News

Tutorial Menahan "Lapar Mata" Pas Ngabuburit: Biar Saldo Gak Ikut-ikutan Puasa

Tutorial Menahan "Lapar Mata" Pas Ngabuburit: Biar Saldo Gak Ikut-ikutan Puasa
Warga memilih takjil yang dijajakan di Pasar Takjil Ramadhan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta, Rabu (4/3/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Dalam pikiran saya, saat menyambut Ramadan dari sudut finansial tentu membuka peluang untuk lebih berhemat. Terlebih di tengah kondisi ekonomi yang sedang goyah, tentu momentum puasa yang hanya makan sehari dua kali bisa menjadi cara menekan kebiasaan boros.

Sayangnya, harapan ini tidak sejalan dengan realita di lapangan. Niat ingin berhemat malah kalah dengan keinginan menyenangkan perut setelah seharian berpuasa. Saya pribadi mengalami situasi ini dari tahun ke tahun, apalagi kalau sudah berkunjung ke bazar kuliner Ramadan.

Pada akhirnya, pengeluaran selama bulan Ramadan malah jadi lebih banyak dan terkesan boros. Bahkan, situasi ini sudah menjadi fenomena massal karena kita mulai terseret aktivitas konsumtif, terutama menjelang waktu berbuka.

Pengeluaran bulanan kemudian membengkak saat bulan puasa, terlebih di penghujung bulan Ramadan dengan seabrek kebutuhan menjelang Lebaran. Lalu salahnya di mana? Tentu saja pola konsumsi yang cenderung berlebihan selama Ramadan yang menjadi sebab utamanya.

Membeli Terlalu Banyak Makanan Saat Berbuka

Kesalahan konsumsi dengan membeli terlalu banyak makanan untuk berbuka sebenarnya merupakan fenomena sosial yang dialami hampir semua orang. Setelah menahan lapar seharian, banyak orang merasa ingin menikmati berbagai jenis makanan sekaligus.

Melihat aneka hidangan di pasar Ramadan atau di pinggir jalan sering membuat orang tergoda untuk membeli lebih dari satu jenis makanan. Kolak, gorengan, es buah, jajanan kekinian, hingga makanan berat sering dibeli bersamaan.

Padahal, saat waktu berbuka tiba, tubuh tidak selalu mampu mengonsumsi semuanya. Akibatnya, sebagian makanan hanya dimakan sedikit atau bahkan tidak tersentuh sama sekali. Bisa dibilang kondisi ini menjadi bagian dari fenomena “lapar mata”.

Kondisi tersebut terjadi ketika seseorang ingin membeli makanan karena tampilannya, bukan karena benar-benar dibutuhkan. Saat berpuasa, otak menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan makanan, dan suasana ramai menjelang berbuka dapat memicu keinginan membeli lebih banyak.

Tanpa disadari, makanan yang dibeli sering kali jauh lebih banyak daripada yang benar-benar diperlukan. Apalagi kalau datang ke pasar Ramadan tanpa perencanaan, dijamin bakal kalap dan pulang dengan banyak belanjaan.

Tidak Membuat Perencanaan Menu

Jika melihat dari pengalaman pribadi yang bisa ditarik lurus dengan fenomena massal yang ada, pemborosan saat Ramadan tidak lepas dari minimnya perencanaan belanja, terutama untuk mempersiapkan menu berbuka puasa.

Tanpa perencanaan, seseorang cenderung membeli makanan secara spontan berdasarkan apa yang terlihat menarik saat itu. Akibatnya, belanja makanan menjadi tidak terkontrol. Kita membeli makanan yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, hanya karena tergoda oleh suasana atau promosi yang sedang berlangsung.

Padahal dengan perencanaan sederhana, seperti menentukan menu harian atau membuat daftar belanja, pengeluaran bisa menjadi lebih terkendali. Kita juga bakal terhindar dari membeli makanan terlalu banyak.

Ramadan Boros: Terlalu Banyak Membeli Makanan?

Hidangan buka puasa sering kali menjadi bagian yang paling menggoda saat Ramadan. Berbagai makanan manis dan ringan tersedia dalam banyak pilihan yang menarik, bahkan sudah dijajakan di pinggir jalan sejak sore hari.

Namun, orang cenderung tergoda membeli menu berbuka puasa dalam jumlah terlalu banyak. Padahal, biasanya makanan-makanan ini hanya dimakan dalam porsi kecil sebelum beralih ke hidangan utama.

Jika jumlahnya terlalu banyak, sebagian takjil akhirnya tidak dimakan atau bahkan terbuang. Hal inilah yang kemudian menggeser esensi kesederhanaan Ramadan karena terjadi pemborosan uang dan makanan sekaligus.

Belum lagi selama Ramadan, berbagai tempat makan dan platform belanja sering menawarkan promo khusus. Diskon makanan, paket berbuka, hingga promo minuman sering muncul di berbagai tempat untuk menarik pelanggan.

Promo ini memang bisa menghemat pengeluaran jika digunakan dengan bijak. Namun, jika tidak dikontrol, penawaran promosi tersebut justru bisa memicu konsumsi berlebihan. Belum lagi godaan tren makanan viral yang ingin dicoba meski sebenarnya tidak terlalu diperlukan.

Belajar Konsumsi yang Lebih Bijak

Agar tidak boros selama Ramadan, penting untuk mulai mengatur pola konsumsi dengan lebih bijak. Salah satu cara paling sederhana yang juga mulai saya terapkan adalah membeli atau menyiapkan makanan secukupnya, termasuk membuat daftar belanja untuk menghindari pembelian impulsif.

Saya pun masih berbelanja dan mendatangi bazar Ramadan, hanya saja saya datang dengan perencanaan lebih dulu. Mulai dari menu berbuka dan sahur yang mungkin ingin dibeli hingga barang-barang kebutuhan Lebaran yang harus dibeli.

Satu hal yang perlu kita ingat, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang belajar hidup lebih sederhana. Puasa mengajarkan kita untuk menghargai makanan dan tidak berlebihan dalam memenuhi kebutuhan.

Dengan pola konsumsi yang lebih terkontrol, kondisi keuangan akan tetap stabil dan kita bisa menjaga kesehatan tubuh selama menjalankan ibadah puasa. Sebab, Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki kebiasaan konsumsi, bukan sekadar bulan penuh hidangan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda