Lifestyle
Jangan Buang Sampah Organik Bahaya! Jadiin Kompos Aja, Bisa Selamatkan Bumi
Sebagai salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan. Sampah organik tergolong sebagai sampah yang lebih berbahaya dibanding dengan sampah jenis lainnya. Kenapa? Karena sifatnya yang organik, mereka berpotensi membusuk dan menghasilkan gas metana. Orang Indonesia biasanya membuat sampah organik dengan mencampurkannya bersama sampah lainnya lalu dimasukkan ke dalam plastik dan diikat rapat.
Sampah-sampah ini berakhir di TPA dengan sampah lainnya. Seperti yang kita ketahui, TPA selalu menumpuk sampah hingga batas tertentu, sebelum di olah lebih lanjut. Tumpukan sampah ini bisa meledak sewaktu-waktu, karena gas metana yang hasil pembusukan sampah organik. Bahaya sampah organik ini yang ditakutkan ini pernah terjadi pada TPA Leuwi Gajah yang meledak pada 2005 lalu.
Oleh karena itu sering kita dengar dengan gerakan 6R (Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot). R yang terakhir atau Rot dimaksudkan untuk pengelolaan sampah organik dengan teknik pengomposan. Pembusukan beda dengan pengomposan. Bedanya ada di mikroba yang bekerja, pembusukan akan menghasilkan bau yang tidak sedap, tekstur yang lembap cenderung becek. Berbeda dengan kompos yang kaya akan bakteri baik dan memiliki aroma seperti tanah.
Di rumah kita, khususnya rumah tangga yang memasak dan menyediakan makanan di rumah. Sampah organik hampir mendominasi. Oleh karenanya, yuk kita berkontribusi ke lingkungan dengan memulai pengomposan sendiri.
1. Sediakan wadah
pastikan ada aliran udara keluar. Kamu bisa menggunakan ember bekas cat yang telah dilubangi, karung, atau wadah lainnya
2. Siapkan dua jenis sampah
sampah cokelat dan sampah hijau. Istilah sampah cokelat dan sampah hijau ini untuk menggambarkan kandungan unsur dominan. Sampah cokelat kaya akan unsur karbon, biasanya juga sering ditandai dengan warna cokelat. Contohnya, serbuk gergaji, sekam, daun kering, kertas, dan karton. Sampah hijau melambangkan sampah kaya akan unsur nitrogen, biasanya ditandai dengan warna hijau. Namun sering juga ditemukan pada kulit buah, atau sampah organik basah lainnya.
3. Cacah sampah organik hingga berukuran kecil
Mikroba dekomposer lebih cepat melaksanakan tugasnya di permukaan kecil. Sehingga proses pengomposan berjalan lebih cepat.
4. Lembapkan dengan mikroba dekomposer alami
Mikroba dekomposer melakukan tugasnya sebagai pengurai. Jenis mikroba satu ini bisa ditemukan pada tanah, bekas kotoran ayam atau sapi yang telah dikeringkan dan difermentasi, dan yang paling sering ditemukan adalah air beras yang didiamkan selama 2 hari.
Biasanya kompos akan matang setelah 1 bulan. Ciri kompos matang adalah berwarna hitam seperti tanah, berbau tanah (tidak meninggalkan bau busuk), dan tekstur sedang (tidak terlalu lembap atau kering). Apabila telah memenuhi syarat namun terlihat beberapa bahan yang belum terurai, kamu bisa mengayaknya terlebih dahulu. Bahan yang kasar di masukkan kembali ke wadah kompos untuk melanjutkan proses pengomposan.
Jangan menggunakan kompos yang belum matang, karena akan berbahaya bagi tanaman. Kompos belum matang berarti masih dalam fase penguraian. Mikroba-mikroba pengurai masih aktif bekerja. Apabila digunakan sebagai media tanam, bisa-bisa akar tanamanmu jadi ikut-ikutan busuk nih.
Nah bagaimana, pembaca udah mulai aware-kan sama bahaya sampah organik. Yuk mulai melakukan kompos sekarang.