Kolom
Capek Ditanya Kapan Nikah? Ini Alasan Main Aplikasi Kencan Malah Terasa Kayak Interview Kerja
Sekarang dekat sama siapa? Pertanyaan sederhana itu kadang cukup membuat seseorang ingin menghilang dari tongkrongan, apalagi ketika teman-temannya mulai meledek status jomlo. Demi membuktikan bahwa hidup asmaranya baik-baik saja, sebagian anak muda akhirnya membuka aplikasi kencan, memasang foto terbaik, lalu berharap menemukan seseorang yang cocok. Namun, perjalanan mencari pasangan lewat aplikasi kencan justru bisa terasa seperti mengikuti seleksi kerja yang tidak ada habisnya.
Belum sempat merasa nyaman, sudah muncul pertanyaan tentang pekerjaan, penghasilan, rencana menikah, hubungan masa lalu, sampai kesiapan berkomitmen. Semua terasa seperti wawancara untuk posisi pasangan hidup. Masalahnya, ketika pencarian jodoh berubah menjadi ajang pembuktian kelayakan diri, yang dipertaruhkan bukan cuma kecocokan, melainkan juga harga diri.
Aplikasi Kencan dan Tekanan untuk Segera Punya Pasangan
Aplikasi kencan emang di design untuk berkenalan dengan orang baru. Cukup menggeser layar, membaca profil, lalu mengirim pesan, seseorang bisa membuka peluang hubungan tanpa harus bertemu langsung sejak awal. Namun, kemudahan tersebut juga membawa kebiasaan baru: menilai orang berdasarkan informasi singkat dan memutuskan kecocokan sebelum benar-benar mengenalnya.
Foto, pekerjaan, pendidikan, hobi, hingga deskripsi singkat di profil menjadi semacam CV romantis. Pengguna seolah harus merangkum kepribadiannya dalam beberapa baris, kemudian berharap lolos seleksi orang yang bahkan belum pernah ditemui. Kalau pesan tidak dibalas atau percakapan berhenti mendadak, muncul pertanyaan yang melelahkan: apa yang kurang dari diri sendiri?
Tekanan itu makin terasa ketika status lajang dianggap sebagai bahan candaan. Dalam obrolan keluarga, pertemuan teman lama, atau acara pernikahan, pertanyaan tentang pasangan kerap datang seperti agenda wajib. Candaan yang katanya sekadar bercanda bisa membuat seseorang merasa tertinggal, seolah hidupnya belum lengkap hanya karena belum punya pacar.
Dari sini, motivasi menggunakan aplikasi kencan bisa bergeser. Awalnya ingin mengenal orang yang cocok, tetapi lama-lama muncul keinginan untuk membuktikan bahwa diri sendiri juga menarik dan layak dipilih. Pasangan seakan menjadi tanda keberhasilan sosial, sementara kesendirian diperlakukan seperti rapor merah yang harus segera diperbaiki.
Ketika Pencarian Jodoh Menyerupai Seleksi Kerja
Cara kerja aplikasi kencan ikut memperkuat kebiasaan menilai orang secara cepat. Pilihan yang terus berganti membuat pengguna mudah membandingkan satu profil dengan profil lain. Ketika selalu ada kemungkinan menemukan orang yang dianggap lebih menarik, proses mengenal seseorang berisiko berubah menjadi pemeriksaan daftar kriteria.
Pekerjaan harus menjanjikan, penampilan mesti sesuai selera, komunikasi wajib lancar, dan rencana masa depan perlu terlihat matang. Sebagian kriteria tentu masuk akal, terutama jika menyangkut nilai hidup dan kesiapan membangun hubungan. Persoalannya muncul ketika semua hal tersebut dipakai untuk mengukur nilai seseorang secara keseluruhan, bukan sebagai bahan untuk memahami kecocokan.
Gambaran ini sejalan dengan pembahasan dalam Jurnal Psikologi Sosial Universitas Indonesia mengenai relasi sosial dan cara individu memahami dirinya melalui lingkungan sosial. Penilaian dari orang lain dapat berpengaruh terhadap cara seseorang memandang dirinya sendiri. Dalam konteks kencan digital, respons berupa kecocokan, penolakan, atau pesan yang tak terbalas berpotensi ikut membentuk penilaian pengguna terhadap daya tarik dirinya.
Artinya, pengalaman buruk di aplikasi kencan tidak otomatis membuktikan seseorang kurang menarik atau tidak pantas dicintai. Bisa saja komunikasi memang tidak cocok, kebutuhan kedua pihak berbeda, atau salah satunya tidak siap melanjutkan hubungan. Sayangnya, penolakan sering terasa lebih personal ketika seseorang sudah menggantungkan rasa percaya dirinya pada penerimaan orang lain.
Ada pula persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan anak muda tuntutan untuk terlihat mapan ketika kondisi ekonomi belum tentu stabil. Biaya hidup, pekerjaan yang belum pasti, dan tekanan untuk merencanakan masa depan dapat membuat pembicaraan soal penghasilan terasa sensitif. Dalam hubungan yang serius, membicarakan kondisi finansial memang penting. Namun, jika percakapan itu berubah menjadi adu pencapaian, orang yang masih berjuang bisa merasa harus menyembunyikan keadaan sebenarnya agar tidak langsung dicoret dari daftar kandidat.
Di titik ini, aplikasi kencan seperti ruang wawancara tanpa standar yang jelas. Tidak ada deskripsi pekerjaan yang menjelaskan apa yang dicari, tidak ada jaminan penilaian dilakukan secara adil, dan tidak ada kepastian bahwa kandidat yang ditolak memang tidak layak. Ada kalanya dua orang sekadar tidak cocok, tetapi pengalaman tersebut telanjur diterjemahkan sebagai kegagalan pribadi.
Berhenti Mengejar Validasi, Mulai Mencari Kecocokan
Persoalannya bukan berarti anak muda harus berhenti menggunakan aplikasi kencan. Teknologi tetap bisa menjadi jalan untuk bertemu orang baru, termasuk bagi mereka yang kesulitan memperluas lingkaran pertemanan. Yang perlu diperiksa adalah alasan di balik penggunaannya: apakah benar ingin membangun hubungan, atau sekadar ingin mengakhiri bahan ledekan karena belum punya pasangan?
Kalau motivasinya lebih banyak didorong tekanan sosial, proses mencari jodoh mudah berubah menjadi perlombaan yang melelahkan. Setiap percakapan terasa seperti ujian, setiap penolakan menjadi ancaman bagi kepercayaan diri, dan setiap orang yang ditemui dinilai berdasarkan kemungkinan diterima oleh lingkungan. Hubungan yang mestinya memberi ruang untuk menjadi diri sendiri justru dimulai dengan usaha keras menyembunyikan kekurangan.
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengubah cara menilai keberhasilan. Banyaknya kecocokan bukan ukuran kualitas hubungan, sedangkan status lajang bukan bukti seseorang gagal bersosialisasi. Pengguna juga berhak menetapkan batasan, menolak pertanyaan yang terlalu pribadi, dan berhenti berkomunikasi ketika interaksi terasa merendahkan. Mengenal orang lain tidak berarti harus menyerahkan seluruh informasi pribadi demi mendapatkan persetujuan.
Lingkungan pertemanan juga punya peran penting. Candaan tentang jomlo mungkin terdengar ringan bagi yang melontarkan, tetapi bisa menjadi tekanan bagi orang yang menerimanya. Menghentikan kebiasaan mengukur keberhasilan hidup dari status hubungan merupakan langkah sederhana untuk menciptakan ruang sosial yang lebih sehat. Tidak semua orang harus punya pasangan pada usia yang sama, dengan pencapaian ekonomi yang sama, atau melalui jalan perkenalan yang serupa.
Mencari pasangan memang membutuhkan usaha, kompromi, dan keberanian menghadapi penolakan. Namun, usaha itu seharusnya membantu seseorang mengenal orang lain, bukan memaksanya membuktikan bahwa dirinya pantas dipilih. Kita boleh memperbaiki cara berkomunikasi, belajar memahami kebutuhan pasangan, dan mengevaluasi diri tanpa menganggap diri sendiri sebagai produk yang harus terus dipoles agar laku.
Sebab, jodoh bukan lowongan pekerjaan yang membuat kita harus lolos dari semua pewawancara. Hubungan yang sehat justru memberi kesempatan bagi dua orang untuk saling mengenal tanpa harus berpura-pura menjadi kandidat sempurna. Kalau alasan mencari pasangan hanya supaya tidak diledek jomlo, mungkin yang perlu diakhiri lebih dulu bukan status lajangnya, melainkan kebiasaan menjadikan kehidupan asmara orang lain sebagai bahan penilaian.