News
Relevansi Filsafat Dialektika Hegel: Sistem Tanam Paksa di Hindia Belanda
Apabila bericara tentang filsafat maka akan banyak sekali anggapan yang muncul, seperti anggapan bahwa filsafat merupakan ilmu yang mengawang-awang, abstrak dan sulit di pahami. Namun pada kenyataannya filsafat merupakan sebuah ilmu yang merujuk kepada pertanyaan, dalam hal ini pertanyaan ini bertujuan untuk mengkaji secara lebih mendalam tentang suatu pengetahuan yang ada.
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari filsafat ini didasarkan pada rasa ketidakpuasan akan suatu kenyataan, keiinginan untuk menggali suatu kebenaran yang ada dan keinginan untuk mengetauhi stuktur dasar dari suatu pengetahuan yang ada. Jadi secara sederhana filsafat merupakan seni berpikir kritis karena filsafat menawarkan cara bertanya untuk menemukan suatu kebenaran yang mutlak. Filsafat juga mengacu kepada pertanyaan yang sulit dijawab namun bisa dijawab, filsafat juga dibimbing oleh sebuah cara berpikir atau cara pandang.
Jika dihubungkan dengan kehidupan manusia maka filsafat dialektika Hagel adalah filsafat yang paling dekat dengan kehidupan manusia. Hal ini dapat dilihat ada abad ke-19 di mana filsafat merupakan sistem pemikiran yang paling berpengaruh.
Pada tahun 1770-1831di Jerman muncul seorang filsafat yang sangat menonjol, pemikiran filsafatnya sangat besar hingga keluar jerman. Beliau bernama George Wilhem Friedrich Hegel, beliau merupakan pemikir modern yang paling besar pengaruhnya di mana konsep pemikiran filsafatnya kini menjadi sumber dari paham radikal.
Sistem filsafat Hegel merupakan suatu sintesis dari dari filsafat Fichte dan Schelling. Sehingga filsafat dialektika Hegel terdiri atas tiga fase yakni pertama “tesis” yang melahirkan lawannya “antithesis” sebagai fase kedua kemudian fase ketiga sintesis yang lahir untuk memperdamaikan fase pertama dan kedua. Dahlil yang membuat Hegel terkenal adalah “ semua yang rill bersifat rasional dan semua yang bersifat rasional bersifat rill” dahlil ini memiliki konsep tesis-anti tesis- sintesis.
Relevansi Filsafat Dialektika Terhadap Sistem Tanam Paksa di Hindia Belanda 1830-1870
Sistem tanam paksa (cultuurestelsel) merupakan kebijakan yang dibuat untuk menggantikan praktik sewa tanah dan digagas seorang Gubernur Jendral Van den Bosch pada tahun 1830.
Tahapan tesis pada sistem tanam paksa di Hindia Belanda dapat dilihat pada keadaan perekonomian Belanda yang sedang kacau karena gagalnya penerapan praktik sewa tanah untuk meningkatkan kegiatan ekspor ditambah dengan kerugian dan hutang akibat dua perang yang dihadapinya. Perang yang dihadapi yakni perang melawan Belgia di Eropa dan perang melawan Dipenegoro di Hindia Belanda.
Penerapan sistem tanam paksa di Hindia Belanda merupakan tahap sintesis dalam peristiwa ini, karena dengan menerapkan sistem tanam paksa pemerintah Belanda dapat membebankan negeri jajahanya untuk membayar hutang-hutang yang mereka miliki.
Tujuan utama penerapan sistem tanam paksa ini adalah meningkatkan produksi ekspor tanaman, sehingga dapat menguasai pasar dunia dan secara otomatis mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, seharusnya dalam praktik tanam paksa masyarakat tidak terlalu dirugikan namu karena terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh pegawai Belanda dan penguasa Pribumi maka kurang lebih lima puluh tahun masyarakat harus menderita.
Penerapan tanam paksa ditambah lagi penyelewengan yang yang dilakukan oleh pegawai dan kaki tangan Belanda tentunya memberikan dampak yang negatif terhadap perkembangan sosial dan ekonomi msyarakat yang tinggal di pedesaan.
Penyelewengan ini memberikan dampak yang sangat buruk kepada masyarakat di mana pada masa itu banyak masyarakat yang kelaparan dan bahkan meninggal, selain itu eksploitasi terhadap masyarakat juga menyebabkan banyak masyarakat yang melarikan diri, selain itu sistem tanam paksa juga menghapuskan sistem ekomoni ang bersifat subsisten pada petani.
Penghapusan praktik sistem tanam paksa pada tahun 1870 menjadi tahap sintesis dalam penerapan sistem tanam paksa di Hindia Belanda pada tahun 1830-1870, namun ternyata penghapusan sistem tanam paksa ini tidak seutuhnya membebaskan penderitaan petani, karena setelah penghapusan sistem tanam paksa pemerintah Belanda memberlakukan sistem liberal yang ternyata malah memperkeruh keadaan terutama petani.
Daftar pustaka
- Aprilia Tirza Alfa. Irawan Hendi. Santosa Prasetya Budi Yusuf. 2014. Meninjau Praktik Kebijakan Tanam Paksa di Hindia Belanda 1830-1870. Vol.(1)
- Suryajaya Martin. 2020. Pengertian filsafat Ilmu Pengetahuan. https://youtu.be/Rqklt9pRiDg.
- Suryajaya Martin. 2020. Pengetian Filsafat. https://youtu.be/wrRWOW4XSsE