Kolom
Bukan Hanya Salah El Nino: Mengurai Akar Krisis Karhutla Kalimantan
Video kebakaran hutan di Kalimantan kini kembali ramai menghiasi lini masa media sosial kita. Asap yang mengepul dan lahan yang menghitam tersebut sering kali langsung dikaitkan dengan fenomena El Nino. Seolah-olah hanya satu fenomena alam tersebutlah yang salah, padahal fokus yang berlebihan pada El Nino membuat kita mengabaikan kompleksitas masalah yang jauh lebih mendalam di balik siklus tahunan ini.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat sebenarnya sudah terjadi sejak awal Januari 2026. Hingga pembaruan data per 28 September, luas indikatif lahan yang terbakar telah mencapai sekitar 38.310 hektare. Rentang waktu yang panjang ini menjadi pengingat bahwa situasi tersebut adalah sebuah tantangan lingkungan yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.
Memang tidak dipungkiri, faktor cuaca ekstrem turut memicu kondisi ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa intensitas El Nino yang sangat kuat sepanjang periode September 2026 telah meningkatkan kondisi kering di berbagai wilayah Indonesia.
Pantauan satelit bahkan mendeteksi adanya 627 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan. Kondisi atmosfer yang kering ini membuat api berpotensi bertahan lebih lama, terutama pada area lahan gambut yang membutuhkan perhatian dan penanganan ekstra.
Sebagai fenomena iklim yang berulang, dampak El Nino terhadap penurunan curah hujan memang sudah lama dipetakan. Namun, luasnya dampak kebakaran hutan tidak hanya ditentukan oleh faktor cuaca semata. Ada variabel lain yang saling berkaitan, seperti ketersediaan bahan bakar di lapangan, kondisi riil lahan, sumber awal penyalaan api, hingga kesiapan sistem pencegahan dini.
Menitikberatkan masalah hanya pada El Niño tentu kurang berimbang, mirip seperti menyalahkan curah hujan saat banjir bandang menyerang tanpa mengevaluasi fungsi tata kelola lahannya.
Tantangan di lapangan pun semakin kompleks akibat karakteristik lahan gambut. Sifat unik gambut memungkinkan api menjalar di bawah permukaan tanah, sehingga aktivitas pembakaran sering kali tidak kasatmata dari luar.
Kondisi inilah yang menurut penjelasan BMKG membuat proses deteksi dini serta upaya pemadaman menjadi lebih menantang. Api yang terlihat sudah mereda di permukaan belum tentu menjadi jaminan bahwa bara di dalam tanah telah sepenuhnya padam.
Di samping kendala teknis tersebut, aspek tata kelola lahan menjadi bagian penting yang terus disempurnakan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) memberikan catatan mengenai pentingnya evaluasi tata kelola perizinan serta penegakan tanggung jawab korporasi di area rawan.
Langkah-langkah hukum yang kini berjalan, termasuk laporan terhadap sejumlah perusahaan perkebunan atas dugaan pembiaran karhutla, menjadi momentum berharga untuk memperketat pengawasan aktivitas di kawasan konsesi demi mewujudkan solusi lingkungan yang berkelanjutan.
Dampak kebakaran hutan nyatanya melampaui persoalan pepohonan dan satwa liar, karena kabut asap yang ditimbulkan langsung mempengaruhi kualitas udara, kesehatan, kegiatan sekolah, hingga mobilitas harian warga.
Merespons situasi ini, kelompok masyarakat di Kalimantan Barat yang tergabung dalam Nafas Kalbar mengambil langkah konstitusional dengan mengajukan gugatan hukum terkait penanganan krisis asap. Meski prosesnya masih berjalan dan perlu diuji lebih lanjut di pengadilan, langkah ini menjadi bagian dari dinamika kepedulian publik yang sehat dalam mengawal ruang hidup yang bersih.
Di sisi lain, upaya penanggulangan oleh pemerintah terus berjalan mulai dari pemadaman api, pengerahan personel, hingga antisipasi kemarau panjang. Agar hasilnya lebih optimal, langkah respons cepat ini idealnya berjalan beriringan dengan penguatan tata kelola di lapangan, seperti pengawasan wilayah konsesi, penegakan regulasi secara konsisten, pemulihan ekosistem gambut, serta evaluasi berkala terhadap kebijakan penggunaan lahan.
Suatu hari nanti, fenomena bencana kebakaran ini mungkin akan berkurang dan asap akan menipis seiring datangnya musim hujan. Namun, keberhasilan penanganan karhutla sejatinya bisa diukur dari konsistensi kita dalam memulihkan alam dan mencegah potensi kebakaran di masa depan.
Faktor alam seperti El Nino memang memberikan tantangan ekstra, namun komitmen bersama dari sisi tata kelola manusia tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian hutan kita.