"Kenapa kau diam saja di dinding itu, Cicak? Dunia luar penuh petualangan!" tanya seekor lalat yang beterbangan di sekitar, suaranya berdengung seperti angin malam.
"Aku bukan sekadar cicak," jawab cicak itu dengan suara pelan, mata kecilnya berkedip.
"Aku adalah Pablo Neruda, penyair yang pernah mencinta lautan dan bintang. Kini, aku kembali dalam tubuh ini, mencari puisi baru di antara celah-celah batu."
Lalat itu tertawa, sayapnya bergetar.
"Penyair? Kau hanya reptil kecil yang menangkap serangga! Apa yang bisa kau ubah?"
Cicak yang bernama Pablo itu tersenyum dalam hati. Ia lahir kembali di sebuah desa kecil di pegunungan Chile, bukan sebagai manusia, tapi sebagai cicak rumah biasa.
Tubuhnya hijau keabu-abuan, ekornya panjang dan bisa putus jika terancam. Tapi ingatannya utuh: puisi-puisi tentang cinta, revolusi, dan keindahan alam. Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Pablo Neruda, pemenang Nobel yang kata-katanya mengguncang dunia.
Kematiannya pada 1973 membawanya ke alam roh, tapi rohnya memilih kembali—bukan sebagai burung agung atau singa ganas, melainkan cicak sederhana. Mengapa? Karena ia percaya, kebesaran sejati datang dari yang kecil.
Pablo si cicak hidup di dinding rumah seorang pemuda bernama Mateo, seorang penulis muda yang kehilangan inspirasi.
Mateo tinggal sendirian di pondok kayu tua, di mana angin pegunungan menyusup melalui retakan. Setiap malam, Mateo duduk di meja, menatap kertas kosong, pena di tangannya tak bergerak.
"Aku tak bisa lagi," gumamnya sering. "Puisi-ku mati, seperti daun musim gugur."
Pablo mengamati dari sudut langit-langit. Ia ingat masa lalunya: menulis "Twenty Love Poems and a Song of Despair" di bawah cahaya lilin, kata-kata yang membuat hati manusia bergetar. Kini, sebagai cicak, ia tak bisa memegang pena.
Tapi ia punya lidah panjang dan mata tajam. Suatu malam, saat Mateo tertidur, Pablo merayap turun. Ia melihat secarik kertas dengan puisi setengah jadi: "Angin pegunungan menyapa, tapi hati-ku sunyi."
Pablo berpikir, "Hal kecil yang mengubah." Itu adalah mantra yang muncul dalam benaknya, seperti puisi lama yang terlupakan. Ia mulai bertindak. Dengan lidahnya, ia menangkap seekor nyamuk yang mengganggu Mateo, membiarkan pemuda itu tidur nyenyak. Pagi harinya, Mateo bangun segar, dan menulis baris baru.
Tapi itu baru permulaan. Pablo ingin lebih. Ia bertemu dengan teman-teman hewan lain di sekitar rumah. Ada Burung Kolibri, yang sayapnya berwarna pelangi, selalu sibuk mencari nektar. "Pablo, kau penyair besar! Mengapa tak terbang seperti aku?" tanya Kolibri.
"Aku tak butuh sayap untuk terbang," jawab Pablo. "Puisi-ku adalah sayap-ku."
Lalu ada Semut Ratu, pemimpin koloni di bawah lantai. "Kau bisa bergabung dengan kami, Cicak. Kami membangun kerajaan dari butiran tanah."
Pablo menggeleng. "Aku di sini untuk menginspirasi, bukan memerintah."
Suatu hari, badai datang. Hujan deras membanjiri desa, dan rumah Mateo bocor. Mateo putus asa, puisi-puisinya basah kuyup.
Pablo, dari dinding, melihat peluang. Ia merayap ke taman, di mana bunga-bunga liar tumbuh. Dengan gigi kecilnya, ia memetik sehelai daun basah dan membawanya ke meja Mateo. Daun itu jatuh tepat di atas kertas basah, meninggalkan noda hijau yang membentuk pola aneh—seperti huruf puisi.
Mateo terbangun, melihat noda itu. "Apa ini?" gumamnya. Tapi noda itu mengingatkannya pada lautan hijau di puisi Neruda. Ia mulai menulis: "Dari tetes hujan, lahir kata baru."
Pablo tersenyum. "Hal kecil yang mengubah," bisiknya lagi.
Cerita Pablo menyebar di antara hewan-hewan. Seekor Kucing Liar mendengar dan datang mengintai. "Cicak penyair? Aku bisa menelan-mu dalam sekejap!"
Pablo tak takut. "Telan aku, dan puisi-ku akan hidup di perut-mu, membuat-mu bernyanyi."
Kucing tertawa tapi mundur, terpesona oleh keberanian cicak kecil.
Pablo memutuskan untuk petualangan besar. Ia meninggalkan rumah Mateo, merayap ke hutan. Di sana, ia bertemu Sungai yang mengalir deras. "Pablo, kau kecil, jangan dekat!" peringatkan Ikan di air.
Tapi Pablo melompat ke daun terapung, mengarungi arus. Di tengah sungai, ia melihat air terjun. "Ini seperti kehidupan-ku: jatuh dan bangkit lagi."
Di hutan, ia menemukan sebuah gua di mana roh-roh penyair lama bersembunyi. Roh Walt Whitman muncul sebagai kabut. "Neruda, mengapa kau pilih tubuh cicak?"
"Karena cicak melihat dunia dari bawah," jawab Pablo. "Dari dinding, aku lihat manusia berjuang. Aku ingin tunjukkan, inspirasi datang dari yang tak terlihat."
Whitman mengangguk. "Maka, ciptakan puisi baru."
Pablo kembali ke rumah Mateo. Kali ini, ia tak sembunyi. Saat Mateo menulis, Pablo merayap ke meja. Mateo terkejut. "Cicak kecil, kau tak takut?"
Pablo diam, tapi dengan ekornya, ia menyentuh pena Mateo, seolah mendorong.
Mateo tersenyum, dan menulis puisi tentang cicak: "Tubuh kecil, roh besar, mengubah dunia dengan diam."
Puisi itu menjadi terkenal. Mateo menerbitkannya, dan orang-orang datang ke desa, mencari inspirasi. Mereka tak tahu, cicak itu adalah Neruda yang kembali.
Pablo, kini bahagia, merayap ke matahari terbenam. Ia ingat kata-katanya sendiri: "Aku ingin hidup seperti sungai yang bernyanyi." Sebagai cicak, ia bernyanyi melalui tindakan kecil.
Mateo, kini penyair sukses, sering berbisik ke dinding: "Terima kasih, teman kecil." Dan Pablo, dari balik batu, menjawab dalam hati: "Hal kecil yang mengubah segalanya."
Dari daun yang jatuh, nyamuk yang tertangkap, hingga sentuhan ekor di pena, cicak itu membuktikan bahwa inspirasi tak selalu lahir dari hal besar.
Dunia yang luas pun bisa digerakkan oleh tindakan sederhana. Pablo Neruda, dalam tubuh cicak, mengingatkan: roh kreatif tak pernah mati; ia hanya berubah bentuk, tetap menginspirasi siapa saja yang bersedia melihat dengan hati.