Kolom

Gusar Biaya Transfer Mahal? Saatnya QRIS 'Menembus Piramida' Mesir!

Gusar Biaya Transfer Mahal? Saatnya QRIS 'Menembus Piramida' Mesir!
Ilustrasi transaksi pembayaran menggunakan pindai kode QR atau QRIS untuk mendukung efisiensi transaksi UMKM. (Pexels/iMin Technology)

Kabar lawatan Presiden Mesir ke Indonesia usai lawatannya ke Korea Selatan dan Malaysia kerap disambut dengan selebrasi diplomatik yang biasa-biasa saja. Media sibuk mengulas romantisme sejarah Konferensi Asia-Afrika 1955, neraca perdagangan komoditas, atau investasi migas besar. Padahal, ada dimensi yang jauh lebih membumi dan mendesak untuk dibahas: bagaimana kunjungan tingkat tinggi ini bisa langsung berdampak pada dompet para pelaku usaha kecil dan diaspora?

Sudah saatnya kita mengalihkan lensa pemberitaan dari korporasi raksasa ke denyut nadi ekonomi kerakyatan. Di sinilah urgensi integrasi sistem pembayaran digital lintas batas (cross-border QR) antara Indonesia dan Mesir menemukan momentumnya.

Menembus Batas: Mengapa UMKM Kita Masih "Terkunci" di Negeri Piramida?

Bayangkan betapa besarnya potensi pasar relasi Indonesia-Mesir. Di Kairo, ribuan mahasiswa Indonesia serta diaspora hidup berdampingan dengan jutaan penduduk lokal. Mereka adalah pasar potensial bagi produk-produk kuliner, rempah, kopi, hingga kriya khas Nusantara. Namun, apa kendala terbesarnya? Biaya transaksi lintas negara yang masih mencekik.

Selama ini, transaksi perdagangan skala kecil atau pengiriman dana kerap harus melalui jalur perbankan konvensional yang memakan biaya konversi mata uang berlapis dan waktu verifikasi yang lama. Bagi pebisnis skala mikro, hambatan administratif dan finansial ini seperti tembok tinggi yang memisahkan mereka dari pasar Afrika Utara. Jika urusan diplomatik tingkat tinggi gagal menyentuh persoalan akar rumput ini, maka lawatan kepala negara hanya akan menjadi seremoni tanpa jejak di dompet rakyat.

Melirik Peluang D-8: Menjadikan QRIS Bahasa Universal Baru

Mesir bukan negara sembarangan dalam peta geopolitik ekonomi berkembang; ia adalah salah satu kekuatan utama di kelompok negara berkembang D-8 (Developing-8). Indonesia sendiri sudah sukses memperluas ekosistem pembayaran digital lewat QRIS ke beberapa negara Asia Tenggara. Kenapa lompatan yang sama tidak digelorakan ke tanah Para Firaun?

Jika Bank Indonesia dan Bank Central Mesir mau duduk bersama mempercepat standardisasi teknis pembayaran digital lintas batas, dampaknya akan luar biasa. Mahasiswa kita di Kairo bisa berbelanja atau memasarkan produk UMKM lokal secara instan, sementara eksportir kecil di tanah air bisa menerima pembayaran dari pembeli di Mesir semudah memindai sebuah kode batang (barcode), tanpa pusing memikirkan kurs dolar yang fluktuatif atau potongan biaya transfer yang tidak masuk akal.

Saatnya Diplomasi Menginjak Bumi

Lawatan kenegaraan seharusnya tidak hanya berhenti pada jabat tangan hangat di Istana Kepresidenan. Sudah saatnya diplomasi modern diukur dari seberapa mudah ia memangkas birokrasi transaksi rakyat kecil.

Jika QRIS sukses menghubungkan kantong-kantong ekonomi UMKM Indonesia dengan Mesir, maka kita sedang menulis ulang sejarah hubungan bilateral yang tidak lagi elitis, melainkan inklusif dan membumi.

Bagaimana menurutmu? Apakah sudah saatnya dompet digital kita mendunia hingga menembus piramida Mesir, atau kita akan terus terjebak dalam romantisme diplomasi seremonial?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda