News
Tak Perlu Jadi Manusia Super, Tanyakan 3 Hal Ini ke Dirimu Sendiri untuk Menjaga Kewarasan
Semua orang pasti pernah merasa marah, takut, kecewa, cemas, atau lelah. Menurut Irma Gustiana Andriani atau kerap disapa Ayank Irma, berbagai emosi tersebut wajar dirasakan manusia.
Hal tersebut disampaikan Irma dalam acara book talk “Nggak Apa-Apa Kok, Nggak Baik-Baik Saja” di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026. Acara tersebut berlangsung pada hari kedua, Jumat (2/10), di JICC, Senayan, Jakarta Pusat.
Psikolog, penulis, sekaligus coach itu mengatakan seseorang tidak harus memaksakan dirinya untuk selalu dalam kondisi baik. Bahkan, semua emosi boleh dirasakan.
“Semua bentuk emosi itu sesuatu yang kita rasakan. Jadi, kamu boleh ngerasain capek, bingung, takut, semuanya itu boleh,” ujar Irma.
Namun, ia menekankan bahwa merasakan emosi berbeda dengan melampiaskannya secara sembarangan. Perasaan negatif, seperti marah misalnya, tetap boleh dirasakan.
Perlu diingat tindakan seperti memukul, berkata kasar, merusak barang, atau menyakiti diri sendiri dan orang lain bukanlah respons yang tepat terhadap emosi tersebut.
Emosi Bisa Berdampak terhadap Tubuh
Menurut Ayank Irma, emosi tidak sekadar hadir di dalam pikiran. Tubuh juga dapat memberikan pertanda atau sinyal ketika seseorang sedang mengalami emosi tertentu.
seseorang merasakan tubuh lebih panas, bahu tegang, sakit kepala, hingga sesak di dada. Tidak jarang gangguan lambung juga muncul ketika kondisi emosional sedang tidak baik.
Oleh karena itu, ia mengajak seseorang untuk lebih peka terhadap perubahan yang terjadi pada tubuh. Sinyal tersebut bisa menjadi pertanda bahwa ada sesuatu yang sedang dirasakan.
Jangan Terlalu Memaksakan Diri untuk Selalu Kuat
Irma pun turut mengingatkan bahwa manusia memiliki batas. Setiap orang ada yang namanya keterbatasan energi, waktu, dan kemampuan dalam berpikir.
Makanya, seseorang tidak boleh memaksakan dirinya untuk terlihat kuat dan bahagia. Bahkan saat merasa terlalu lelah, kita boleh mengambil waktu untuk beristirahat.
Dalam pemaparannya, ia mencontohkan suatu kondisi ketika seseorang sedang merasa kewalahan dengan tugas. Mungkin dengan beristirahat sejenak, itu sama saja dengan memberikan ruang bagi diri sendiri.
Sekali lagi, ia menekankan bahwa istirahat tidak secara otomatis membuat seseorang jadi menghindari tanggung jawab. Begitu kondisi sudah lebih tenang, kita bisa kembali mengerjakan tanggungan tersebut.
“Kalau kamu butuh jeda istirahat, ya istirahat. Tapi setelah itu ngapain? Kerjain lagi tugasnya,” katanya.
Kenali Emosi untuk Menentukan Respons

Irma menilai setiap emosi mempunyai kebutuhan tersendiri. Karena itulah emosi sebaiknya tidak langsung dihindari.
Ketika emosi muncul, seseorang bisa mengambil jeda terlebih dahulu. Dengan mengambil napas dalam lalu hembuskan perlahan, kita bisa mulai mengenali perasaan yang sedang muncul.
Setelah itu, kita jadi bisa tahu emosi apa yang sedang dirasakan. Misalnya, sedang sedih atau marah.
Langkah selanjutnya adalah menentukan respons yang dapat dilakukan. Respons tersebut sebaiknya tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Setelah dirasa lebih siap, seseorang juga bisa saja dengan menceritakan perasaan mereka kepada orang yang dipercaya. Dukungan tersebut bisa datang dari teman, orang tua, guru, maupun konselor sekolah.
Menulis Bisa Jadi Cara untuk Meluapkan Isi Pikiran
Bahkan Irma membeberkan bahwa journaling bisa membantu untuk mengeluarkan berbagai hal yang ada di pikiran.
Selain dengan tulisan, kita bisa lakukan cara lain, seperti menggambar, mencoret-coret abstrak, mendengarkan lagu.
Menurutnya, hal terpenting adalah memberikan ruang agar berbagai pikiran tidak terus menumpuk di kepala.
Ia pun menuangkan tiga pertanyaan sederhana yang bisa membantu seseorang mengenali kondisi mentalnya.
Pertanyaan tersebut bisa menjadi cerminan diri pada hari ini.
“Hari ini aku sedang merasa apa?”
“Yang sedang aku butuhkan apa?”
“Satu hal kecil yang ingin aku lakukan untuk diriku apa?”
Dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, kita jadi bisa berlatih untuk memproses perasaan secara berkala.
Tetaplah Melangkah Meski Tertatih-Tatih
Persoalan mengenai cara memahami emosi tersebut turut menjadi bagian dari karya terbaru Irma. Bersama Penerbit Erlangga, ia merilis buku berjudul “Nggak Apa-Apa Kok” untuk mengajak pembaca lebih mengenali dan memahami kondisi diri.
Melalui bukunya, ia berharap pembaca kini tidak sekadar mendapat informasi. Lebih dari itu, ia ingin karyanya itu bisa menjadi teman dalam proses memahami perasaan.
“Mungkin bisa jadikan buku-buku ini sebagai teman untuk mencari tahu, sebagai panduan untuk lebih bisa menata hati, pikiran, dan perasaan,” harapnya.
Tak hanya itu, ia juga mengingatkan untuk tidak masalah saat perasaan sedang semrawut. Menurutnya, hal terpenting adalah tetap jujur terhadap diri sendiri.
“Yang pasti, gak papa kok, kalau misalkan kamu lagi gak baik-baik aja. Yang paling penting adalah jujur sama diri sendiri dan kemudian tidak berhenti, tetap move forward, melangkah maju walaupun itu pelan-pelan,” ungkapnya kepada tim Suara.com
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa proses memahami diri tidak harus berlangsung dengan instan. Ada banyak ritme yang bisa dilakukan untuk bisa melangkah maju meski perlahan.