News
Petani di Tengah Perubahan Iklim: Mengapa Kemitraan Inklusif Menjadi Penting?
Perubahan iklim membuat petani menghadapi kondisi yang semakin sulit diprediksi. Waktu tanam dapat berubah, hasil panen terancam, sementara biaya produksi terus menjadi pertimbangan.
Di tengah kondisi tersebut, kemampuan petani untuk beradaptasi tidak hanya ditentukan oleh cara mereka mengelola lahan. Akses terhadap modal, teknologi, informasi cuaca, pengetahuan, hingga pasar ikut menentukan kemampuan mereka bertahan dan mengembangkan usaha.
Kebutuhan yang saling berkaitan itu membuat ketahanan petani sulit dibangun oleh satu pihak saja. Kemitraan antara petani, pelaku usaha, lembaga keuangan, pemerintah, hingga organisasi pendukung kemudian menjadi salah satu pendekatan yang didorong untuk menjawab persoalan tersebut.
Gagasan itu dibahas dalam thematic session bertajuk “Farmers at the Frontline of Climate Resilience” di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Selasa (6/10).
Partnership for Indonesia's Sustainable Agriculture (PISAgro) melihat kemitraan perlu berkembang dari hubungan jual-beli menjadi ekosistem yang memberi ruang bagi petani untuk mendapatkan berbagai dukungan sesuai kebutuhannya.
Kemitraan Tidak Berhenti pada Agenda Jual-Beli
Advisor PISAgro, Prof. Bayu Krisnamurthi, mengatakan posisi petani sangat dominan dalam proses produksi di tingkat lahan. Ketika hasil pertanian masuk ke tahap hilir, peran perusahaan menjadi semakin besar.
Kesenjangan tersebut membuka kebutuhan untuk membangun hubungan yang lebih luas. Kemitraan dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan petani dengan sumber daya yang dimiliki pihak lain.
Dukungan itu dapat berupa pengetahuan, jaringan, pembiayaan, riset, informasi, hingga teknologi.
“Partnership itu membutuhkan dua belah pihak,” kata Bayu.
Menurut dia, hubungan tersebut juga memberikan manfaat bagi perusahaan. Peningkatan kapasitas petani dapat berdampak pada kualitas produk, kepastian pasokan, dan keberlanjutan bahan baku.
Karena itu, kemitraan tidak semestinya ditempatkan sebagai program bantuan perusahaan yang memiliki batas waktu tertentu. Hubungan antara petani dan perusahaan dapat berkembang dari sekadar pembeli atau offtaker menjadi kerja sama yang lebih panjang.
“Dari kemitraan itu kemudian menjadi ekosistem,” imbuhnya.
PISAgro Dorong Pendekatan Inclusive Growth

PISAgro mengembangkan pendekatan tersebut melalui inclusive closed loop model atau model pertumbuhan inklusif.
Dalam model ini, hubungan bisnis antara petani dan pembeli menjadi pintu masuk untuk membuka akses terhadap kebutuhan lain. Mulai dari input pertanian dan bibit berkualitas hingga pendanaan, teknologi, dan dukungan lembaga keuangan.
Sumber pembiayaan juga dapat berasal dari berbagai pihak, seperti perbankan, lembaga keuangan internasional, filantropi, hingga skema blended finance.
Pendekatan tersebut menggunakan konsep creating shared value, yang menempatkan penyelesaian persoalan sosial sebagai bagian dari strategi bisnis. Petani, peternak, dan nelayan juga diposisikan sebagai pihak yang memiliki suara dalam menentukan kebutuhan mereka.
“Mereka juga mempunyai kuasa terhadap apa yang telah mereka lakukan untuk menjadi bagian dari sistem,” ujarnya.
Pelatihan Saja Tidak Cukup
Kebutuhan terhadap kemitraan jangka panjang terlihat dari pengalaman petani yang mengikuti sesi tersebut.
Petani kopi dari Lampung Barat, Ahmad Supriyono, mengatakan pelatihan memang penting untuk meningkatkan kemampuan petani. Namun, pengetahuan yang diberikan perlu diikuti pendampingan agar dapat diterapkan dan menghasilkan perubahan di lapangan.
“Yang penting itu pelatihan. Tapi yang lebih pentingnya adalah pendampingan. Karena kalau pelatihan itu cuma di awal, sedangkan kalau pendampingan itu bisa dilakukan berlanjut,” katanya.
Ahmad juga menyoroti akses modal. Petani masih dapat menghadapi kesulitan memperoleh pinjaman ketika tidak memiliki jaminan.
Pengalaman lain datang dari petani sawit di Kutai Timur yang mendapatkan pendampingan untuk mengolah bahan lokal menjadi pupuk organik. Praktik tersebut membantu mengurangi penggunaan pupuk kimia sekaligus menjaga unsur hara tanah.
Sementara petani kentang mendapatkan dukungan berupa informasi cuaca untuk menentukan waktu tanam. Informasi tersebut membantu petani menyesuaikan kegiatan pertanian dengan kondisi cuaca yang berubah.
Pengalaman tersebut menunjukkan kebutuhan petani menghadapi perubahan iklim memiliki banyak lapisan. Mereka membutuhkan pengetahuan untuk beradaptasi, teknologi untuk meningkatkan produksi, modal untuk menjalankan usaha, serta akses pasar agar hasil pertanian memiliki nilai ekonomi.
Kemitraan inklusif kemudian menawarkan hubungan yang lebih panjang untuk mempertemukan berbagai kebutuhan tersebut.
Pada akhirnya, ketahanan petani terhadap perubahan iklim tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mereka menghadapi perubahan cuaca. Ada ekosistem yang ikut menentukan apakah petani memiliki cukup ruang, pengetahuan, modal, dan akses untuk terus bertani ketika kondisi semakin tidak menentu.
Penulis: Chairunisa