Lifestyle
Alasan Kita Sering Bicara Kepada Diri Sendiri, Bukan Karena Kesepian!
Pernahkah kamu tiba-tiba mengucapkan sesuatu saat sedang mencari barang yang lupa diletakkan, mengulang percakapan yang baru saja terjadi, atau berkata, “Aduh, kenapa tadi aku begitu, sih?” padahal tidak ada orang lain di sekitarmu?
Jika pernah, kamu tidak sendirian. Kebiasaan berbicara kepada diri sendiri atau yang belakangan populer disebut self-talk merupakan bagian yang cukup akrab dalam kehidupan sehari-hari. Meski begitu, berbicara sendiri masih sering dianggap aneh, terutama ketika dilakukan di tempat umum.
Kita mungkin merasa malu saat ketahuan menggumam atau tanpa sadar menjawab pertanyaan sendiri. Padahal, jika diperhatikan, banyak orang melakukannya dalam berbagai situasi, mulai dari aktivitas sederhana di rumah hingga ketika menghadapi pekerjaan yang rumit.
Lantas, mengapa kita begitu sering berbicara kepada diri sendiri, dan apakah kebiasaan ini sebenarnya sewajar yang kita kira?
Dari Mencari Barang sampai Menghadapi Hari yang Melelahkan
Bentuk self-talk yang paling sederhana sering muncul ketika kita melakukan aktivitas sehari-hari. Misalnya, saat mencari kunci motor, kita bergumam, “Tadi ditaruh mana, ya?” Ketika memasak, kita mengingatkan diri sendiri, “Jangan lupa matikan kompor.”
Dalam situasi seperti ini, berbicara sendiri terasa seperti kebiasaan spontan. Kita mengucapkan apa yang sedang dipikirkan tanpa menyadari kita sedang melakukannya. Hal-hal semacam ini menunjukkan bahwa percakapan tidak selalu membutuhkan lawan bicara. Terkadang, kita hanya sedang mengekspresikan pikiran yang muncul saat menjalani aktivitas.
Punya Teman Bicara, Meski Hanya Diri Sendiri
Menariknya, berbicara kepada diri sendiri tidak selalu berkaitan dengan pekerjaan atau aktivitas praktis. Ada kalanya kita melakukannya karena ingin mengungkapkan sesuatu yang sulit disampaikan kepada orang lain.
Pernah membayangkan percakapan yang seharusnya terjadi, lalu menjawab sendiri seolah-olah sedang berbicara dengan seseorang? Atau mengulang argumen yang ingin disampaikan kepada teman, pasangan, maupun rekan kerja? Situasi seperti ini cukup mudah ditemukan dalam keseharian.
Misalnya, setelah mengalami perdebatan, seseorang mungkin mengulang kejadian tersebut sambil memikirkan jawaban yang seharusnya diberikan. Ada pula yang berbicara sendiri ketika sedang mempertimbangkan keputusan, seolah-olah sedang berdiskusi dengan teman yang memahami situasinya.
Bagi sebagian orang, kebiasaan ini menjadi cara untuk menyusun kata-kata sebelum berbicara kepada orang lain. Bagi yang lain, berbicara sendiri sekadar terasa menyenangkan, terutama ketika sedang sendirian dan tidak memiliki siapa pun untuk diajak mengobrol.
Tentu, setiap orang memiliki kebiasaan berbeda. Tidak semua orang merasa perlu mengungkapkan pikirannya dengan suara keras. Ada yang lebih nyaman memikirkan semuanya dalam diam.
Mengapa Kita Masih Merasa Malu Ketahuan Bicara Sendiri?
Walaupun cukup umum terjadi, berbicara sendiri terkadang menimbulkan rasa canggung ketika dilakukan di hadapan orang lain. Bayangkan sedang berjalan di tempat umum, lalu tanpa sadar kamu berkata, “Ya ampun, aku lupa lagi!” Tiba-tiba seseorang menoleh karena mengira kamu sedang berbicara dengannya.
Situasi sederhana seperti itu bisa membuat kita langsung terdiam atau berpura-pura sedang menelepon. Reaksi tersebut menunjukkan bahwa berbicara sendiri masih dianggap tidak lazim dalam situasi sosial tertentu. Kita terbiasa menganggap percakapan sebagai aktivitas yang melibatkan setidaknya dua orang.
Padahal, konteks tetap penting. Bergumam pelan ketika mengingat sesuatu tentu berbeda dengan berbicara keras di tengah rapat hingga mengganggu orang lain. Kebiasaan pribadi tidak harus dipermasalahkan selama kita tetap menghargai situasi dan kenyamanan orang di sekitar.
Tidak Semua Hal Harus Dipikirkan dalam Diam
Pada akhirnya, self-talk merupakan kebiasaan sehari-hari yang tidak perlu langsung dianggap aneh. Kita bisa melakukannya ketika sedang mencari barang, menyelesaikan pekerjaan, mengingat sesuatu, atau sekadar mengungkapkan kekesalan setelah menjalani hari yang panjang.
Terkadang, kata-kata keluar begitu saja karena pikiran sedang sibuk memproses banyak hal. Kita memang tidak selalu membutuhkan orang lain untuk mengungkapkan setiap pikiran yang muncul. Ada kalanya, gumaman kecil kepada diri sendiri sudah cukup untuk menemani aktivitas yang sedang dilakukan.
Jadi, jika suatu hari kamu mendapati dirimu sedang berbicara sendiri, tidak perlu buru-buru merasa aneh. Bisa jadi, kamu hanya sedang menjalani hari seperti biasa, lengkap dengan pikiran-pikiran yang sesekali perlu dikeluarkan lewat kata-kata.
Sebab, tidak semua percakapan harus memiliki pendengar. Terkadang, kita hanya perlu mendengar apa yang sedang kita pikirkan sendiri. Apakah kamu punya kebiasaan bicara pada diri sendiri?