Lifestyle
Eksistensi Sambel Pecel Sebagai Lauk Ekonomis yang Cocok Buat Anak Kosan!
Salah satu sambal legendaris yang masih terus eksis sampai sekarang di bumi Nusantara adalah sambel pecel. Suatu cabang sambal kacang yang diolah dari bahan dan rempah, yang lazimnya disiramkan pada sayuran rebus sehingga menjadi menu: pecel atau nasi pecel.
Namun, eksistensinya kini bukan lagi sekadar sambal warisan nusantara semata. Melainkan tips berhemat di kala situasi tidak pasti dan goncangan ekonomi. Kok bisa?
Terbuat dari Bahan-Bahan Mudah Dijangkau
Menurut KBBI, pecel merupakan makanan yang terdiri atas beragam sayuran rebus yang disiram dengan sambal kacang. Nah, sambal kacang inilah yang disebut sambel pecel.
Ia terbuat dari bahan dan rempah yang murah meriah, mudah dibuat, dan tentunya masih bisa dijangkau kantong. Sambel pecel terbuat dari kacang tanah, cabai merah, cabai keriting, cabai rawit, bawang putih, kencur, daun jeruk purut, asam jawa, gula aren, garam, dan terasi yang diramu sehingga membentuk pasta sambal yang luket berwarna cokelat.
Kelebihan lainnya dari sambal ini adalah mampu awet selama beberapa hari di suhu ruang, dan bisa berhari-hari kalau disimpan di kulkas. Cara penyajiannya pun biasanya diberi air dan diencerkan lebih dahulu sebelum disiram pada sayuran. Namun, tanpa dicampur air pun, pasta sambal ini tetap terasa enak.
Bisa Dijadikan Lauk Darurat
Di era kondisi ekonomi terguncang dan laju inflasi gila-gilaan, kita harus pandai-pandai mengatur keuangan. Apalagi yang memiliki gaji stagnan, pastilah pusing tujuh keliling. Mencari side hustle memang menjadi pilihan, tapi pengaturan pengeluaran juga harus ketat.
Hal ini juga memengaruhi kebijakan pemilihan menu makan harian. Sebisa mungkin mengikat perut, bahkan downgrade menu-menu terjangkau. Disinilah, sambel pecel unjuk kemampuan menjadi lauk serbaguna.
Menu harian pecel tentu lebih murah ketimbang menu daging, ayam, atau ikan. Cukup membeli sayuran, dan protein nabati seperti tahu atau tempe sebagai tambahan. Kalau memang sedang berhemat, saya rasa makan nasi dengan sambel pecel saja sudah cukup mengingat harganya juga sangat ekonomis. Disclaimer, ini berdasarkan pengalaman dan opini pribadi ya. Saya yakin masing-masing individu memiliki sudut pandangnya sendiri.
Selain itu, sambel pecel juga bisa dijadikan lauk darurat di beberapa situasi seperti perbekalan camping atau naik gunung karena sifatnya yang awet selama beberapa hari kendati berada di suhu ruang. Atau bisa juga dijadikan stok lauk praktis di kosan. Skill luar biasa inilah yang menjadikannya sebagai opsi pilihan lauk murmer tapi tetap memiliki kandungan gizi.
Budaya Kuliner Turun Temurun yang Wajib Dilestarikan
Sambel pecel sebenarnya memiliki citarasa khas, yakni perpaduan gurih, pedas, sedikit asam, dan agak manis. Konsepnya, dia memang dirancang sebagai sambal siraman, sehingga citarasanya bakal saling melengkapi antara sayuran, tahu tempe goreng, rempeyek, dan nasi. Sekai hap, beuh surgawi….
Namun di beberapa situasi, sambel pecel sengaja dibuat sedikit lebih manis sebagai teman makan kerupuk. Pun yang pedas tetap nikmat dijadikan cocolan kok.
Sambel pecel sendiri telah eksis sejak masa lampau, tanpa ada sumber spesifik sejak kapan dia hadir. Eksistensinya sendiri telah menyebar ke banyak wilayah di Pulau Jawa. Sumber dari internet yang saya dapat menyebutkan bahwa pecel telah menyebar di Jawa Tengah, Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek, Madiun, dan beberapa wilayah lain dengan aneka variasinya. Seperti bubur pecel yang famous di Magetan.
Resepnya pun telah diturunkan turun temurun sejak jaman baheula, dan masih eksis sebagai produk yang tetap banyak diminati. Saya harap, ke depannya pun sambel pecel tetap hadir dan terus menemani kehidupan masyarakat, kendati harganya terus ditabrak inflasi. Jadi, bagaimana menurut teman-teman?