Kolom

Jebakan Halusinasi Kemenangan, Mengapa Judi Online Bikin Orang Ketagihan?

Jebakan Halusinasi Kemenangan, Mengapa Judi Online Bikin Orang Ketagihan?
Warga melihat iklan judi online melalui gawainya (Antara/Aprillio Akbar).

Pernah punya teman yang berkali-kali kalah judi online, mengeluh kehabisan uang, bahkan sampai terlilit pinjol, tetapi beberapa hari kemudian malah deposit lagi? Ia sebenarnya tahu risikonya, bahkan sudah merasakan sendiri bagaimana uang hasil kerja kerasnya lenyap begitu saja. Namun, tetap saja hal itu tidak membuatnya kapok untuk berhenti. 

Perilaku ini mungkin terlihat tidak logis, dan kita kerap menganggapnya sebagai akibat kurang berpikir panjang. Padahal, ada mekanisme psikologis yang bekerja di balik kecanduan judi itu. Memahami sisi ini membantu kita melihat mengapa seseorang bisa terjebak di siklus yang sama, meski dia sadar hal itu merugikan dirinya sendiri.

Jebakan yang Bernama Halusinasi Kemenangan

Judi online menawarkan permainan berbasis sistem dengan peluang yang sudah ditentukan. Pemain sebenarnya tidak punya kendali penuh atas hasil permainan, sementara penyelenggara bebas merancang mekanisme dan keuntungan bisnis mereka sendiri.

Uniknya, anggapan bahwa kita bisa membaca pola atau menemukan rumus kemenangan tertentu seringkali memicu illusion of control, sebuah keyakinan keliru bahwa kita bisa mengendalikan hasil acak di layar game tersebut.

Kondisi ini tercermin dari data PPATK yang mencatat perputaran dana judi online pada 2025 mencapai Rp286,84 triliun. Angka ini sebenarnya turun sekitar 20 persen dibanding tahun sebelumnya yang menyentuh angka Rp359,81 triliun. 

Meski menurun, tetap saja nilainya tergolong besar dengan 12,3 juta orang yang tercatat telah melakukan deposit sepanjang tahun itu. Data tersebut memperlihatkan bahwa tantangan judi online masih nyata dan tidak serta-merta selesai hanya karena perputaran dananya menurun saja.

Dopamin dan Sensasi Nyaris Menang

Mengapa seseorang tetap bermain meski sudah berkali-kali kalah? Jawabannya ada pada sistem reward di otak kita. Di sini, dopamin bekerja sebagai senyawa kimia yang mengatur motivasi dan rasa penasaran kita terhadap sebuah reward. Dalam judi online, ketidakpastian hasil inilah yang justru membuat otak terus menantikan momen kemenangan.

Sebagai contoh, bayangkan seseorang bermodal Rp50 ribu lalu langsung menang besar di awal permainan. Pengalaman manis ini akan membekas dan memicu harapan bahwa keberuntungan serupa pasti datang lagi. 

Akibatnya, saat kalah, ia merasa cukup menambah depositnya untuk mengembalikan modal yang hilang. Bahkan ketika hasilnya nyaris menang, muncul keyakinan kuat bahwa kemenangan berikutnya sudah di depan mata, padahal semuanya hanya ilusi belaka.

Penelitian yang terindeks di PubMed menemukan bahwa “pengalaman nyaris menang” inilah yang justru bisa meningkatkan keinginan untuk terus bermain, karena mengaktifkan area otak yang memproses rasa senang. 

Jika terjadi berulang kali, pola ini lama-kelamaan dapat mempengaruhi cara kita mengambil keputusan. Secara logis, seorang pemain mungkin tahu persis risikonya, tetapi ia tetap kesulitan menahan dorongan untuk kembali bermain. Kondisi inilah yang secara perlahan mengurangi kemampuan seseorang untuk mengendalikan perilakunya sendiri, sehingga timbul adiksi di dalam kepalanya tanpa ia sadari.

Berhenti Membutuhkan Dukungan

Pemblokiran situs memang tetap diperlukan, tetapi langkah ini perlu dibarengi dengan penanganan kesehatan serta perlindungan finansial. Kementerian Kesehatan sendiri mengakui gangguan perjudian sebagai kondisi yang memerlukan penanganan profesional. 

Di sinilah terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT) berperan untuk membantu pasien mengenali pola pikir yang keliru, sekaligus membangun respons yang lebih sehat terhadap dorongan berjudi.

Bagi mereka yang sudah terjebak, langkah awal bisa dimulai dengan mencoba menghentikan depo, membatasi akses ke platform judi, meminta bantuan orang terpercaya, hingga mencari bantuan dari tenaga kesehatan jiwa. 

Jika di tengah proses pemulihan sempat kembali bermain, itu bukan alasan untuk menyerah. Dukungan yang tepat dan penanganan yang konsisten akan selalu membantu mereka untuk melangkah lagi.

Sementara itu, bagi yang belum pernah berjudi, sebaiknya tidak perlu mencoba hanya karena penasaran. Judi online pada dasarnya menjual harapan lewat ketidakpastian, padahal taruhannya bisa berupa hilangnya materi, rusaknya hubungan, hingga terganggunya ketenangan hidup. 

Oleh karena itu, kita perlu berhenti menganggap kecanduan ini sekadar sebagai kebodohan pribadi, dan mulai fokus membangun sistem perlindungan bersama agar semakin sedikit orang yang terjebak di dalamnya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda