Lifestyle

Suara Komunitas Menuju Transportasi yang Inklusif

Suara Komunitas Menuju Transportasi yang Inklusif
KRL Commuter Line (Pixabay/Satia)

Ini cerita teman tuli di transportasi umum dan inklusivitas yang masih menjadi PR bersama.

Tahun lalu, setelah mengisi kelas bahasa isyarat yang dipandu langsung oleh beberapa sahabat saya yang merupakan teman tuli, kami pulang dari lokasi workshop dengan menggunakan commuter line dari Stasiun Bojong Gede menuju stasiun tujuan kami masing-masing.

Transportasi umum ini kami pilih karena dekat dengan lokasi kegiatan, belum lagi kenyamanan dan kebersihan yang terjamin serta harganya yang terjangkau.

Semua berjalan dengan baik sampai salah satu dari mereka, Bayu, tidak bisa tap in karena saldo pada kartunya yang ternyata kurang, sementara kami semua sudah di dalam.

Dengan sedikit panik, Bayu segera menuju ke area petugas untuk top up saldo. Kendala pertama mulai muncul, komunikasi yang tidak tersampaikan karena perbedaan bahasa yang tidak terjembatani dengan baik.

Bayu mengeluarkan kartunya dan uang kertas Rp100.000 lalu memberi tanda dengan mengangkat dua jarinya sekali dan kepalan tangan sekali, sebagai informasi bahwa ia ingin mengisi ulang Kartu Multi Tripnya dengan nominal Rp20.000.

Case closed.

Saya pikir urusan inklusivitas transportasi umum yang belum merata sudah selesai sampai di sana. Ternyata belum. Sepanjang perjalanan, Bayu, Gaby dan Alif terus waspada melihat keluar. Setiap KRL berhenti, mereka bergantian melongok lewat jendela bening KRL untuk memastikan posisi stasiun perhentian.

Sesekali mereka melihat saya lalu mengarahkan kedua tangannya ke samping dan mengangkat kedua bahunya untuk bertanya "Ini di mana"?

Dan dengan bahasa isyarat sekadarnya yang saya punya, saya menjawab pertanyaan mereka.

Saat itu saya memosisikan diri sebagai mereka yang clueless jika bepergian dengan transportasi umum di Indonesia. Tidak ada kebebasan untuk istirahat seperti penumpang lainnya karena harus fokus melihat posisi stasiun dan sulitnya berkomunikasi jika stasiun tujuan sampai terlewat.

Kadang kami punya cara lain untuk berinteraksi, yaitu melalui tulisan. Namun mengingat durasi buka dan tutupnya pintu KRL yang terbilang singkat, rasanya cara ini kurang tepat diterapkan.

Memang saat itu kebetulan kami menaiki KRL unit lama yang belum memfasilitasi adanya Passenger Information Display System (PIDS) dan Door Warning Light.

Bagi pengguna non disabilitas, kedua fasilitas ini barangkali tidak begitu dibutuhkan karena kelengkapan panca indera yang bekerja dengan baik dan bisa menangkap informasi secepatnya. Namun bagi teman disabilitas, salah satunya teman tuli, kedua fasilitas di atas menjadi pemandu selama mereka berada di dalam transportasi umum

Passenger Information Display System (PIDS) misalnya, fasilitas ini dapat menampilkan running text LED sebagai wadah untuk menampilkan informasi stasiun selanjutnya, stasiun tujuan dan pengumuman, sementara Door Warning Light yang mengeluarkan bunyi "tit tit tit" yang cukup nyaring dan lampu alarm berwarna merah dapat memberi alarm secara universal kepada seluruh penumpang - disabilitas dan non disabilitas - di dalamnya sebelum pintu KRL terbuka atau tertutup.

Bunyi 'tit tit tit' nyaring membantu penumpang non disabilitas, sedang lampu alarm berwarna merah yang berkedip secara intens tepat di atas pintu jelang pintu terbuka atau tertutup menjadi tanda bagi teman tuli.

Cerita perjalanan saya dan sahabat-sahabat saya menjadi salah satu bukti nyata, bahwa inklusivitas transportasi umum belum sepenuhnya merata.

Mengenal Gas Rumah Kaca dan Emisinya

Dilansir dari World Resources Institute (WRI) Indonesia - sebuah lembaga penelitian independen yang berfokus pada pembangunan sosio-ekonomi nasional secara inklusif dan berkelanjutan, dengan fokus utama pada bidang kehutanan, iklim serta kota dan transportasi - sektor transportasi merupakan salah satu sektor prioritas dalam agenda iklim nasional, dengan kontribusi sekitar 27% terhadap total emisi Gas Rumah Kaca (GRK) nasional pada 2022.

Bagi yang belum tahu, GRK adalah gas-gas di atmosfer yang berfungsi menahan sebagian panas matahari agar bumi tetap hangat. Fungsinya sangat baik sebetulnya, tapi seiring dengan meningkatnya aktivitas manusia dan alam membuat jumlah gas-gas yang lepas ke atmosfer jadi meningkat.

Dari aktivitas alam sendiri gas-gas tersebut bisa berasal dari penguapan air laut, danau atau sungai, bisa pula dari letusan gunung api, hingga pembusukan material organik. Sedangkan aktivitas manusia seperti deforestasi, aktivitas industri hingga transportasi dapat menghasilkan gas-gas emisi seperti Karbondioksida, Metana, Nitrogen Oksida dan beberapa emisi lainnya.

Akibatnya panas yang semula hanya untuk menghangatkan bumi, ikut pula naik dan terpantul kembali ke Bumi dalam jumlah yang berlebihan sehingga memicu terjadinya pemanasan global serta perubahan iklim.

Dampaknya berat. Sebetulmya manusia sendiri sudah mulai merasakan, hanya saja barangkali banyak yang tidak menyadari. Sebut saja banjir bandang yang tahun ini juga melanda Indonesia, kekeringan panjang, hilangnya berbagai ekosistem keanekaragaman hayati, air laut yang makin asam sehingga menyulitkan biota laut untuk tumbuh dan masih banyak dampak buruk lainnya.

Siapa yang dirugikan? Kita. Manusia itu sendiri.

Dukung Target Net Zero Emission 2060

Urusan pemanasan global dan perubahan iklim ini, bukan lagi soal bahasan ringan di tongkrongan. Begitu gentingnya, topik ini jadi diskusi global termasuk semua negara Anggota G20 dengan menetapkan target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2050-2070.

Kabar baiknya, Indonesia juga turut serta menyepakati NZE tersebut dengan menetapkan target di tahun 2060.

Masalahnya adalah, pemerintah dan seluruh stakeholder terkait tentu tidak bisa bergerak sendiri. Butuh kolaborasi pentahelix untuk bisa mencapai target tersebut, termasuk kita sebagai masyarakat di dalamnya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mendukung target NZE di tahun 2060 tersebut?
Abaikan soal bahasa dan teknis yang barangkali banyak yang tidak kita pahami dari topik ini. Jawaban paling sederhana adalah kita mulai cara baru dalam bepergian, yaitu menggunakan transportasi umum.

Inklusif, Bantu Warga Lebih Bijak Bermobilitas

Di sinilah korelasi keduanya terjalin, antara teman disabilitas yang bepergian dan penggunaan transportasi umum Indonesia yang terus digalakkan.

Mobilitas harian masyarakat memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan jejak karbon. Saat ini, sektor transportasi merupakan salah satu penyumbang emisi terbesar di Indonesia. Oleh sebab itu, transformasi menuju sistem transportasi yang ramah lingkungan adalah langkah krusial untuk mewujudkan masa depan yang berkelanjutan.

Dalam kegiatan LINTAS (Ngobrolin Transportasi Bareng Komunitas) yang dilangsungkan di Al Jazeerah Signature Restaurant and Cafe pada (24/7), Reza Hertantyo selaku Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB) Kementerian Perhubungan menyebutkan, kehadiran PPTB tidak hanya berfokus pada transportasi yang berkelanjutan tapi juga inklusif.

Namun untuk mewujudkan hal tersebut, sepertinya PPTB masih memiliki PR yang cukup banyak untuk mendapatkan kepercayaan dari pelanggan disabilitas. 

Di beberapa transportasi umum seperti KRL unit terbaru, beberapa Transjakarta unit terbaru, hingga pesawat, fasilitas yang bisa membantu kenyamanan dan keamanan teman-teman disabilitas memang tampak sudah tersedia, termasuk Passenger Information Display System (PIDS), dan Door Warning Light, namun di beberapa unit lain, kita belum bisa menemukan dua fasilitas ini. 

Bicara soal PIDS, sebetulnya, KRL dan TJ bisa menyediakan rekaman Juru Bahasa Isyarat (JBI) untuk menunjukkan stasiun pemberhentian demi memudahkan teman tuli mendapatkan informasi. 

Meskipun sebetulnya ada running text, pada dasarnya beberapa teman tuli memiliki kesulitan untuk memahami beberapa kata yang bagi kita adalah kosa kata umum yang disampaikan sehari-hari. 

Bicara transportasi yang inklusi rasanya dimulai dari first mile. Langkah pertama bagi pelanggan merasa aman dan nyaman untuk menaiki transportasi umum itu sendiri.

Untuk pengguna kursi roda, bagaimana mungkin teman daksa bisa melakukan hal ini jika trotoar jalan saja tidak memadai untuk dilalui? 

Di Transjakarta non-BRT, pertanyaan yang sama juga patut dilontarkan sebagai bahan diskusi dan berbenah bagi tim PPTB. 

Di Transjakarta D-11, rute Stasiun Depok baru-Cawang, petugas hanya driver semata. Jika sewaktu-waktu ada pelanggan teman daksa yang ingin naik dan butuh bantuan, siapa yang kira-kira bertanggungjawab untuk memastikan pelanggan tersebut dari naik, tap in kartu hingga duduk dan turun di halte tujuan dengan sempurna?

Begitupun dengan teman netra, siapa yang bertanggungjawab memandu di halte-halte Tj non-BRT? 

Di bandara saja, salah satu transportasi umum yang terbilang besar dan menangani pelanggan internasional, jadi sebuah pertanyaan pula, saat announcer menyampaikan pengumuman atau update penerbangan maskapai tertentu, bagaimana kira-kira teman tuli bisa mendapatkan informasi tersebut? 

Perjalanan masih panjang, PR yang menumpuk masih bisa segera dituntaskan. Semoga impian untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat jadi pengguna transportasi umum segera tercapai namun dengan perbaikan-perbaikan yang menawarkan keamanan dan kenyamanan seluruh pelanggan tanpa terkecuali. Dengan begitu, setiap warga terfasilitasi perjalanannya, tercapai pula target NZE 2060 atau mungkin lebih cepat. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda