News

Syarat Utama Menjadi Orang Tua Adalah Menyembuhkan Diri Sendiri

Syarat Utama Menjadi Orang Tua Adalah Menyembuhkan Diri Sendiri
Ilustrasi memeluk dan menerima diri [pinterest/ysj]

Setiap orang pasti memiliki mimpi menjadi orang tua yang baik untuk anaknya di masa yang akan datang. Saya pun memimpikannya sejak saat ini, saat dimana foto background biru itu belum tercetak. Langkah awal yang bisa saya lakukan adalah menyiapkan diri dengan belajar ilmu parenting. Sebagai alumni didikan Voc - Parenting, saya tidak ingin anak-anak saya nanti merasakan hal yang sama dengan apa yang saya dapatkan sedari kecil. Oleh karenanya, saya memilih untuk mempelajari ilmu Gentle - Parenting, seperti  yang lagi banyak dibicarakan belakangan ini di media sosial.

Voc - Parenting dikenal dengan cara mendidik anak secara kaku, keras dan menuntut kepatuhan mutlak dari anak. Dimana kita patuh akan perintah orang tua hanya karena takut, bukan karena benar-benar patuh. Kita harus menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Hal itu membuat saya tumbuh merasa seperti tidak memiliki pilihan hidup dan memiliki rasa kurang percaya diri.

Komunikasi yang hanya terjadi dalam satu arah dan perasaan yang tidak pernah didengar, menjadi alasan mengapa saya takut dalam menyampaikan suara atau pendapat. Seperti yang para psikolog sampaikan, bahwa anak yang sedari kecil tidak pernah didengar saat dewasa ia akan kesulitan dalam berpendapat, sering merasa cemas, dan merasa kurang percaya diri. Hal tersebut karena anak merasa takut dinilai, tidak dicintai, salah, dan takut tertolak.

Sedari kecil saya juga cukup tidak asing dengan nada suara yang keras. Mungkin kalau diukur suara itu bisa sampai 5 oktaf, hampir menyaingi suara penyanyi profesional yang menggelegar di atas panggung. Suara keras itu tidak selalu menandakan bahwa mereka marah, tetapi seringnya seperti itu. Sampai yang tertanam di otak saya saat ini, orang yang bernada keras artinya dia sedang marah. Saat ini pun saya tidak suka mendengar sesuatu yang bersuara keras, mungkin itu salah satu luka kecil yang membekas dan menjadi trauma.

Gentle - Parenting hadir di masa kini sebagai pilihan mendidik anak dengan mengutamakan empati dan kenyamanan tanpa harus melupakan ketegasan itu sendiri. Kita bisa menjadi rumah dan tempat pulang untuk anak-anak kita karena rasa aman dan nyaman yang kita berikan untuk mereka. Rasa aman dan nyaman itu bisa kita ciptakan dengan mendengar apa yang mereka keluhkan dan rasakan, memberi kebebasan mereka dalam bersuara, serta mengizinkan mereka untuk merasakan dan meluapkan emosinya.

Saya mencoba menerapkan ilmu parenting yang selama ini saya pelajari terhadap adik saya (selisih umur kita cukup jauh). Nyatanya tidak semudah itu, karena terkadang secara tidak sadar emosi saya meluap memarahinya tanpa alasan yang jelas. Setelah itu terjadi, seakan saya bangun dari tidur dan kesadaran saya kembali, hanya penyesalan dan kata maaf yang bisa saya ucapkan.

Saya yakin itu adalah bentuk luka di masa kecil yang naik kembali ke permukaan. Kejadian itu terjadi secara berulang, sampai akhirnya saya menyadari bahwa luka itu akan selalu ada dan sewaktu-waktu akan naik kembali ke permukaan, selama diri kita tidak menyembuhkannya. Tanpa sadar kita melampiaskan luka itu ke anak dan menciptakan luka baru bagi mereka.

Kesadaran ini membuat saya memilih untuk menyembuhkan luka dan trauma yang saya miliki, serta belajar untuk lebih menerima diri sendiri. Ilmu-ilmu parenting ini akan terus saya pelajari untuk mewujudkan salah satu mimpi saya, menjadi seorang ibu yang mampu memberi rasa aman dan tenang untuk anak.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda