News
Komidi Putar 1975
Di pinggiran kota kecil Blitar, tahun 2023, hujan deras mengguyur malam itu. Andi, seorang jurnalis lepas berusia 35 tahun, mengendarai mobil tuanya menyusuri jalan berlubang menuju desa terpencil.
Dia mendengar rumor tentang taman hiburan lama yang ditinggalkan sejak 1975. Konon, ada komidi putar yang masih utuh, meski seluruh tempat itu telah ditelan hutan.
Andi ingin menulis artikel tentang misteri hilangnya pengunjung terakhir di sana. Dia tidak percaya hantu, tapi cerita itu pasti bisa jadi sensasi.
Mobilnya berhenti di gerbang berkarat bertuliskan Taman Ria 1975. Andi mematikan mesin, angin malam menusuk kulitnya. Dia menyenter ke depan, melihat reruntuhan wahana: bianglala patah, rumah hantu yang roboh. Tapi di tengah, samar-samar, ada siluet komidi putar.
Bulat, dengan kuda-kuda kayu berukiran aneh, seperti wajah manusia yang menyeringai. Andi mendekat, jantungnya berdegup lebih cepat.
Mengapa masih ada listrik? Lampu-lampu neon berkedip lemah, memancarkan cahaya kuning yang kusam.
Dia menyentuh pegangan besi dingin. Tiba-tiba, musik organ mulai berputar. Nada pelan, seperti lagu anak tapi terdistorsi, nada-nada fals yang membuat bulu kuduk merinding.
Andi mundur, tapi kakinya seperti tertarik.
"Ini pasti rekaman lama," gumamnya.
Dia naik ke atas platform, untuk memeriksa. Kuda-kuda itu... mata mereka seolah mengikuti gerakannya. Ukiran wajah di tiang pusat mirip anak kecil, tapi ekspresinya ada yang salah: mulut terbuka lebar dan mata yang seakan kosong.
Andi mengambil foto dengan ponselnya. Flash menyala, dan sesaat, dia melihat bayangan di balik kuda. Seorang gadis kecil? Tidak, pasti itu khayalan.
Dia mencoba memutar tuas kontrol. Komidi mulai bergerak pelan. Angin berhembus, membawa bau amis seperti darah basi. Andi tertawa gugup.
"Oke, cukup. Turun sekarang." Tapi saat dia melangkah, platform berputar lebih cepat. Musik semakin kencang, nada-nada menusuk telinga seperti jeritan.
Dia terjatuh ke salah satu kuda. Tubuhnya terikat oleh entitas tak kasat mata, seperti ada tangan dingin memeluknya. Komidi berputar liar sekarang. Pemandangan sekitar kabur: hutan, reruntuhan, tapi sesekali muncul gambar lain.
Tahun 1975? Andi melihat orang-orang berpakaian lama, tertawa di taman yang ramai. Seorang pria tua mengoperasikan komidi, wajahnya pucat. Anak-anak naik, tapi satu per satu, dan mereka menghilang. Andi mengedip, dan gambar itu berubah. Seorang gadis kecil, berpakaian putih, duduk di kuda sebelahnya. Matanya hitam pekat, tanpa pupil.
"Siapa kamu?" bisik Andi, suaranya hilang dalam musik. Gadis itu tersenyum, giginya tajam seperti jarum. "Aku yang hilang pertama. Tahun 1975."
Andi berusaha bangun, tapi kuda itu seperti hidup, kulit kayunya berdenyut di bawah telapak tangannya. Komidi berputar lebih cepat, angin menusuk seperti pisau. Dia merasa waktu melambat. Napasnya pendek, jantung berdegup tak beraturan.
Bayangan flashback muncul lagi. Pria tua itu, operator komidi, adalah seorang dukun gila. Dia menyumpah komidi untuk menangkap jiwa anak-anak, demi keabadian.
Setiap putaran, satu jiwa hilang, diganti dengan ukiran di tiang. Andi melihat gadis itu ditarik ke dalam cermin di pusat komidi. Jeritannya bergema. Kembali ke sekarang, gadis itu mendekat.
"Kamu yang berikutnya," bisiknya. Andi meronta, tapi tubuhnya mati rasa. Ponselnya jatuh, layarnya retak menunjukkan jam: 1975.
Komidi pun melambat. Andi terengah, tapi saat dia turun, kakinya gemetar. Hutan sekitar tampak berbeda: pohon-pohon lebih muda, langit cerah pagi.
"Apa ini?" Dia berlari ke gerbang, tapi desa di luar bukan Blitar modern. Orang-orang berpakaian 70-an menatapnya aneh. Andi panik, memeriksa tanggal di koran lama: 15 Agustus 1975. Dia terjebak di masa lalu.
Malam tiba lagi. Andi bersembunyi di reruntuhan, tapi musik komidi memanggilnya kembali. Dia tahu: setiap malam, komidi berputar, mencari korban baru. Dia melihat dirinya sendiri—atau seseorang mirip—naik komidi di 1975. Andi adalah pria tua itu.
Wajahnya sama, tapi lebih muda.
"Tidak mungkin," gumamnya. Tapi ingatan muncul: sebagai anak, dia pernah ke taman ini, melihat gadis hilang. Trauma itu membuatnya jadi jurnalis, tapi sekarang, lingkaran waktu menjebaknya.
Gadis hantu itu muncul lagi, tangannya menyentuh bahu Andi. Dingin menusuk tulang.
"Kamu yang membuatku seperti ini. Kamu yang mengoperasikan." Andi ingat: di masa depan, dia akan jadi dukun itu, gila karena terjebak. Komidi ini bukan hanya berhantu; ia adalah perangkap waktu, memutar nasib korban menjadi pelaku.
Andi berlari ke komidi, mencoba menghancurkannya. Tapi saat dia memukul tiang, tangannya tersedot ke dalam ukiran. Tubuhnya berubah, kulitnya keriput, rambutnya memutih.
Dia jadi pria tua. Musik berputar lagi, dan dia melihat gadis kecil itu naik—dirinya di masa lalu? Tidak, itu Andi kecil. Kemudian lingkaran pun tertutup.
Kembali ke 2023? Tidak. Andi terjebak selamanya, mengoperasikan komidi, menunggu korban berikutnya. Setiap putaran, jeritan baru bergema. Sensasi itu ketakutan tak berujung, waktu yang melingkar seperti komidi, tanpa adanya akhir.
Di kota Blitar modern, artikel Andi tak pernah terbit. Mobilnya ditemukan kosong di gerbang. Rumor baru muncul: komidi putar 1975 memanggil nama-nama yang hilang. Lalu siapa berikutnya?