Kolom

E-book Bukan Solusi: Menyoal Keterjangkauan Buku di Tengah Digitalisasi

E-book Bukan Solusi: Menyoal Keterjangkauan Buku di Tengah Digitalisasi
Ilustrasi buku (magnific)

Perdebatan tentang mahalnya buku fisik di media sosial kerap memperlihatkan dua cara pandang yang berbeda. Di satu sisi, ada pembaca yang mempertanyakan mengapa buku semakin sulit dijangkau. Di sisi lain, muncul tanggapan bahwa kebutuhan membaca sebenarnya dapat dipenuhi melalui e-book, perpustakaan, atau layanan seperti iPusnas.

Perbedaan respons ini sekilas hanya terlihat sebagai masalah preferensi, tetapi sesungguhnya menyimpan pertanyaan yang lebih mendasar tentang bagaimana masyarakat memahami akses terhadap literasi.

Salah satu hal yang perlu dibedakan dalam diskusi tersebut adalah akses terhadap bacaan dan keterjangkauan untuk memiliki buku. Keduanya berkaitan, tetapi bukan hal yang sepenuhnya sama.

Seseorang mungkin bisa membaca buku melalui layanan digital, tetapi bukan berarti ia tidak ingin memiliki buku fisik. Setiap orang memiliki kenyamanan dan kebutuhannya masing-masing dalam membaca. Oleh karena itu, e-book dan perpustakaan memang bisa menjadi alternatif, tetapi tidak selalu bisa menggantikan buku fisik.

Ketika keluhan tentang mahalnya buku dijawab dengan saran untuk beralih ke bacaan digital, pembahasan justru berisiko melenceng dari masalah utamanya. Alternatif tersebut mungkin membantu sebagian orang tetap bisa membaca, tetapi tidak menjawab pertanyaan mengapa buku fisik sulit dijangkau.

Harga Buku Mahal, tapi Pembaca yang Disuruh Mengalah

Setiap kali ada yang mengeluhkan harga buku fisik di media sosial, saran yang muncul sering kali itu-itu saja. Baca e-book, pinjam di perpustakaan, atau gunakan iPusnas. Seolah-olah masalah buku mahal bisa selesai hanya dengan berpindah ke pilihan lain.

Padahal, orang yang mengeluhkan harga buku belum tentu tidak tahu alternatif tersebut. Bisa jadi, mereka sudah tahu, tetapi tetap ingin membeli buku fisik.

Masalahnya, saran seperti ini justru membuat pembahasan bergeser. Alih-alih membicarakan mengapa harga buku sulit dijangkau, kita malah sibuk mencari cara agar pembaca bisa menerima keadaan tersebut. Pembaca diminta beradaptasi, mencari alternatif, atau mengubah kebiasaannya. Sementara itu, pertanyaan tentang mengapa buku mahal justru tidak banyak dibahas.

Padahal, memberikan alternatif tidak sama dengan menyelesaikan masalah. Ketika harga makanan naik, misalnya, kita tidak bisa terus-menerus menyuruh orang mengganti makanan yang ingin mereka beli tanpa mempertanyakan penyebab kenaikan harganya.

Bukan berarti saran untuk membaca e-book atau memanfaatkan perpustakaan itu salah. Keduanya tetap berguna bagi banyak orang. Namun, alternatif tersebut seharusnya menjadi tambahan pilihan, bukan alasan untuk mengabaikan mahalnya harga buku.

Tidak Semua Buku Nyaman Dibaca Lewat Layar

Orang membeli buku bukan hanya karena ingin membaca isinya. Ada yang ingin mengoleksi buku favorit, mencatat langsung di halamannya, membaca tanpa menatap layar, atau sekadar menikmati sensasi membalik halaman. Bagi sebagian orang, pengalaman tersebut merupakan bagian dari kesenangan membaca yang tidak mereka dapatkan dengan cara yang sama melalui e-book.

Memang, isi buku bisa saja sama, tetapi pengalaman membacanya tidak sama. Membaca melalui ponsel juga berarti berhadapan dengan perangkat yang digunakan untuk banyak distraksi. Bagi sebagian pembaca, buku fisik justru menjadi cara untuk menikmati bacaan sekaligus mengurangi screen time.

Di sinilah pemerintah juga harus andil. Harga buku tidak terbentuk begitu saja. Ada biaya pencetakan, distribusi, dan berbagai kebutuhan lain dalam proses penerbitan. Kebijakan perpajakan juga layak dievaluasi untuk melihat apakah ada beban yang bisa dikurangi agar harga buku lebih terjangkau.

Jika memang diperlukan, pemerintah dapat mempertimbangkan subsidi atau program bantuan yang mendukung pembelian dan distribusi buku. Perpustakaan dan layanan digital tetap perlu diperkuat, tetapi upaya tersebut seharusnya berjalan beriringan dengan usaha membuat buku fisik lebih mudah dibeli.

Kalau kita ingin budaya membaca tumbuh, jangan hanya bertanya bagaimana masyarakat bisa membaca dengan cara yang lebih murah. Kita juga perlu bertanya apa yang bisa dilakukan agar buku tidak menjadi barang yang sulit dibeli.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda