News

Jalan Sore Pukul Panci, Suara Ibu Indonesia Protes MBG di Jogja

Jalan Sore Pukul Panci, Suara Ibu Indonesia Protes MBG di Jogja
Peserta aksi memukul peralatan dapur dan membentangkan berbagai poster kritik sosial saat menggelar aksi “Jalan Sore Pukul Panci” di Yogyakarta, Selasa (8/9/2026) sore. (Foto: Redaksi Yoursay.id)

YOGYAKARTA — Denting panci, wajan, dan spatula terdengar dengan nyaring di sepanjang Jalan Cik Di Tiro, Yogyakarta pada Selasa (8/9/2026) sore. Suara itu datang dari puluhan peserta aksi “Jalan Sore Pukul Panci” yang berjalan dari Tugu Golong Gilig menuju Bundaran UGM.

Aksi tersebut digelar oleh Suara Ibu Indonesia bersama jaringan masyarakat sipil, mahasiswa, dan orang tua murid. Para peserta mengenakan atribut bernuansa pink sambil membawa peralatan dapur yang dibunyikan sepanjang perjalanan. Aksi ini sekaligus memperingati satu tahun gerakan pukul panci Suara Ibu Indonesia.

Sebelum berjalan, peserta berkumpul di Tugu Golong Gilig untuk mengikuti pengarahan seraya bersiap-siap berbaris dan bergerak menuju ke arah timur. Panitia mengatur peserta dalam formasi dua-dua agar perjalanan tetap tertib dan tidak mengganggu arus lalu lintas.

Beberapa titik menjadi tempat peserta berhenti untuk menyampaikan orasi. Salah satunya berada di sekitar lampu merah Mirota Kampus. Peserta juga mengajak membunyikan klakson para pengendara sebagai bentuk solidaritas dari pengguna jalan. Perjalanan kemudian dilanjutkan hingga Bundaran UGM sebagai titik akhir aksi.

Bunyi peralatan dapur menjadi simbol utama dalam aksi tersebut. Suara yang identik dengan aktivitas domestik para ibu dibawa keluar rumah dan hadir di ruang publik sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah.

Aktivis perempuan dan penulis Kalis Mardiasih menyebut aksi tersebut sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa keberanian membela keselamatan anak masih dimiliki masyarakat.

“Keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan keberanian untuk berpihak kepada anak masih kita miliki sampai hari ini!” ujar Kalis dalam orasinya di tengah aksi.

Kalis kemudian menyinggung perkembangan kasus keracunan yang dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyebut data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang mencatat jumlah korban telah mencapai sekitar 43 ribu orang.

Menurut data yang disampaikan Kalis, angka tersebut terdiri dari pelajar, anak-anak, dan ibu hamil. Ia juga menyoroti kasus di Kecamatan Turi, Sleman, yang menurutnya melibatkan tiga sekolah dengan 45 pelajar masih menjalani perawatan medis.

“Anak-anak berangkat ke sekolah untuk belajar, dan Bapak-Ibu guru berangkat untuk mengajar, bukan untuk diandalkan mengurus ompreng piring makanan!” lanjut Kalis.

Ia juga meminta guru, kepala sekolah, dan orang tua murid untuk berani menyampaikan kritik terhadap program tersebut. Dalam orasinya, Kalis menyinggung dugaan intimidasi terhadap orang tua korban serta pembatasan akses wartawan di fasilitas kesehatan tempat siswa dirawat. Pernyataan tersebut disampaikan Kalis sebagai bagian dari kritiknya terhadap tata kelola MBG.

Kritik serupa disampaikan Mieke Verawati selaku perwakilan dari MBG Watch. Dalam orasinya, perwakilan organisasi tersebut mempertanyakan tata kelola program MBG yang menurut mereka telah berjalan selama 22 bulan dengan tiga kali pergantian pimpinan lembaga pengelola.

“Apakah latar belakang pimpinan tersebut ada hubungannya dengan pemenuhan hak atas gizi anak? Sama sekali tidak nyambung!” ujar Mieke Verawati sebagai perwakilan MBG Watch dalam orasinya pada aksi tersebut.

Ia juga mempertanyakan belum adanya pertanggungjawaban hukum yang dianggap transparan atas kasus keracunan yang mereka soroti. MBG Watch mendorong keluarga korban mendapatkan pendampingan hukum dan membuka kemungkinan mengajukan class action.

Dalam pernyataan sikapnya yang dibacakan bersama di penghujung acara, Suara Ibu Indonesia menyampaikan tiga tuntutan utama. Pertama, menghentikan program MBG dan mengalihkan anggarannya untuk mitigasi serta penanganan bencana, pendidikan, dan kesehatan.

Kedua, menghentikan segala bentuk kekerasan dan intimidasi terhadap masyarakat sipil yang menyampaikan kritik. Ketiga, menghentikan upaya membenturkan konflik horizontal yang dinilai dapat mengalihkan perhatian publik dari persoalan tata kelola program.

Tuntutan pengalihan anggaran juga dikaitkan peserta aksi dengan kondisi kebencanaan di berbagai wilayah Indonesia. Dalam pernyataan sikap yang serupa, mereka menyinggung gempa, kebakaran hutan dan lahan, banjir, tanah longsor, hingga erupsi gunung berapi yang membutuhkan mitigasi serta pemulihan berkelanjutan.

Bagi Suara Ibu Indonesia, aksi pukul panci menjadi cara mereka membawa kegelisahan dari ruang domestik ke ruang publik. Panci yang biasanya menjadi bagian dari aktivitas memasak berubah menjadi alat untuk menyampaikan keberatan terhadap kebijakan negara.

Sore itu, perjalanan dari Tugu Golong Gilig menuju Bundaran UGM menjadi panggung terbuka bagi para ibu, mahasiswa, dan kelompok masyarakat sipil untuk menyuarakan tuntutan mereka. Di antara lalu lintas kendaraan dan aktivitas warga Yogyakarta, denting peralatan dapur terus berbunyi, sebuah tanda bahwa persoalan keselamatan anak dan tata kelola kebijakan publik tidak ingin mereka biarkan berhenti di balik pintu rumah.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda