Lifestyle

Lewat Festival Lab Belajar Ibu, Tiga Perempuan Bagikan Makna Kesuksesan yang Beragam

Lewat Festival Lab Belajar Ibu, Tiga Perempuan Bagikan Makna Kesuksesan yang Beragam
Lewat Festival Lab Belajar Ibu, Tiga Perempuan Bagikan Makna Kesuksesan yang Beragam. (Suara.com/Zarina Febry Aisya Putri)

Pilihan karier, kondisi keluarga, hingga keputusan untuk mengasuh anak di rumah kerap menjadi bahan perbandingan di antara para ibu. Padahal, setiap perempuan memiliki kebutuhan dan tantangan berbeda dalam menentukan arti keberhasilan bagi dirinya.

Persoalan ini menjadi salah satu pembahasan dalam Festival Lab Belajar Ibu bertema Semua Karir Ibu Dirayakan di Paragon Community Hub, Sabtu (24/10/2026).

Dalam sesi diskusi, tiga perempuan dari latar belakang berbeda berbagi pengalaman tentang perjalanan karier, pengasuhan, dan pentingnya dukungan bagi ibu.

Ketiganya adalah Jamika Nasaputra, seorang product designer; Anindya R. Fauziah, CMO Alkindi Kids; serta Afifah A. Maghend dari bidang corporate social responsibility (CSR) Paragon Corp.

Diskusi bertajuk Jalan Ibu Berbeda-beda: Merayakan Pilihan, Bukan Membandingkan Perjalanan tersebut menyoroti bagaimana standar kesuksesan yang seragam dapat membuat ibu merasa bersalah atas pilihan hidupnya sendiri.

Karier Tak Harus Berakhir pada Jabatan Tinggi

Jamika Nasaputra menceritakan perjalanan kariernya yang tidak selalu berjalan sesuai jalur konvensional. Dengan latar belakang pendidikan yang tidak linier, ia mengawali karier dengan membuat materi presentasi untuk direksi sebelum berkembang menjadi seorang product designer.

Seiring bertambahnya usia anak-anak, Jamika mulai memaknai ulang keberhasilan. Baginya, pencapaian tidak harus selalu ditandai dengan kenaikan jabatan atau posisi tinggi di perusahaan.

"Awalnya saya merasa harus mencapai puncak karier dari jabatan kantor. Namun makin ke sini, seiring anak-anak makin besar, saya merasa keberdayaan tidak harus diukur dari jabatan tinggi. Saya bisa membuat karya sendiri yang memang 'aku banget' tanpa harus disuruh-suruh, dan saya merasa sangat happy dengan jalan ini," tutur Jamika.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perubahan arah karier tidak selalu berarti kemunduran. Bagi sebagian ibu, ruang untuk berkarya secara mandiri dan tetap menikmati prosesnya justru menjadi bagian penting dari keberhasilan.

Menemukan Makna di Tengah Kelelahan

Sementara itu, Anindya R. Fauziah berbagi pengalaman membangun Alkindi Kids dari nol sembari mengasuh dua bayi. Pada masa awal merintis usaha, ia harus menangani berbagai pekerjaan, mulai dari operasional dan penyusunan modul hingga pemasaran.

Pengalaman tersebut membuatnya menyadari pentingnya memiliki tujuan yang jelas dan lingkungan yang mendukung. Menurut Anindya, kebermanfaatan dari pekerjaan dapat menjadi salah satu sumber motivasi ketika ibu menghadapi kelelahan.

"Satu circle yang punya visi sama dan nilai kebermanfaatan yang luas itulah yang menjadi bahan bakar utama perjalanan kami. Ketika merasa lelah atau burnout, melihat dampak kecil bahwa apa yang kita bagikan bisa membimbing ibu lain berdaya untuk anak-anaknya, di situlah nilai hidup kita kembali menyala," ungkapnya.

Ia juga mengajak para ibu untuk tidak semata-mata mengukur keberhasilan melalui pencapaian materi. Makna dan kecukupan, menurutnya, dapat menjadi pertimbangan lain dalam menilai perjalanan hidup.

Dukungan Ibu Dimulai dari Rumah dan Tempat Kerja

Dukungan dari lingkungan sekitar turut menjadi perhatian dalam diskusi tersebut. Afifah A. Maghend membagikan pengalamannya mendampingi program CSR di Paragon Corp, tempat lebih dari 80 persen pekerjanya disebut merupakan perempuan.

Menurut Afifah, ibu membutuhkan ruang untuk membangun jejaring, berbagi pengalaman, dan menemukan dukungan dari orang-orang dengan situasi serupa.

"Perempuan itu hanya butuh ruang untuk diketemukan, berjejaring, dan saling berbagi cerita. Ketika mereka dikumpulkan dengan energi yang sama, mereka akan menjadi sangat hebat dengan caranya masing-masing," ujarnya.

Ia juga mencontohkan sejumlah bentuk dukungan di lingkungan kerja, seperti pemahaman terhadap pekerja ketika anak sakit, beasiswa pendidikan anak, dan penyediaan fasilitas penitipan anak (daycare) pada periode tertentu.

Inisiatif tersebut memperlihatkan bahwa dukungan bagi ibu tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan individu. Kebijakan tempat kerja dan pembagian tanggung jawab pengasuhan di rumah turut menentukan ruang bagi perempuan untuk berkembang.

Dalam sesi tanya jawab, para panelis mengajak peserta menilai pilihan hidup berdasarkan kebutuhan dan nilai yang diyakini, bukan semata-mata pencapaian orang lain.

Anindya mengatakan, salah satu tanda seseorang mulai mantap dengan pilihannya adalah ketika ia dapat mengevaluasi perjalanan hidup dengan lebih tenang dan menyadari pertumbuhan dirinya.

Festival ditutup dengan kegiatan butterfly hug atau pelukan diri yang disertai afirmasi positif. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa ibu yang bekerja di kantor, membangun usaha, maupun berfokus mengasuh anak memiliki perjalanan dan tantangan masing-masing.

Alih-alih membandingkan pilihan, dukungan terhadap ibu perlu memberi ruang bagi setiap perempuan untuk menentukan bentuk keberhasilannya sendiri.

Penulis: Zarina Febry Aisya Putri

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Komentar

Rekomendasi

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda