terletak pada menu-menu yang dijual saja.

Lebih dari itu, kafe-kafe tersebut juga menawarkan interior yang membuat pengunjung nyaman dan betah berlama-lama. Suasananya bisa menjadi alternatif bagi mereka yang ingin bekerja, mengerjakan tugas, atau sekadar nongkrong. Tak ketinggalan, berbagai sudut estetiknya juga menarik untuk dijadikan latar berfoto, membuat konten, dan mengabadikan momen.

Selain menjadi tempat nongkrong yang nyaman, kafe juga bisa berfungsi sebagai ruang produktif bagi anak muda. Fasilitas seperti colokan listrik, Wi-Fi, musala, dan toilet menjadi nilai tambah yang membuat sebagian pengunjung betah menghabiskan waktu di sana.

Selain berbagai fasilitas yang ditawarkan tersebut, faktor kenyamanan tentu turut menjadi pertimbangan utama bagi mereka, selain menu yang dijual. Sehingga bisa dikatakan harga yang dibayar oleh para pelanggan coffee shop bukan hanya untuk segelas kopi ataupun makanan yang mereka nikmati, tapi sudah mencakup seluruh pengalaman yang didapatkan di tempat tersebut.

Tentu, ketika harga yang dibayar sepadan dengan pengalaman yang didapatkan, hal itu tidak bisa disebut sebagai pemborosan. Namun, yang perlu diwaspadai adalah ketika tren nongkrong ini membuat seseorang memaksakan diri sekadar demi mengikuti gaya hidup atau hanya karena takut tertinggal dengan orang lain. Sebab, setiap orang memiliki alasan dan kebutuhan masing-masing saat berkunjung ke kafe. Kita tidak selalu tahu apakah mereka datang untuk bekerja, mencari suasana baru, berkumpul dengan teman, atau sekadar mengikuti tren.

Bagi saya pribadi, sesekali menikmati tempat estetik tentu tidak masalah, selama kita tetap mempertimbangkan kondisi keuangan. Menyukai tempat-tempat seperti itu juga bukan berarti kita harus selalu datang setiap kali ada kafe baru yang menarik perhatian. Ada banyak cara untuk menikmati hidup tanpa harus mengikuti setiap tren yang terus berkembang.

Di saat yang sama, kita pun tak harus menolak kesenangan yang harganya membuat kita berpikir dua kali sebelum melakukannya. Sebab, menikmati hidup dan mengelola keuangan bukanlah dua hal yang harus saling bertentangan. Selagi masih sesuai dengan kemampuan dan prioritas, sesekali menikmati kopi di tempat estetik tentu sama sekali tak jadi masalah.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda