News
Membedah Luka Lewat Sastra dan Psikologi di Communitimes: Book Talk and Community Support Circle
Puluhan peserta dari jejaring komunitas buku, iklim, dan psikologi memenuhi Kaktus Coffee Place, Yogyakarta, Sabtu (10/10/2026). Di tengah tekanan ekonomi, tuntutan sosial, dan kecemasan akibat fear of missing out (FOMO), mereka berkumpul untuk membaca pengalaman emosional melalui sastra sekaligus belajar mengenali perasaan lewat pendekatan psikologi.
“Situasi perekonomian dan sosial yang penuh tekanan membuat kita stres atau ketakutan. Forum-forum seperti ini memberi rasa ‘pulang’ dan ruang aman supaya kesehatan mental kita tetap terjaga,” ujar salah seorang peserta dalam sesi pembuka.
Suasana tersebut mewarnai agenda Yoursay.id Communitimes: Book Talk and Community Support Circle dengan tagline #EveryMindMatters. Bekerja sama dengan Biro Psikologi Dinamis, Yoursay.id menghadirkan penulis Ruhaeni Intan dan psikolog klinis Atikah Prastowo, M.Psi., untuk mempertemukan pembacaan karya fiksi dengan psikoedukasi kesehatan mental.
Format ini memberi ruang bagi peserta untuk memahami persoalan emosional melalui cerita, kemudian mengenal cara mengelola perasaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Seakan Bisa Dipisahkan” dan Luka dalam Keluarga
Sesi pertama membahas novel “Seakan Bisa Dipisahkan” karya Ruhaeni Intan, terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Novel tersebut mengikuti Sofia, anak perempuan pertama yang menghadapi hubungan love-hate dengan ibunya. Kehadiran sekaligus ketidakhadiran sosok ayah turut membentuk ketegangan dalam keluarga mereka.
Ruhaeni menjelaskan bahwa gagasan novel ini berangkat dari ketertarikannya pada persoalan keluarga dan isu fatherless. Saat bekerja di media parenting, ia menemukan isu ketidakhadiran sosok atau peran ayah sebagai persoalan sosial yang menarik untuk diolah melalui sudut pandang anak perempuan.
“Novel ini menceritakan pengalaman seorang anak perempuan pertama bernama Sofia yang memiliki dinamika hubungan love-hate yang sangat kompleks dengan ibunya. Hubungan mereka menjadi penuh ketegangan karena hadirnya sekaligus absennya sosok ayah di antara mereka,” kata Ruhaeni dalam pemaparannya pada sesi “Book Talk”.
Persoalan keluarga dalam novel itu berkelindan dengan krisis identitas ketika seseorang berhenti bekerja. Sofia merasa kehilangan orientasi setelah pengangguran mengubah rutinitas dan cara pandangnya terhadap diri sendiri. Situasi tersebut dekat dengan pengalaman anak muda yang menghadapi transisi karier di tengah tekanan sosial ekonomi.
Ruhaeni juga menyoroti sulitnya melepaskan diri dari relasi keluarga yang tidak sehat dalam konteks sosial Indonesia. Ikatan kekeluargaan dan norma sosial dapat membuat seseorang tetap terhubung dengan hubungan yang menyakitkan. Ia berharap novelnya membantu pembaca merasa bahwa pengalaman dan perasaan mereka layak diakui.
![Pembicara Communitimes: Book Talk and Community Support Circle.[Yoursay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/12/74032-pembicara-communitimes-book-talk-and-community-support-circleyoursay.jpg)
Mengenali Emosi lewat Psikoedukasi
Pembahasan kemudian beralih ke perspektif psikologi bersama Atikah Prastowo. Ia menjelaskan bahwa emosi mencakup respons fisik, pengalaman psikologis, dan kecenderungan perilaku. Respons tersebut dapat berbeda pada setiap orang karena dipengaruhi persepsi, memori masa kecil, pola pengasuhan, serta aturan hidup yang terbentuk sepanjang pengalaman.
“Dua orang bisa mengalami peristiwa yang sama tetapi merespons dengan emosi yang sangat berbeda. Mengapa? Karena ada filter persepsi yang dibentuk oleh memori masa kecil, gaya pengasuhan, dan aturan hidup,” ujar Atikah dalam pemaparan materinya.
Untuk memperlihatkan perbedaan tersebut, Atikah mengajak peserta mengikuti eksperimen asosiasi kata. Kata “kerja”, “pasangan”, dan “anak-anak” memunculkan respons beragam, mulai dari “capek” dan “susah” hingga “bahagia”. Perbedaan jawaban itu menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana pengalaman pribadi mempengaruhi penafsiran terhadap suatu situasi.
Atikah turut menjelaskan risiko menekan emosi tanpa berusaha mengenalinya. Emosi yang diabaikan dapat mempengaruhi respons dan perilaku seseorang. Karena itu, peserta diperkenalkan pada metode RAIN, yaitu Recognize and Allow, Identify and Name It*, Curiosity, serta Validate. Tahapan ini mengajak individu menyadari emosi, memberinya nama, mengamatinya tanpa menghakimi, dan mengakui perasaan yang muncul.
Peserta kemudian mempraktikkan square breathing dengan pola menarik napas selama empat detik, menahannya empat detik, menghembuskannya empat detik, lalu menahan napas kembali selama empat detik. Atikah juga memperkenalkan konsep observer self, yakni mengambil jarak dari emosi dengan menyadari bahwa perasaan tertentu sedang hadir tanpa membiarkan diri sepenuhnya larut di dalamnya.
Ruang Aman untuk Memahami Diri
Diskusi dilanjutkan dengan pertanyaan peserta tentang riset novel, sensitivitas dalam menggambarkan pengalaman keluarga, serta cara mengelola emosi pada individu neurodivergent. Atikah menekankan bahwa kebutuhan individu dapat berbeda sehingga pendampingan profesional perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Dalam wawancara seusai acara, Ruhaeni Intan menilai perpaduan bedah buku dan psikoedukasi sebagai format yang inovatif dan relevan bagi anak muda.
“Formatnya sangat inovatif karena menggabungkan literasi penulisan fiksi dengan workshop psikoedukasi kesehatan mental. Penulis mendapatkan perspektif psikologis atas karyanya, dan peserta mendapatkan pemahaman emosional yang lebih utuh,” ujar Ruhaeni.
Ia berharap novel “Seakan Bisa Dipisahkan” membantu pembaca menghadapi dinamika keluarga yang rumit.
“Semoga lewat buku ini, mereka merasa tidak sendirian dan melihat bahwa perasaan mereka itu valid dan berharga,” pungkasnya.