News

Healing Murah Meriah: Keliling Jakarta Naik Transum

Healing Murah Meriah: Keliling Jakarta Naik Transum
Bus Transjakarta. (Dok. Suara.com)

Berada di usia pertengahan 20-an sering kali membuat kita berada di fase yang gampang-gampang susah. Kerjaan di kantor lagi sibuk-sibuknya, burnout mulai terasa nyata, tapi kalau mau healing ke luar kota, budget dan sisa cuti rasanya kurang bersahabat. Sebagai perempuan yang lahir dan besar dengan rutinitas ibu kota, saya akhirnya menemukan satu cara reset pikiran yang murah, mudah, dan ternyata sangat menyenangkan: keliling Jakarta naik transportasi umum seharian!

Banyak yang mungkin skeptis dan bertanya, “Memangnya bisa healing di Jakarta? Bukannya malah stres lihat macet?”

Kuncinya ternyata ada pada cara kita menikmati perjalanan tanpa harus memegang setir. Akhir pekan lalu, saya memutuskan untuk melakukan solo date dan menjadi "turis di kota sendiri". Tanpa perlu pusing mencari tempat parkir atau membayar ojek online yang harganya kadang bikin meringis, ini adalah rute perjalanan healing tipis-tipis saya dari pinggiran Jakarta Timur menuju pusat kota, lalu diakhiri dengan ngopi santai di Jakarta Selatan.

1. Memulai Pagi dari Pasar Rebo ke Monas
Perjalanan saya mulai dari rumah di kawasan Pasar Rebo yang sejuk di pagi hari. Tanpa repot memanaskan motor, saya cukup berjalan kaki sedikit ke titik pemberhentian terdekat untuk naik JakLingko rute JAK-73 (Jambore Cibubur - Pasar Rebo). Selain armadanya yang kini bersih dan pendingin udaranya terasa sejuk, bagian paling menyenangkan tentu saja karena tarifnya Rp0. Cukup tap kartu uang elektronik, dan saya sudah bisa duduk nyaman menelusuri jalanan pagi.

Saya lalu turun di titik pemberhentian yang terintegrasi dengan Halte TransJakarta Flyover Raya Bogor. Dari halte ini, perjalanan dilanjutkan menggunakan bus TransJakarta Koridor 7 (arah Kampung Melayu). Sesampainya di halte transit Cawang UKI, saya berpindah ke bus rute 5C (PGC - Juanda). Rute 5C ini adalah andalan saya kalau mau ke pusat kota. Saya tinggal duduk manis di dekat jendela, memasang TWS, memutar playlist lagu-lagu pop indie andalan, dan membiarkan bus melaju mulus melintasi Salemba hingga akhirnya saya turun tepat di Halte Monas.

Menghabiskan waktu pagi di area Monas, berjalan kaki di bawah rindangnya pohon, melihat rusa, dan menghirup udara segar yang jarang ditemui saat weekdays rasanya benar-benar sukses menyegarkan pikiran sebelum matahari terlalu terik.

2. Membelah Jantung Kota Menuju Selatan (Monas ke Blok M)
Setelah puas mengitari kawasan Monas dan mengumpulkan ribuan langkah kaki, perut mulai memberikan sinyal lapar. Destinasi selanjutnya tentu saja kawasan kuliner andalan anak muda: Blok M.

Nah, dari Halte Monas, rutenya sangat praktis. Saya tidak perlu pusing memikirkan titik transit lagi, cukup menunggu bus TransJakarta Koridor 1 (Kota - Blok M). Bagi saya, ini adalah salah satu rute paling ikonik di Jakarta. Sepanjang perjalanan, kita disuguhi pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang berjejer rapi di sepanjang jalan MH Thamrin hingga Sudirman. Mulai dari Bundaran HI, Patung Pemuda Membangun, hingga deretan trotoar lebar yang bersih dan tertata.

Duduk di dalam bus yang luas dan melaju di jalur khusus sambil melihat tata kota Jakarta dari balik kaca jendela yang besar memberikan sensasi city sightseeing yang luar biasa menenangkan. Bus ini membawa saya langsung turun di dalam Terminal Blok M, titik pusat dari segala keriaan di Jakarta Selatan.

3. Ngopi, Makan, dan Menikmati Waktu di Blok M
Kawasan Blok M adalah tempat yang sempurna untuk beristirahat setelah lelah berjalan. Turun dari halte terminal, saya langsung disambut berbagai pilihan tempat makan yang menggugah selera. Hari itu, saya memilih makan siang hidangan Jepang yang autentik di area Little Tokyo Melawai, lalu dilanjutkan dengan mampir ke salah satu kedai kopi hits untuk membeli segelas es kopi susu dan sepotong pastry.

Dengan kopi di tangan, saya berjalan kaki sebentar menuju Taman Literasi Martha Tiahahu. Duduk di area amfiteater taman yang rindang sambil membaca buku bacaan favorit, melihat orang-orang berlalu-lalang mengobrol santai, dan menikmati semilir angin sore benar-benar menjadi definisi me-time yang paripurna. Pikiran yang tadinya ruwet memikirkan urusan spreadsheet dan tumpukan deadline kantor rasanya luntur perlahan terbawa suasana yang santai.

4. Perjalanan Pulang yang Mulus (Blok M ke Pasar Rebo)
Menjelang sore hari, saat langit mulai memancarkan semburat kemerahan dan tubuh sudah merasa cukup puas berekreasi, tiba waktunya untuk pulang ke rumah. Tidak perlu repot memikirkan rute rumit untuk kembali ke ujung Timur, karena saya hanya perlu melangkah kembali ke dalam Terminal Blok M.

Dari peron terminal, saya langsung menaiki armada TransJakarta rute 7B (Blok M - Kampung Rambutan). Rute ini sangat praktis karena jalurnya membelah kawasan Selatan menuju Timur, melewati rute Jalan Kapten Tendean dan Pancoran tanpa harus melakukan transit sama sekali. Sambil bersandar dan mengistirahatkan kaki yang pegal setelah seharian berjalan, saya menikmati sisa hari dari dalam bus yang melaju cukup stabil. Sesampainya di halte pemberhentian sekitaran Jalan Raya Bogor di Pasar Rebo, saya kembali menaiki armada JakLingko JAK-73 andalan yang langsung mengantarkan saya dengan selamat hingga ke depan gang rumah.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda