News

Solusi Menkeu Baru Soal 17+8 Tuntutan Rakyat: Bikin Ekonomi Ngebut Biar Rakyat Sibuk Cari Makan Enak

Solusi Menkeu Baru Soal 17+8 Tuntutan Rakyat: Bikin Ekonomi Ngebut Biar Rakyat Sibuk Cari Makan Enak
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) memiliki kekayaan sekitar Rp 39 miliar. Dilaporkan pada Maret 2025. [Antara/Dhemas Reviyanto]

Di saat negara baru saja melewati salah satu gelombang demo terbesar pasca-reformasi, Menteri Keuangan (Menkeu) yang baru dilantik, Purbaya Yudhi Sadewa, muncul dengan sebuah pernyataan yang dijamin bikin banyak orang auto mengernyitkan dahi.

Saat ditanya soal "17+8 Tuntutan Rakyat" yang jadi "kitab suci" para demonstran, jawaban Purbaya sungguh di luar dugaan. Menurutnya, tuntutan yang menyuarakan amarah jutaan orang itu hanyalah "suara dari sebagian kecil rakyat."

Solusi Versi Menkeu: Ekonomi Tumbuh, Demo Hilang Otomatis

Dalam konferensi pers perdananya di kantor Kemenkeu, Senin (8/9/2025), Purbaya dengan santai menanggapi tuntutan rakyat tersebut.

"Saya belum belajar itu, tapi sederhananya begini, itu kan suara sebagian kecil rakyat kita. Kenapa? Mungkin sebagian merasa terganggu, hidupnya masih kurang ya,” kata Purbaya.

Ia seolah menganggap gelombang protes yang melumpuhkan berbagai kota itu hanyalah keluhan segelintir orang yang kebetulan hidupnya sedang susah.

Lalu, apa solusinya menurut sang menteri? Bukan dialog atau reformasi politik. Solusinya, kata dia, adalah ekonomi. Purbaya berjanji akan fokus menyusun strategi agar pertumbuhan ekonomi bisa ngebut sampai 6-7 persen.

Logikanya sederhana: kalau ekonomi bagus, rakyat bakal sibuk kerja dan nggak akan punya waktu buat demo.

"Mereka akan sibuk cari kerja dan makan enak, dibandingkan demo," tambahnya.

Sebuah pernyataan yang sangat teknokratis, tapi mungkin terasa sangat jauh dan tidak peka bagi mereka yang turun ke jalan bukan cuma karena urusan perut, tapi juga karena rasa keadilan yang terluka.

Janji Tidak Akan 'Ngobrak-abrik' Warisan Sri Mulyani

Di sisi lain, Purbaya mencoba menenangkan pasar. Ia berjanji tidak akan merombak total kebijakan fiskal yang sudah dibangun oleh pendahulunya, Sri Mulyani Indrawati, yang santer diisukan mundur.

“Kami akan optimalkan sistem yang ada. Biasanya kalau kejelekan pemimpin baru, yang lama itu diobrak-abrik... Saya tidak akan seperti itu pendekatannya,” janji Purbaya.

Ia juga dengan percaya diri menepis keraguan soal pengalamannya di bidang fiskal. Ia mengklaim pernah membantu Presiden SBY pada krisis 2008 dan berada di samping Presiden Jokowi saat merumuskan kebijakan di masa pandemi COVID-19.

“Jadi kalau dibilang saya tidak punya pengalaman (fiskal), salah besar,” tegasnya.

Sebuah Awal yang Kontroversial

Pernyataan perdana Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan ini menjadi sebuah awal yang sangat kontroversial. Di satu sisi, ia mencoba menampilkan citra sebagai seorang profesional yang fokus pada angka dan pertumbuhan.

Tapi di sisi lain, pernyataannya yang meremehkan "17+8 Tuntutan Rakyat" menunjukkan adanya jurang persepsi yang sangat dalam antara Istana dan jalanan.

Pertanyaannya sekarang, apakah strategi "bikin rakyat sibuk cari makan enak" ini akan benar-benar berhasil memadamkan api, atau justru akan makin menyulutnya karena dianggap tidak menyentuh akar masalah yang sebenarnya?

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Komentar

Rekomendasi

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda