News

Di Balik Jendela KRL: Pelajaran yang Tak Pernah Diajarkan Dosenku di Dalam Kelas

Di Balik Jendela KRL: Pelajaran yang Tak Pernah Diajarkan Dosenku di Dalam Kelas
Rangkaian KRL Commuter Line melintas di kawasan Tanah Abang [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Setiap orang punya alasan masing-masing dalam memilih transportasi umum. Ada yang ingin menghindari macet, menghemat biaya, atau sekadar karena itu memang pilihan paling praktis. Bagiku, KRL sudah menjadi bagian dari keseharian selama menjadi mahasiswa di sebuah universitas swasta di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Hampir setiap pagi aku berangkat dari Stasiun Tebet menuju Stasiun Universitas Pancasila. Rutinitasku nyaris selalu sama: mencari tempat duduk jika beruntung, memasang earphone, lalu menikmati perjalanan sambil mendengarkan musik atau membaca komik di ponsel.

Aku tidak pernah menyangka, sebuah perjalanan yang terlihat biasa justru menjadi pengalaman yang paling membekas selama aku menggunakan transportasi umum.

Pertemuan Tak Terduga di Jam Sibuk

Pagi itu, sekitar tahun 2024. Waktu menunjukkan pukul 07.15 WIB, sekitar 45 menit sebelum mata kuliah Sosiologi dimulai. Meski suasana KRL sudah padat karena jam berangkat kerja, aku bersyukur masih mendapat tempat duduk.

Semuanya berjalan seperti biasanya hingga kereta berhenti di Stasiun Pasar Minggu. Penumpang semakin banyak, bahkan lorong antargerbong dipenuhi orang yang berdiri rapat. Saat itulah, mataku tak sengaja menangkap sosok yang sangat kukenal di gerbong sebelah. Beliau adalah dosen Sosiologi yang beberapa puluh menit lagi akan mengajar kelasku.

Awalnya aku ingin menghampiri dan menyapa. Rasanya menyenangkan bisa bertemu dosen di perjalanan menuju kampus. Namun, kondisi kereta yang penuh sesak membuatku sama sekali tidak mungkin berpindah ke gerbong sebelah. Alhasil, aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan.

Beberapa menit kemudian, beliau mulai menyandarkan tubuhnya ke kursi. Kepalanya perlahan miring ke samping. Beliau tertidur.

Aku menganggap itu hal yang wajar. Mungkin beliau kelelahan. Siapa pun yang setiap hari beraktivitas sejak pagi tentu pernah merasakan lelah di perjalanan. Namun, ketika kereta tiba di Stasiun Lenteng Agung—satu stasiun sebelum tujuan kami—beliau masih belum terbangun.

Kepanikan di Antara Lautan Penumpang

Aku mulai gelisah. Bagaimana kalau beliau kelewatan turun?

Aku berusaha mencari jalan agar bisa menghampiri, tetapi padatnya lautan penumpang membuatku benar-benar mati kutu dan tidak bisa bergerak. Aku hanya berharap suara pengumuman di dalam kereta mampu membangunkannya.

"Stasiun Universitas Pancasila. Segera periksa barang bawaan Anda dan berhati-hati antara jarak peron dengan kereta."

Pengumuman itu terdengar berulang kali. Aku terus menatap cemas ke arah gerbong sebelah, dan beliau ternyata masih tertidur pulas.

Aku segera turun dari kereta dengan harapan masih sempat berlari menyusuri peron, masuk ke gerbong sebelahnya, dan membangunkannya sebelum pintu tertutup. Sayangnya, aku kalah cepat. Pintu kereta menutup tepat saat aku baru saja mulai berlari.

Aku hanya bisa mematung melihat rangkaian KRL perlahan meninggalkan stasiun, membawa dosenku yang masih terlelap melaju melewati tujuan yang seharusnya.

Rahasia yang Tersimpan Rapat

Perjalanan singkat dari stasiun menuju kampus terasa jauh lebih berat dibanding biasanya. Aku terus memikirkan apa yang akan terjadi. Apakah beliau baru akan bangun di stasiun berikutnya? Apakah kelas kami akan dibatalkan? Atau, jangan-jangan beliau baru sadar ketika kereta sudah sampai di stasiun akhir, Stasiun Bogor?

Sesampainya di kelas, aku memilih diam. Dalam hati, aku masih berharap beliau segera tiba. Namun hingga lebih dari pukul 08.00, beliau belum juga menampakkan batang hidungnya. Teman-teman mulai bertanya-tanya karena beliau hampir tidak pernah terlambat mengajar.

Akhirnya, aku menceritakan kejadian di KRL tadi kepada koordinator kelas. Teman-teman terkejut. Beberapa bahkan protes dan bertanya mengapa aku tidak membangunkannya. Padahal, sejak turun dari kereta, pertanyaan itu juga terus menghantuiku dengan rasa bersalah.

Tak lama kemudian, koordinator kelas menerima pesan dari dosen kami. Beliau memberi kabar akan datang terlambat karena mengalami kendala di perjalanan.

Sekitar pukul 08.35 WIB, beliau akhirnya tiba di kelas. Beliau tersenyum seperti biasa, lalu dengan jujur menjelaskan bahwa dirinya ketiduran di KRL hingga melewati Stasiun Universitas Pancasila. Setelah baru terbangun di Stasiun Universitas Indonesia, beliau langsung berlari dan menyeberang untuk mengejar kereta arah sebaliknya demi kembali ke Universitas Pancasila.

Mendengar penjelasan itu, rasa bersalahku semakin menjadi-jadi. Aku tahu persis kapan beliau mulai tertidur. Aku tahu beliau melewati stasiun tujuan. Aku bahkan sempat berlari untuk mencoba membangunkannya, tetapi tidak berhasil. Sampai hari itu berakhir, aku dan teman-teman sepakat untuk menyembunyikan rapat-rapat fakta bahwa sebenarnya aku berada di kereta yang sama pagi itu.

Pelajaran Berharga dari Balik Jendela Kereta

Kini, ketika mengingat kembali peristiwa kocak nan tragis tersebut, aku menyadari bahwa transportasi umum bukan sekadar sarana untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Di dalam satu gerbong KRL, ada mahasiswa yang terburu-buru mengejar kelas, pekerja yang harus tiba tepat waktu, orang tua yang lelah setelah bekerja, hingga seorang dosen yang tanpa sadar tertidur pulas karena kelelahan.

Memilih naik transportasi umum membuatku belajar melihat kehidupan dari jarak yang lebih dekat. Aku belajar bahwa setiap orang sedang membawa cerita dan porsi perjuangannya masing-masing.

Dan dari perjalanan pagi yang hanya berlangsung beberapa puluh menit itu, aku juga belajar bahwa kepedulian kepada sesama penumpang adalah hal sederhana yang ternyata sangat berarti. Sampai hari ini, setiap kali pengumuman nama stasiun terdengar di dalam KRL, aku selalu teringat pagi itu. Sebuah perjalanan yang seharusnya biasa saja, tetapi justru meninggalkan pelajaran berharga yang tidak pernah kudapatkan di bangku ruang kelas.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda