Kolom
Terlalu Lama Berhemat, Gen Z Justru Terjebak Revenge Spending
Pernah tidak, sudah berusaha ngurangin jajan, menahan keinginan membeli barang baru, membatasi nongkrong, bahkan membatalkan rencana liburan demi menabung, tapi suatu hari justru merasa ingin membeli apa saja tanpa terlalu memikirkan harganya?
Awalnya mungkin hanya ingin membeli kopi kekinian sebagai hadiah setelah bekerja keras, tapi berlanjut beli pakaian, skincare, makanan mahal, hingga barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Ada perasaan, "Sekali-sekali menikmati hasil kerja sendiri, tidak apa-apa, kan?"
Fenomena ini berkaitan dengan frugal fatigue, kondisi lelah emosional karena terus-menerus berusaha menghemat pengeluaran. Ending-nya, malah muncul perilaku revenge spending—belanja berlebihan sebagai bentuk pelampiasan atau kompensasi setelah lama menahan keinginan.
Di tengah biaya hidup yang semakin menantang, muncul pertanyaan menggelitik: bagaimana mungkin kita bisa konsisten menabung jika setiap hari harus berhadapan dengan godaan konsumsi sekaligus tekanan untuk terus berhemat?
Saat Hidup Hemat Terasa Seperti Hukuman
Berhemat sebenarnya merupakan kebiasaan finansial yang positif. Mengatur pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyisihkan uang untuk masa depan adalah langkah penting untuk membangun keuangan yang stabil.
Namun, masalah muncul saat hidup hemat diterapkan terlalu ketat. Setiap keinginan dianggap sebagai pemborosan. Nongkrong bersama teman merasa bersalah, membeli makanan kesukaan dianggap tidak produktif, menikmati liburan harus menunggu tabungan cukup dulu.
Lama-kelamaan, pengelolaan keuangan justru terasa seperti hukuman. Padahal, tujuan menabung bukan untuk membuat seseorang kehilangan kesempatan menikmati hidup, melainkan memberikan rasa aman di masa depan.
Revenge Spending: Pelampiasan Setelah Terlalu Lama Menahan Diri
Saat rasa lelah menumpuk, sebagian orang akhirnya mencari kepuasan instan melalui belanja. Setelah berbulan-bulan membatasi pengeluaran, mereka merasa berhak memberikan hadiah pada diri sendiri.
Diskon, promo tanggal kembar, gratis ongkir, hingga tren barang viral di media sosial menjadi pemicu yang sulit diabaikan. Masalahnya, keputusan belanja sering kali bukan lagi berdasarkan kebutuhan, tapi dorongan emosional sebagai reward setelah melewati hari melelahkan.
Sayangnya, kepuasan tersebut hanya berlangsung singkat. Setelahnya, muncul penyesalan saat melihat saldo rekening berkurang atau tagihan menggunung. Siklus pun berulang: berhemat, merasa terkekang, belanja berlebihan, lalu kembali menyesal.
Tekanan Finansial dan Media Sosial Ikut Memperkeruh Situasi
Tidak adil jika fenomena ini hanya dilihat sebagai persoalan kurangnya disiplin anak muda dalam mengelola uang. Realitasnya, banyak Gen Z menghadapi penghasilan yang terbatas, biaya hidup yang meningkat, serta kebutuhan untuk mempersiapkan masa depan.
Di sisi lain, media sosial terus menyuguhkan gambaran kehidupan ideal: liburan, kuliner, outfit baru, dan pengalaman menyenangkan lainnya. Tanpa disadari, muncul tekanan untuk tidak ketinggalan menikmati hidup juga.
Saat orang lain terlihat bisa membeli banyak hal, hidup sederhana terkadang terasa seperti sebuah ketertinggalan. Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan kondisi keuangan seseorang yang sebenarnya.
Menemukan Jalan Tengah: Hemat Tanpa Kehilangan Kesenangan
Lantas, apakah solusinya berhenti berhemat atau justru semakin memperketat pengeluaran? Keduanya bukan jawaban yang tepat. Kita bisa mencoba cara-cara yang membangun hubungan lebih sehat dengan uang.
Sisihkan anggaran untuk bersenang-senang. Tidak semua penghasilan harus dialokasikan untuk kebutuhan dan tabungan. Berikan ruang untuk hiburan sesuai kemampuan. Bedakan antara keinginan dan pelampiasan emosi.
Sebelum membeli sesuatu, tanyakan apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau hanya menjadi pelarian saat stres. Pastikan juga untuk membuat target keuangan yang realistis, bukan selalu memaksakan target tabungan yang malah mengesampingkan kebutuhan sehari-hari.
Kita juga bisa mulai mengurangi perilaku membandingkan kehidupan finansial. Setiap orang memiliki penghasilan, tanggungan, dan prioritas yang berbeda. Cukup fokus pada kehidupan finansial sendiri.
Berhemat Seharusnya Membuat Hidup Lebih Tenang
Frugal fatigue menjadi pengingat bahwa mengelola keuangan bukan sekadar persoalan angka, tapi juga tentang keseimbangan emosional. Memikirkan masa depan bukan berarti seluruh kesenangan hari ini harus dikorbankan.
Sebaliknya, menikmati hidup juga tidak harus dilakukan dengan menghabiskan uang secara impulsif. Kita tidak perlu memilih antara menjadi generasi yang rajin menabung atau generasi yang menikmati hidup.
Keduanya bisa berjalan beriringan selama ada perencanaan yang masuk akal. Sebab, tujuan memiliki uang bukan hanya agar saldo rekening terus bertambah, tapi juga agar kita bisa menjalani kehidupan hari ini dengan lebih tenang tanpa terus-menerus mencemaskan hari esok.