Lifestyle
Mie Ayam: Comfort Food Pelampiasan Lelah Kerja Kaum Mendang-Mending Sehabis Gajian
Siapa sih yang nggak kenal mie ayam? Kuliner yang nyaris menghiasi setiap sudut daerah baik di pedesaan maupun perkotaan itu rasa-rasanya sudah menyusup dalam lini kehidupan masyarakat. Dan, artikel ini saya tulis setelah dipalak mie ayam oleh adik tercinta saya.
Sejarah Mie Ayam
Menurut laman Universitas Ciputra, mie ayam sejatinya adalah makanan hasil akulturasi kuliner Tionghoa dan Nusantara. Namanya Bakmi, yang berasal dari Tiongkok selatan yakni Fujien dan Guangdong mengingat ada banyak perantau dari sana.
Versi originalnya, bakmi dibuat dengan tambahan minyak babi dan toping daging babi. Namun begitu sampai di Nusantara, versinya lantas disesuaikan dengan latar budaya, agama, dan kondisi kerajaan-kerajaan Islam saat itu. Sehingga, penggunaan unsur babi diganti dengan ayam, baik toping maupun minyaknya.
Kendati demikian, ada juga beberapa versi seperti toping kepiting pada Mie Ayam Bangka, atau toping tambahan berupa bakso dan ceker pada mie ayam lainnya.
Makanan Ekonomis yang Mempunyai Beragam Varian
Mie ayam kini memiliki beragam varian, dan ditawarkan dengan banyak konsep yang bisa dicoba. Di daerah saya sendiri, terdapat Mie Ayam Mbak Sri yang memiliki ciri khas penggunaan mie pipih. Kuahnya medok, dengan toping nggak pelit berupa semur ayam hingga ati ampela yang dibanderol seharga Rp 7000an saja.
Sedangkan ada satu kedai baru di dekat pasar desa, yang memiliki ciri khas berupa tekstur mie lembut dengan ukuran kecil mirip konsep bakmi, dengan toping suwiran ayam renyah dan agak nyerempet tipikal Mie Gacoan. Harganya lumayanlah, sekira Rp 12.000an saja.
Pun dari konsep penjualannya, ada banyak penjual mie ayam versi gerobakan, maupun stay di lapak-lapak tepi jalan. Mie ayam gerobakan umumnya lebih fleksibel menjangkau masyarakat karena berkeliling atau mangkal di tikungan kampung. Kendati demikian, harga yang ditawarkan juga masih terbilang ekonomis di kisaran Rp6000-Rp 15.000 tergantung tambahan toping seperti ceker atau bakso. Tapi dengan harga segitu, customer sudah dapat free kripik pangsit dan level pedas sekuat lambung sendiri-sendiri.
Kuliner yang Enyoy Disantap Selepas Gajian
Bagi saya yang berasal dari kaum mendang-mending tapi masuk desil 6-10, mie ayam adalah suatu kuliner yang hampir wajib dinikmati selepas gajian. Bukan berarti selalu, tapi bisa dikata agak sering. Saya jadikan mie ayam sebagai pelampiasan lelah kerja, dan kelegaan sewaktu gaji masuk kantong kendati sementara, haha.
Seringnya, saya beli beberapa porsi untuk dinikmati keluarga di rumah, sambil bercanda guna menikmati momentum kebersamaan. Dalam hal ini, kadar ketahanan pedas kerap diuji antara saya dengan saudara.
Kendati demikian, ada kalanya saya ‘dipalak’ oleh adik untuk membelikan mie ayam. Toh tidak selalu, karena kadang adik sayalah yang membelikan jajanan untuk saya. Ibaratnya seperti saling memberi, saling menerima ya.
Mie Ayam dan Inflasi Nyata di Era Dewasa
Sewaktu saya pindah dari Kecamatan Ngantru, Tulungagung ke Kecamatan Pare, Kediri pada tahun 2004, ada satu penjual mie ayam gerobakan keliling yang membanderol dengan harga Rp 1200. Itu sudah lengkap dengan toping sayur, semur ayam, dan kripik pangsit. Nah, beranjak tahun, harganya melonjak menjadi Rp 2000, Rp 2500, Rp 3000, dan seterusnya.
Sekarang ini, penjualnya stay di lapak depan kediamannya bernama Mie Ayam Idaman dan stay di harga Rp 7000an free kripik pangsit. Selain menjual mie ayam, owner-nya juga menjual ayam potong di pagi hari.
Sejujurnya, saya bahagia masih ada mie ayam ekonomis seharga Rp 7000 in this economy. Namun, tetap rasa sedih mengingat laju inflasi yang ugal-ugalan. Saya sering berpikir mungkin karena gaya hidup boros, sehingga gaji ‘hampir’ numpang lewat. Namun, mungkin karena inflasi yang membuat segalanya mahal, sedangkan gaji stagnan.
Anyway, artikel ini saya tulis dalam kacamata konsumen yang terdampak inflasi bahkan sampai menghantam kuliner mie ayam, sekaligus sebagai penikmat sejarah mengenai akulturasi kuliner Tionghoa dan Nusantara. Saya kira, barangkali ada banyak kuliner di dunia ini yang mungkin merupakan akulturasi selama ratusan atau mungkin ribuan tahun. Jadi, gimana menurut kawan-kawan sekalian?