Kolom

Dilema Usia 20-an: Ingin Menikmati Masa Muda, tapi Takut Kehabisan Uang

Dilema Usia 20-an: Ingin Menikmati Masa Muda, tapi Takut Kehabisan Uang
Ilustrasi Menikmati Masa Muda (magnific/wirestock)

"Uang bisa dicari, izin orang tua bisa dibicarakan, tapi masa muda nggak akan bisa terulang kembali."

"Mending nyesel keluar uang daripada nggak dapet pengalaman."

"Mending nyesel beli daripada mati penasaran."

Adakah di antara kalian yang merasa familiar dengan kalimat-kalimat di atas, Sobat Yoursay?

Saya menemukan kalimat tersebut ketika tanpa sengaja melihat konten traveling anak muda di media sosial, baik di unggahan maupun kolom komentar. Sekilas, nasihat itu terdengar masuk akal dan menyenangkan, terutama bagi anak muda yang ingin mencoba berbagai pengalaman baru dan menikmati masa muda sebaik mungkin.

Saat pertama kali mendengarnya, saya sebagai salah satu Gen Z pun sempat mengamini nasihat itu dan berpikir, "Iya, juga. Masa muda cuma sekali, kenapa aku nggak mencoba menikmatinya dengan cara yang sama seperti mereka?" 

Namun, begitu kembali melihat ke diri sendiri, saya mulai merasa ragu. Ada sebagian diri saya yang seolah berteriak, "Sadar! Kamu belum jadi orang have!" Haha. Ironis sekali memang. Sebenarnya nggak ada keharusan untuk menunggu jadi orang kaya agar bisa menikmati hidup dan traveling ke sana kemari. Saya sendiri juga berharap suatu hari nanti bisa melakukannya tanpa terlalu khawatir soal biaya. Hanya saja, ketika dihadapkan pada keterbatasan, rasanya pilihan untuk menyenangkan diri seolah juga turut menyempit.

Di media sosial, saya menemukan sebuah pemikiran dari Gen Z yang cukup membekas. Intinya kurang lebih seperti ini: "Umur nggak ada yang tahu, jadi nikmati saja hidupmu hari ini." Nggak ada yang salah dari pernyataan itu. Namun, hal itu bisa menjadi masalah ketika kalimat tersebut dijadikan alasan untuk membenarkan setiap pengeluaran, meskipun keputusan itu berisiko memicu stres finansial atau bahkan membuat seseorang terlilit utang.

Sebagai anak muda usia 20-an, sangat wajar rasanya kalau kita ingin mencari berbagai pengalaman, mencoba hal baru, membeli sesuatu yang diinginkan, atau sekadar sesekali memanjakan diri. Di masa muda yang hanya datang sekali seumur hidup ini, sangat disayangkan jika hanya kita habiskan dengan bekerja, memenuhi kebutuhan, dan menabung.

Akan tetapi, di sisi lain, ada masa depan yang tak bisa diabaikan begitu saja. Memang benar, hidup hanya sekali dan masa muda tak akan bisa diulang kembali. Meskipun begitu, hidup tetap menyimpan berbagai kemungkinan yang perlu kita antisipasi. Mulai dari kebutuhan mendadak, penghasilan yang belum tentu stabil, sampai keinginan untuk memiliki tabungan agar hidup terasa lebih aman. Di usia 20-an ini, saya akui bahwa menyenangkan diri hari ini memang bisa terasa melegakan. Namun, bagaimana jika esok mendadak kita membutuhkan uang yang sudah telanjur keluar demi kesenangan sesaat itu?

Pertanyaan itu bukan sesuatu yang bisa saya jawab dengan mudah. Sebab saat ini pun rasanya saya juga sedang menghadapi dilema serupa.

Sembari merenungkan jawabannya, di sini kita akan kembali ke pertanyaan utama dari artikel ini. Antara menyesal mengeluarkan uang dan menyesal karena nggak punya tabungan, mana sih yang sebenarnya terasa lebih menakutkan bagi anak muda?

Jika kita pikirkan lagi, sebenarnya kedua hal itu sama-sama punya risiko masing-masing. Apabila kita mengeluarkan uang untuk kesenangan dan mencoba hal-hal baru, kita mungkin bisa memperoleh pengalaman berharga dari sana. Namun, di saat yang sama, kita juga harus siap menghadapi konsekuensi dompet yang semakin menipis dan saldo yang berkurang secara signifikan.

Sebaliknya, ketika kita memilih untuk menabung tetap ada konsekuensi yang mengikuti. Soal finansial mungkin kita bisa merasa tenang karena ada tabungan. Namun, jika terus menunda kesenangan demi menabung, kita juga berisiko melewatkan kesempatan untuk menikmati berbagai pengalaman selama masa muda.

Sebagai anak muda, wajar jika kita merasa sulit untuk memilih salah satunya secara mutlak. Bagaimanapun kedua pilihan tersebut sama-sama memiliki sisi positif dan negatifnya. Karena itulah, mungkin di sini kita perlu mengambil jalan tengah dengan mencari cara untuk membuat keputusan tanpa harus terus dihantui rasa bersalah ketika mengeluarkan uang untuk diri sendiri maupun menyimpannya. Kita pun perlu menyadari bahwa di usia 20-an ini, kita mungkin menginginkan banyak hal, tapi terkadang kita memang tidak bisa mendapatkan semuanya sekaligus.

Sementara itu, berkaitan dengan masalah menikmati hidup, menurut saya kita tetap bisa melakukannya dengan cara sederhana yang sesuai dengan kondisi finansial. Mungkin bisa dengan trip singkat, melakukan hal yang kita sukai, menikmati makanan favorit, atau sekadar jalan-jalan menikmati suasana kota sendiri.

Akhirnya, tidak ada keharusan bagi kita untuk mengikuti tren maupun standar orang lain. Jadi, boleh saja jika kita punya cara sendiri untuk menikmati masa muda. Sebab menikmati masa muda bukan berarti menghabiskan uang yang kita miliki tanpa pertimbangan, dan menabung pun tidak berarti kita harus menunda semua kesenangan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda