News
Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan
Menjadi ibu dan istri sering berarti mengurus banyak hal sekaligus. Ketika sebagian besar waktu dihabiskan untuk keluarga, ruang untuk melakukan sesuatu bagi diri sendiri bisa semakin sedikit. Bukan karena keinginan untuk belajar atau bertemu orang lain hilang, tetapi karena selalu ada kebutuhan keluarga yang terasa lebih dulu harus diselesaikan.
Hal itu yang dirasakan Sari setelah sekitar 15 tahun menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Sementara Vira, yang juga seorang ibu, menyadari lingkar pertemanannya semakin terbatas karena teman-temannya mulai sibuk dengan keluarga masing-masing.
Keduanya kemudian menemukan ruang yang memungkinkan mereka kembali melakukan sesuatu untuk diri sendiri melalui Fun English for Ladies, komunitas belajar bahasa Inggris khusus perempuan di Bogor.
Bagi Sari, keputusan untuk bergabung bukan sekadar soal ingin lebih lancar berbicara bahasa Inggris. Setelah bertahun-tahun berada di rumah, ia ingin kembali memiliki aktivitas di luar rutinitas keluarga.
Sari sebelumnya pernah bekerja kantoran. Namun, sekitar 15 tahun lalu ia memutuskan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Ketika anak-anaknya mulai beranjak besar, muncul keinginan untuk mencari kegiatan baru.
Ia pun tidak langsung datang ke komunitas tersebut. Sari lebih dulu melihat video, foto, dan membaca testimoni di kolom komentar sebelum akhirnya memutuskan mencoba. Ia tidak ingin memasang ekspektasi terlalu tinggi.
"Saya gak mau ekspektasi tinggi-tinggi," katanya. Ia hanya ingin bertemu orang baru dan mendapatkan energi positif. Ternyata, kekhawatiran itu tidak terbukti.
Di usia 51 tahun, Sari menjadi salah satu peserta paling senior. Sebagian peserta lain bahkan seusia dengan anak-anaknya. Namun, perbedaan usia justru membuatnya mendapatkan pengalaman baru. Ia merasa semangat dari peserta yang lebih muda ikut menular kepadanya.
Satu setengah jam setiap Sabtu akhirnya menjadi waktu yang ia tunggu. Bagi Sari, waktu tersebut bukan hanya untuk belajar bahasa Inggris, tetapi juga menjadi "me time", kesempatan untuk berhenti sejenak dari urusan rumah tangga dan mengisi kembali energinya.
"Anak yang bahagia itu lahir dari ibu yang bahagia," ujarnya.
Bagi Sari, memberi waktu kepada diri sendiri bukan berarti mengurangi perhatian kepada keluarga. Justru, ia merasa memiliki ruang untuk berkembang membuatnya bisa kembali ke rumah dengan energi yang berbeda.
Ia juga ingin anak-anaknya melihat bahwa belajar tidak berhenti ketika seseorang sudah menjadi ibu atau memasuki usia tertentu. Karena itu, ia berusaha menunjukkan bahwa dirinya masih mau mencoba sesuatu yang baru.
Di saat yang sama, Sari mulai memikirkan kemungkinan untuk kembali bekerja secara remote. Kemampuan bahasa Inggris menjadi salah satu bekal yang ingin ia siapkan. Setiap kali berani berbicara di depan peserta lain, kepercayaan dirinya perlahan tumbuh.
Bahasa Inggris Menjadi Pintu Masuknya

Ia bergabung bukan karena secara khusus sedang mencari kelas bahasa Inggris. Ia memang senang mengikuti komunitas untuk mencari teman. Menurutnya, kebutuhan untuk bertemu dan berbincang dengan orang lain justru semakin terasa ketika usia bertambah.
Bagi ibu rumah tangga, kata Vira, situasinya bisa berbeda dengan mereka yang masih bekerja. Teman yang bekerja masih memiliki kesempatan bertemu rekan di kantor, sementara teman-teman yang sama-sama menjadi ibu rumah tangga sudah memiliki kesibukan masing-masing.
Sebelum menemukan Fun English for Ladies, Vira sempat mengikuti komunitas board game dan olahraga. Namun, komunitas ini memberinya pengalaman yang berbeda. Ia menggambarkan perasaannya dengan kalimat sederhana: "dirinya keluar lagi".
Selama menjadi ibu rumah tangga, Vira menjalankan berbagai peran. Ia adalah ibu, istri, sekaligus guru bagi anak-anaknya. Dalam kesibukan tersebut, ia merasa ada bagian dari dirinya yang sempat tertutup oleh berbagai tanggung jawab. Di komunitas itu, Vira merasa bisa kembali mengenali dirinya sebagai individu. Ia bisa bertemu perempuan lain, berbincang, sekaligus melakukan aktivitas yang memberinya sesuatu untuk dipelajari.
Khusus perempuan juga membuatnya merasa lebih nyaman. Ada topik tertentu yang menurut Vira lebih mudah dibicarakan bersama perempuan lain. Pertemuan tersebut akhirnya tidak berhenti sebagai kegiatan belajar, tetapi berkembang menjadi ruang untuk berbagi pengalaman dan membangun pertemanan.
Vira pernah tinggal di Bali dan cukup sering berinteraksi dengan turis asing. Dari pengalaman tersebut, ia memahami bahwa percakapan tidak harus selalu menggunakan grammar yang sempurna selama pesan yang disampaikan dapat dipahami.
Pandangan itu pula yang ia rasakan di Fun English for Ladies. Peserta tidak dituntut untuk langsung fasih. Mereka justru didorong untuk berani mencoba.
Bagi Sari dan Vira, keberanian untuk terus belajar menjadi bagian penting dari perjalanan mereka. Keduanya tidak sedang berusaha meninggalkan peran sebagai ibu atau istri. Mereka hanya ingin memiliki ruang lain untuk berkembang di luar peran tersebut.
Di ruang itu, kesalahan dalam mengucapkan kata tidak menjadi sesuatu yang memalukan. Tidak ada peserta yang ditertawakan atau dibandingkan berdasarkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Prinsip "no judgement" membuat mereka bisa datang tanpa harus menjadi sempurna.
Pengaruhnya bahkan terasa setelah kelas selesai. Sari bercerita bahwa suaminya pernah mengatakan dirinya pulang dengan energi baru dan terlihat lebih ceria. Bagi Sari, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa memiliki waktu untuk diri sendiri bukanlah sesuatu yang egois. Ada kebutuhan untuk merawat diri, belajar, bertemu orang lain, dan menjaga semangat agar tetap tumbuh.
Sementara bagi Vira, ruang tersebut membantunya merasa lebih utuh. Ia tetap menjalankan perannya di rumah, tetapi kini memiliki tempat untuk menjadi dirinya sendiri, bukan hanya seseorang yang menjalankan tanggung jawab untuk orang lain.
Pada akhirnya, pemberdayaan perempuan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Dalam cerita Sari dan Vira, proses itu muncul dari kesempatan yang sederhana: keluar rumah, bertemu orang lain, belajar sesuatu yang baru, dan berani berbicara meski belum sempurna.
Setiap Sabtu, keduanya datang bukan untuk mencari cara menjadi perempuan yang berbeda. Mereka datang untuk memberi kesempatan kepada diri sendiri agar tetap tumbuh di tengah kehidupan yang sudah dipenuhi banyak peran.
Di antara kalimat bahasa Inggris yang kadang masih terbata-bata, Sari dan Vira menemukan sesuatu yang lebih penting dari sekadar kemampuan berbahasa: keyakinan bahwa menjadi ibu dan istri tidak berarti harus berhenti menjadi diri sendiri.