Kolom
Perundungan Linguistik: Apa Kita Masih Punya Ruang untuk Belajar Berbahasa?
Bayangkan kamu sedang menulis sebuah utas serius di media sosial tentang keresahan hidup, atau mungkin malah mempresentasikan ide bisnis di ruang obrolan kerja. Karena terburu-buru, kamu keliru mengetik satu kata atau salah memilih diksi.
Contoh sederhana, menulis “merubah” yang seharusnya “mengubah”, atau “berpikir” menjadi “berfikir”. Dalam hitungan menit, substansi dari argumen berbobot yang disusun runtuh seketika dan fokusnya langsung bergeser total.
Bukan hanya ditujukan pada kita yang notabene hanya netizen biasa, setiap kali ada figur publik atau kreator konten melakukan kesalahan diksi, ruang siber segera berubah menjadi arena penghakiman yang kejam dengan dalih koreksi diksi.
Kolom komentar mendadak dipenuhi kritisi atas kesalahan tersebut, dijadikan bahan gurauan, disulap menjadi meme, hingga menjadi sasaran perundungan massal. Pemandangan seperti ini menjadi konsumsi harian lanskap digital kita.
Saya pun jadi bertanya-tanya, dan mungkin juga bagian dari refleksi kita semua: di tengah budaya digital yang gemar menertawakan kesalahan ini, apakah kita masih memiliki ruang aman untuk belajar dan bertumbuh dalam berbahasa?
Komodifikasi Kesalahan di Era Kecepatan Jempol
Budaya modern di media sosial hari ini sangat digerakkan oleh attention economy. Sesuatu yang memicu emosi instan—seperti rasa lucu, rasa unggul, atau rasa gemas melihat kesalahan orang lain—akan cepat didorong oleh algoritma untuk menjadi viral.
Saat "polisi bahasa" atau netizen menemukan salah diksi, motifnya sering kali bukan lagi murni untuk mengedukasi. Ada arogansi kultural tersembunyi di mana menertawakan kesalahan orang lain memberi kepuasan instan.
Para kritikus dadakan ini merasa bahwa dirinya "lebih cerdas" atau "lebih berpendidikan". Kesalahan berbahasa yang manusiawi akhirnya dikomodifikasi menjadi konten hiburan murahan demi berburu likes dan interaksi digital.
Matinya Keberanian Berekspresi Anak Muda
Dampak psikologis dari lingkungan digital yang gemar menghakimi ini sangat destruktif bagi perkembangan literasi Gen Z. Bahasa pada hakikatnya adalah alat ekspresi yang dinamis, medium tempat seseorang diizinkan mencoba, berbuat salah, lalu memperbaikinya melalui proses belajar interaktif.
Saat setiap kesalahan kecil langsung dibalas dengan gelombang ejekan, yang lahir justru sindrom language anxiety. Banyak anak muda yang akhirnya memilih opsi paling aman: bungkam secara linguistik di ruang publik Indonesia.
Mereka takut menyuarakan opini kritis atau menulis karya kreatif karena cemas diksi yang dibawa dipereteli di depan umum. Lebih parah lagi, sebagian memilih migrasi bahasa ke bahasa asing demi menghindari penghakiman netizen dalam negeri.
Mengembalikan Fungsi Bahasa: Koreksi dengan Empati
Menolak perundungan linguistik bukan berarti kita memaklumi kekacauan tata bahasa atau bersikap abai pada kaidah baku. Struktur bahasa yang tertib tetap sangat krusial, terutama pada ranah profesional, akademik, dan kedinasan.
Tantangan terbesarnya adalah mengubah metode koreksi dari penghakiman yang mempermalukan menjadi edukasi yang memanusiakan. Diakui atau tidak, netizen perlu menanamkan budaya koreksi yang berempati.
Jika melihat seseorang salah menggunakan diksi di ruang publik digital, pendidik atau sesama pengguna bahasa yang bijak bisa menyampaikan koreksi melalui pesan privat secara santun, atau menjelaskannya di kolom komentar dengan argumen logis tanpa nada merendahkan.
Mengembalikan ruang aman untuk belajar berarti menyadari bahwa tidak semua orang memiliki latar belakang akses pendidikan atau kecepatan literasi yang sama. Bahkan saat sudah ada kesetaraan akses, sebuah kesalahan tetaplah manusiawi.
Kamus Berjalan Tanpa Kehilangan Jiwa
Bahasa nasional akan tumbuh perkasa bukan karena memiliki jutaan "polisi bahasa" galak yang siap menerkam setiap kesalahan pengetikan di internet. Bahasa Indonesia akan tetap hidup dan dicintai jika mampu merangkul penggunanya dengan rasa nyaman.
Jangan biarkan budaya candaan yang berlebihan merampas hak dasar untuk belajar dan berbuat salah. Mari ubah ekosistem digital kita menjadi ruang kelas terbuka yang hangat, di mana salah diksi ditanggapi dengan uluran tangan edukasi, bukan lemparan batu perundungan.
Hanya dengan cara itulah, kemandirian berekspresi generasi muda bisa tumbuh selaras dengan kecintaan mendalam pada bahasa ibu. Boleh menjadi “kamus berjalan”, tapi jangan sampai niat mengedukasi malah kehilangan jiwa dan empati.