Kolom
Gen Z Suka Code-Mixing, Memperkaya atau Justru Merusak Bahasa Indonesia?
Pernah dengar istilah "orang have" atau "becusn't"? Perpaduan bahasa Indonesia dan Inggris seperti ini sudah cukup lazim dalam percakapan Gen Z yang disebut code-mixing.
Kebiasaan ini tidak lepas dari kehidupan Gen Z yang dekat dengan internet dan media sosial. Istilah asing yang mereka temui dalam film, musik, atau konten digital kerap terbawa ke percakapan sehari-hari. Bagi sebagian orang, cara berbahasa ini terasa lebih unik dan ekspresif. Namun, bagi yang lain, kebiasaan mencampur bahasa justru menimbulkan kekhawatiran tentang penggunaan bahasa Indonesia. Apakah code-mixing bisa memperkaya kosakata? Atau justru berisiko dalam ketepatan bahasa?
Sering Terpapar Bahasa Inggris dari Internet

Kebiasaan Gen Z mencampur bahasa Indonesia dan Inggris tidak muncul begitu saja. Ada sejumlah faktor yang memengaruhi cara mereka berkomunikasi, mulai dari paparan konten digital hingga lingkungan pergaulan. Kebiasaan mengonsumsi konten berbahasa Inggris dalam film, musik, gim, atau sosial media, membuat Gen Z akrab dengan kosakata, seperti overthinking, healing, atau cringe, dan memasukkannya dalam praktik percakapan sehari-hari.
Faktor lainnya adalah anggapan bahwa istilah tertentu lebih praktis. Kosakata bahasa Inggris yang lebih banyak dibanding bahasa Indonesia akan terasa mudah saat memilih kata untuk suatu ekspresi. Beberapa istilah dalam bahasa Inggris juga dinilai memiliki makna lebih spesifik dan belum memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia.
Lahir Istilah Baru dari Code-Mixing

Dalam konteks tertentu, code-mixing justru menunjukkan bagaimana penutur memanfaatkan sumber bahasa yang berbeda untuk menyampaikan gagasan. Kebiasaan ini juga dapat memperkenalkan istilah yang sebelumnya belum banyak dikenal dalam percakapan sehari-hari. Misalnya, dalam KBBI ada "kroscek" yang diserap dari kata cross check yang artinya memeriksa kembali. Istilah ini lebih praktis dibanding penjelasannya dalam bahasa Indonesia yang lebih panjang.
Selain itu, mencampur beberapa bahasa untuk mengekspresikan sesuatu merupakan salah satu bentuk kreativitas dalam mengolah bahasa. Bahkan, beberapa istilah bahasa Inggris menjadi tren setelah digunakan dalam percakapan informal bahasa Indonesia, seperti healing, overthinking, dan awkward.
Munculnya Risiko Berkurangnya Ketepatan Berbahasa dan Salah Paham

Meskipun code-mixing bisa membuat percakapan terasa akrab atau keren, penggunaannya tetap memiliki tantangan. Code-mixing yang kerap dituturkan oleh generasi muda di sosial media bisa melahirkan perbedaan pemahaman antar lawan bicara, apalagi oleh orang dengan kelompok usia yang berbeda. Pesan yang disampaikan bisa sulit dimengerti dan justru memunculkan kesalahpahaman.
Sementara itu, kebiasaan code-mixing dalam situasi informal berisiko terbawa dalam lingkungan formal. Diskursus profesional seperti dalam lingkungan akademik tentunya tidak akan cocok jika menggunakan bahasa santai seperti obrolan dengan teman sebaya. Perlu berhati-hati agar kebiasaan ini bisa digunakan sesuai konteks dan kondisi yang sedang dialami.
Kebiasaan code-mixing pada Gen Z merupakan bagian dari berkembangnya komunikasi dan teknologi saat ini. Penggunaannya diwarnai pro dan kontra. Beberapa orang menganggap percampuran bahasa bisa memperkaya kosakata yang sudah ada, sedangkan sebagian lagi khawatir akan ketepatan berbahasa baku. Jadi, belajar, menggunakan, dan mencampur bahasa asing dengan bahasa Indonesia bukan berarti mau merusak bahasa. Kamu sering code-mixing nggak?