News
Main Karet di GBK Bareng Komunitas Bermain: Nostalgia Seru yang Kadang Terbentur Ribetnya Izin
Jumat, 1 Mei 2026 menjadi hari yang sulit saya lupakan. Di bawah langit senja Ibu Kota, saya berdiri di Lapangan Parkir Timur Gelora Bung Karno (GBK), mencoba pengalaman baru yang sudah lama tak saya rasakan. Malam itu, ratusan orang berkumpul dengan keresahan yang sama, yaitu rindu masa kecil. Masa di mana hidup terasa ringan tanpa beban tanggung jawab.
Kami datang bukan sekadar untuk berkumpul, tetapi untuk menghidupkan kembali kenangan yang perlahan memudar. Komunitas Bermain menjadi ruang temu bagi kerinduan itu. Bagi saya, malam tersebut bukan hanya tentang bermain, tetapi juga tentang menemukan kembali rasa bebas sekaligus membuka diri untuk bertemu orang-orang baru.
Saya datang bersama dua teman, Vicka dan Meili. Namun, kami terpisah ke dalam kelompok yang berbeda. Awalnya, hal ini sempat membuat saya canggung. Saya harus berdiri di tengah orang-orang yang belum saya kenal sama sekali.Menariknya, banyak peserta lain ternyata datang sendirian dan juga baru pertama kali bergabung.
Perlahan, kecanggungan itu mulai hilang. Percakapan kecil, tawa, dan interaksi sederhana membuat suasana terasa hangat.Dari situ saya menyadari, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Justru, suasana inilah yang memudahkan siapa pun untuk berkenalan dan merasa diterima.
Mulai dari yang Asing

Permainan pertama yang saya coba adalah suit monopoli. Permainan yang sebelumnya terasa asing di telinga saya, karena belum memahami cara bermainnya, saya sempat mengamati teman lain terlebih dahulu, lalu bertanya kepada anggota kelompok.
Ternyata, permainannya cukup mudah. Permainan ini dimainkan oleh dua kelompok yang saling berhadapan. Setiap pemain harus berjalan dengan satu kaki mengikuti jalur yang telah ditentukan. Di tengah jalur, dua pemain akan bertemu dan melakukan suit. Pihak yang kalah keluar, sementara yang menang melanjutkan perjalanan hingga bertemu pemain berikutnya. Kelompok yang berhasil mencapai ujung barisan lawan menjadi pemenang. Permainan pembuka ini membuat suasana terlasa lebih mencair dan banyak dari kami yang sudah mulai berbaur.
Semakin Ramai, Semakin Dekat
Setelah mulai terbiasa, suasana semakin seru saat permainan bulan-bulanan dimulai. Sebelum bermain, panitia menjelaskan berbagai gerakan yang harus dilakukan berdasarkan kata kunci dari nama bulan.Permainan ini menuntut kerja sama dan kecepatan berpikir. Kami harus menyesuaikan jumlah anggota sesuai bulan yang disebut, sehingga interaksi dengan peserta lain semakin luas. Tanpa disadari, saya mulai mengenal lebih banyak orang.
Saya memang harus mengakui kekalahan setelah beberapa ronde. Namun, waktu istirahat justru menjadi momen untuk berbincang santai dengan peserta lain dan melihat keseruan kelompok lain
Kembali Ke Permainan Lama
Permainan terakhir yang saya coba adalah lompat karet. Permainan yang lumayan terdengar familiar daripada permainan lainnya. Meski begitu, ini bukan permainan yang saya kuasai. Awalnya saya ragu untuk ikut, tetapi dorongan dari teman-teman membuat saya akhirnya mencoba.
Ternyata, permainan ini tetap menyenangkan meskipun saya sering gagal, terutama saat ketinggian karet mulai bertambah. Justru dari situ, tawa dan keseruan semakin terasa.

Antara Nostalgia dan Tantangan
Selama bermain di sana saya menemukan fakta menarik. Ternyata, banyak peserta yang datang sendirian dan baru pertama kali bergabung. Awalnya saya sempat bertanya-tanya, apakah mereka tidak merasa canggung? Namun, seiring permainan berlangsung, saya menyadari bahwa suasana yang terbentuk membuat siapa pun mudah merasa diterima.
Malam itu saya pulang dengan perasaan lelah, tetapi juga bahagia. Setelah sekian lama, saya bisa kembali merasakan kebebasan sederhana seperti masa kecil.
Namun, di balik keseruan tersebut, Komunitas Bermain masih menghadapi tantangan besar, terutama soal perizinan tempat. Co-Founder Komunitas Bermain, Daffa Iqbal, mengungkapkan bahwa kendala ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di berbagai daerah.
“Di beberapa daerah itu biasanya itu kesulitan itu tempat, karena anak komunitas bermain itu cukup banyak ya. Bahkan, di Surabaya aja yang baru buka 3 bulan itu dia udah hampir 3000 anggota” ucap Iqbal.
Ia menjelaskan bahwa jumlah anggota yang besar sering kali tidak sebanding dengan ketersediaan ruang. Tempat yang luas umumnya membutuhkan proses perizinan yang panjang, sementara tempat yang lebih mudah diakses justru tidak mampu menampung banyak peserta. Di Jakarta sendiri, kondisi kini mulai membaik. Setelah melalui berbagai diskusi dengan pihak terkait, Komunitas Bermain telah mendapatkan kemudahan untuk menggunakan Lapangan Parkir Timur GBK secara rutin setiap Jumat malam.
“Sekarang kita udah part of GBK. Jadi kita gak perlu kayak bikin surat izin tiap minggu atau kita nunggu approval tiap minggu” ujar iqbal.
Harapan Ke Depannya
Meski demikian, di daerah lain tantangan perizinan masih menjadi hambatan utama. Proses birokrasi yang berlapis membuat komunitas kesulitan untuk menggelar kegiatan dalam skala besar, padahal aktivitas yang dilakukan bersifat positif dan tidak merusak lingkungan.

“Oh kamu harus izin ke sini, nanti sampai sini muter ke tempat lain lagi,” keluh Iqbal saat bercerita.
Iqbal berharap ke depan pemerintah dapat lebih mempermudah akses perizinan, terutama untuk komunitas yang bergerak dalam pelestarian permainan tradisional. Ia juga menekankan pentingnya penyederhanaan birokrasi, terutama di era digital saat ini.
“Birokrasi perizinan itu sampai sekarang itu aku masih pengen lebih simple ya. Apalagi sekarang zaman digital ya. Harusnya bisa lebih mudah gitu untuk komunitas-komunitas anak muda itu untuk mengadakan kegiatan” ucap Iqbal.
Tentunya, dukungan pemerintah, terutama dalam mempermudah perizinan tempat menjadi penting agar kegiatan ini dapat terus berlangsung. Selain tidak merugikan, menurut saya komunitas seperti ini justru berperan dalam melestarikan budaya permainan tradisional Indonesia agar tetap hidup di tengah berkembangnya zaman.