Kolom

Pendidikan Indonesia Abad 21: Bukan Zamannya Lagi Gonta-ganti Kurikulum

Pendidikan Indonesia Abad 21: Bukan Zamannya Lagi Gonta-ganti Kurikulum
Ilustrasi Pelajar SMA (Pexels/@airlangga)

Pendidikan Indonesia terus mencari formula untuk menjawab tantangan zaman. Kurikulum diperbarui, teknologi digital masuk ke ruang kelas, dan berbagai program dirancang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, di tengah perubahan tersebut, ada pertanyaan mendasar yang kerap luput: apakah pendidikan kita benar-benar mempersiapkan manusia untuk memahami persoalan zamannya, atau sekadar melatih mereka memenuhi tuntutan sistem? Pertanyaan ini pernah menjadi perhatian Soedjatmoko, seorang intelektual Indonesia yang pemikirannya tetap relevan untuk dibaca kembali.

Soedjatmoko, yang akrab disapa Bung Koko, dikenal sebagai pemikir dengan reputasi internasional. Ia pernah menjadi anggota delegasi pengamat Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1947, kemudian menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat pada 1968–1971. Setelah itu, ia terlibat dalam Ford Foundation dan pada 1980 diangkat menjadi rektor Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa di Tokyo. Pengalaman lintas negara dan kedekatannya dengan berbagai persoalan sosial membuat pandangannya tentang masa depan Indonesia patut diperhitungkan.

Salah satu pemikirannya yang penting bagi dunia pendidikan tertuang dalam makalah Manusia Indonesia Menjelang Abad ke-21 dan Pendidikannya, yang disampaikan dalam kuliah stadium general di IKIP Jakarta pada 2 Desember 1989. Jauh sebelum abad ke-21 benar-benar dimulai, Soedjatmoko telah membicarakan persoalan kependudukan, tenaga kerja, kemiskinan, ekonomi internasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemanasan bumi, serta hubungan antara pendidikan dan masyarakat.

Luasnya persoalan yang ia bahas menunjukkan bahwa pendidikan tidak dapat dipandang sebagai urusan sekolah semata. Pendidikan berkaitan langsung dengan kemampuan masyarakat menghadapi perubahan ekonomi, perkembangan teknologi, ketimpangan sosial, dan krisis lingkungan. Dengan kata lain, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari angka kelulusan, nilai ujian, atau banyaknya lulusan perguruan tinggi. Pendidikan juga harus dinilai dari kemampuannya membentuk manusia yang sanggup memahami persoalan, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas dampak tindakannya.

Tantangan pendidikan bukan sekadar penguasaan teknologi Kini, teknologi digital dan kecerdasan buatan mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan memperoleh informasi. Sebagian pekerjaan mengalami perubahan, sementara keterampilan tertentu menjadi semakin penting. Dalam situasi seperti ini, pendidikan yang hanya menekankan hafalan dan kepatuhan terhadap jawaban baku berisiko membuat peserta didik kesulitan menghadapi persoalan yang belum pernah mereka temui.

Namun, solusi terhadap tantangan tersebut bukan sekadar memasukkan perangkat digital atau kecerdasan buatan ke sekolah. Teknologi hanyalah alat. Tanpa kemampuan berpikir kritis, literasi informasi, kreativitas, dan pertimbangan etis, teknologi bahkan dapat memperbesar masalah, mulai dari penyebaran informasi keliru hingga ketergantungan pada jawaban instan.

Pemikiran Soedjatmoko mengingatkan bahwa pilihan teknologi harus berkaitan dengan kebutuhan manusia dan kondisi masyarakat. Indonesia tidak semestinya hanya menjadi konsumen teknologi yang dikembangkan negara lain. Kita perlu membangun kemampuan untuk memahami, mengadaptasi, dan mengembangkan teknologi sesuai dengan kebutuhan lokal, tanpa mengabaikan dampaknya terhadap tenaga kerja, lingkungan, dan kehidupan sosial.

Pendidikan harus berangkat dari persoalan nyata masyarakat Persoalan lain yang tak kalah penting ialah kesenjangan kesempatan pendidikan. Anak-anak yang tumbuh dengan akses internet stabil, fasilitas memadai, dan dukungan keluarga tentu memiliki pengalaman belajar berbeda dari mereka yang menghadapi keterbatasan ekonomi dan infrastruktur. Menuntut hasil yang seragam tanpa memperhitungkan perbedaan kondisi tersebut berisiko menyamarkan ketimpangan di balik angka-angka capaian pendidikan.

Karena itu, pembenahan pendidikan tidak cukup dilakukan melalui pergantian kurikulum. Negara perlu memastikan pemerataan guru berkualitas, fasilitas belajar, akses teknologi, dan dukungan bagi peserta didik dari keluarga kurang mampu. Pada saat yang sama, pembelajaran harus memberi ruang bagi siswa untuk mengenali persoalan di lingkungannya, mengembangkan pengetahuan lokal, serta menghubungkan ilmu dengan kehidupan sehari-hari.

Gagasan semacam ini penting karena pembangunan manusia tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial dan ekologisnya. Pendidikan tentang teknologi, misalnya, perlu berjalan bersama pemahaman tentang etika, lingkungan, dan tanggung jawab sosial. Kecakapan kerja juga harus disertai kemampuan beradaptasi agar lulusan tidak hanya siap memasuki pasar kerja hari ini, tetapi mampu belajar kembali ketika keadaan berubah.

Tentu saja, pemikiran yang lahir pada 1989 tidak dapat diterapkan begitu saja tanpa mempertimbangkan perubahan zaman. Dunia hari ini menghadapi persoalan baru, termasuk kecerdasan buatan generatif dan dinamika ekonomi digital. Akan tetapi, nilai penting pemikiran Soedjatmoko justru terletak pada cara ia menghubungkan pendidikan dengan persoalan manusia, masyarakat, teknologi, dan masa depan.

Sudah saatnya gagasan tersebut tidak berhenti sebagai bahan bacaan sejarah intelektual. Pemikirannya dapat menjadi salah satu rujukan dalam menyusun kebijakan pendidikan dan menentukan arah pengembangan teknologi di Indonesia. Bukan untuk mengulang rumusan masa lalu, melainkan untuk menguji apakah kebijakan hari ini benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, pendidikan yang bermutu bukanlah pendidikan yang sekadar menghasilkan lulusan dengan nilai tinggi atau tenaga kerja yang siap memenuhi kebutuhan industri. Pendidikan harus membentuk manusia yang mampu berpikir mandiri, memahami perubahan, menghargai sesama, dan mempertanggungjawabkan pilihannya. Jika pendidikan Indonesia ingin menyiapkan masa depan, membaca kembali Soedjatmoko bukan sekadar mengenang seorang pemikir besar. Itu merupakan ajakan untuk memeriksa kembali tujuan pendidikan kita: membangun manusia yang mampu menghadapi zaman, bukan sekadar menyesuaikan diri dengannya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda