Lifestyle
Capek Kena Hujan dan Polusi? Coba Ubah Rutinitasmu dengan Naik Transportasi Umum
Dulu, rutinitasku dalam mengawali hari sering kali dihabiskan dengan memacu kendaraan bermotor roda dua menuju daerah Jakarta. Hal ini terjadi karena awalnya aku belum paham alur perjalanan menggunakan transportasi umum dan bagaimana cara mengaksesnya.
Jarak tempuh dari rumah menuju tempat tujuan pun terbilang lumayan jauh karena harus menyusuri jalan arteri dan jalan raya. Di jalanan tersebut, kepulan asap dari kendaraan bermotor yang padat membuat pagiku terasa kotor dan pengap.
Belum lagi kalau cuacanya sedang tidak mendukung; kadang tiba-tiba turun hujan deras, dan di waktu lain panas terik matahari begitu menyengat. Sesampainya di tujuan, badan terasa kotor dan berdebu. Paling parah adalah ketika habis kehujanan di jalan, badan langsung lepek dan basah kuyup.
Barang-barang di dalam tas pun ikut basah. Apalagi saat sedang membawa laptop, rasa khawatir (worry) langsung menyerang karena takut perangkat elektronik tersebut rusak terkena air. Di titik itu, suasana hati (mood) untuk menjalani aktivitas sehari-hari langsung hancur karena terlalu lelah menghadapi lika-liku perjalanan yang menguras tenaga.
Titik Balik dan Pembuktian
Titik balikku muncul saat melihat seorang teman yang sehari-hari beraktivitas dengan mengandalkan transportasi umum. Cerita dan pengalamannya membuatku penasaran untuk mencoba. Ia mengatakan bahwa transportasi umum itu sangat sepadan (worth it) dibanding menggunakan kendaraan pribadi yang boros menghabiskan bensin.

Untuk membuktikannya, keesokan harinya aku memberanikan diri mencoba transportasi umum. Ternyata benar! Selisih waktu kedatanganku satu jam lebih cepat dibanding saat membawa kendaraan pribadi yang selalu terjebak kemacetan setiap pagi.
Hari-hari berikutnya, aku malah merasa kecanduan menggunakan transportasi umum, khususnya KRL. Harganya yang murah dan selisih waktunya yang lumayan signifikan menjadikannya jauh lebih efisien dibandingkan kendaraan bermotor. Selain perjalanannya lebih simpel, KRL juga berhasil membuat mood-ku kembali positif.
Memang, saat pertama kali menggunakan transportasi umum, aku sempat merasa sedikit kebingungan mencari rute yang tepat. Untuk mengatasi hal itu, aku selalu bertanya kepada teman tentang rute dan cara memahami peta perjalanan.
Walaupun di aplikasi Google Maps sebenarnya sudah ada fitur pelacakan (tracking), aku kadang suka keliru membacanya. Jika tidak bertanya langsung kepada orang yang lebih paham, rutenya terkadang malah terasa memutar dan berujung memakan waktu yang lebih lama.

Eksplorasi Transjakarta, MRT, dan LRT
Seiring berjalannya waktu, transportasi umum yang aku gunakan bukan hanya KRL, melainkan berkembang dengan mencoba Transjakarta, MRT, LRT, hingga JakLingko. Saat awal mencoba Transjakarta, aku juga kebingungan: bagaimana cara menaiki busnya, rutenya ke mana saja, dan berapa tarif yang dikenakan. Lagi-lagi, aku mengikuti temanku yang sudah sering bepergian dengan Transjakarta dan menanyakan berbagai hal terkait penggunaannya. Lambat laun, akhirnya aku mengerti bagaimana cara menggunakan layanan tersebut.
Kemudian, saat mencoba MRT dan LRT, awalnya aku kebingungan membedakan letak stasiunnya, apakah berada di bawah tanah atau di atas. Ternyata, moda transportasi MRT sebagian besar letaknya di bawah tanah, sedangkan LRT berada di atas permukaan.
Untuk MRT, rute awalnya memang dimulai dari bawah tanah seperti di Stasiun Bundaran HI, kemudian jalurnya perlahan naik ke atas permukaan tanah setelah melewati Stasiun ASEAN menuju arah Blok M. Lalu untuk LRT sendiri, letaknya konsisten berada di atas tanah, atau lebih tepatnya di jalur layang dengan ketinggian setara gedung lima lantai.

Kedua transportasi umum yang modern itu membuat mobilitas harianku menjadi lebih praktis jika dibandingkan dengan mengendarai kendaraan bermotor. Perjalananku menjadi lebih cepat dan ringkas dalam hal efisiensi waktu. Aku tidak perlu lagi takut terlambat berkegiatan karena semuanya sudah terjadwal dengan rapi di aplikasi jadwal kereta yang bisa diakses langsung melalui handphone.
JakLingko: Penyelamat Area Pelosok

Jak Lingko
Untuk transportasi JakLingko sendiri, secara tampilan luar ternyata mirip seperti angkot pada umumnya, tapi memiliki perbedaan mendasar pada sistem pembayarannya.
JakLingko sudah menggunakan kartu e-money, dan wah, hebatnya lagi aku tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun alias gratis! Di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang (in this economy), jujur saja JakLingko sangat berguna sekali untuk menjangkau area-area yang tidak bisa dilalui oleh Transjakarta, MRT, ataupun LRT. Apalagi layanannya gratis, kan? Fasilitasnya pun cukup nyaman dan tentunya ini adalah versi angkot yang jauh lebih aman (safety).
Terima kasih kepada pemerintah yang telah menyediakan transportasi publik ini dengan nyaman, aman, dan mudah. Pada akhirnya, aku mantap beralih menjadikan moda transportasi umum sebagai pilihan mobilitas yang bisa diakses dengan mudah setiap hari. Di samping harganya yang terbukti lebih murah, efisiensi waktu juga merupakan hal yang sangat penting dalam ritme kehidupan sehari-hari.
Sistem pembayarannya pun saat ini sudah sangat mudah; kita hanya perlu menyiapkan saldo di dalam dompet digital ataupun kartu e-money. Kita tidak perlu lagi repot mengeluarkan uang tunai, yang mana bisa sangat berbahaya apabila kita terlihat memegang sejumlah uang secara mencolok di tempat umum.
Bagiku, menggunakan transportasi umum seharusnya sudah menjadi hal yang lumrah untuk diterapkan oleh masyarakat luas. Masyarakat juga harus tahu dan mulai sadar bahwa beralih ke transportasi umum merupakan langkah kecil yang dapat berdampak sangat besar dalam mendukung upaya mengurangi emisi karbon dan polusi di udara kota kita tercinta.