News
Speak Up soal Karhutla, Bare Minimum yang Bisa Dilakukan Para Influencer
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti sejumlah daerah di Kalimantan menjadi bencana yang berdampak pada kehidupan masyarakat.
Api yang melalap hutan dan lahan itu menimbulkan kerusakan habitat satwa hingga mengancam kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran.
Di tengah situasi tersebut, peran influencer atau pemengaruh di media sosial mendadak menjadi perbincangan, terutama setelah munculnya ketegangan antara selebgram Karin Novilda alias Awkarin dan Aa Juju pemilik akun Makanlurrrr.
Persoalan ini bermula ketika Aa Juju mengirimkan DM (direct message) alias pesan langsung kepada Awkarin untuk meminta bantuan menyuarakan dan membagikan ulang informasi mengenai bencana karhutla di Kalimantan.
Permintaan Aa Juju tersebut kemudian memicu reaksi keras dari Awkarin yang menilai pesan itu bernada menghakimi dan menyudutkan yang kini jadi berbuntut panjang.
Terlepas dari ketegangan di antara keduanya, timbul sebuah pernyataan yang cukup menarik untuk dibahas soal apakah influencer yang dikenal memiliki banyak pengikut wajib menyuarakan bencana yang sedang dialami masyarakat?
Bagi saya pribadi, speak up soal karhutla merupakan bentuk kepedulian dasar atau bare minimum yang patut dipertimbangkan oleh mereka yang memiliki jangkauan besar di media sosial.
Melansir Cambridge Dictionary, bare minimum berarti jumlah paling kecil atau batas paling rendah yang menggambarkan tindakan paling dasar yang bisa dilakukan seseorang dalam situasi tertentu.
Dalam konteks yang sedang dibahas kali ini, influencer setidaknya bisa memanfaatkan platform yang dimiliki untuk menyebarkan informasi yang berguna bagi masyarakat luas.
Mengapa Influencer Perlu Speak Up soal Karhutla?
![Ilustrasi karhutla [Freepik/magnific]](https://media.arkadia.me/v2/articles/rizkautami/oZxI5vsThUIkPQ6NlrDGr2l2sBT7ahxB.png)
Influencer memiliki jangkauan komunikasi yang luas. Unggahan mereka berpotensi menjangkau orang-orang yang mungkin tidak mengikuti perkembangan berita lingkungan atau belum mengetahui dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap masyarakat.
Karena itu, membagikan informasi mengenai karhutla bukanlah permintaan yang berlebihan. Satu unggahan saja bisa menjadi langkah sederhana untuk membantu meningkatkan kesadaran publik terhadap bencana yang sedang terjadi.
Namun, kasus Awkarin dan Aa Juju juga memperlihatkan bahwa cara menyampaikan ajakan untuk speak up soal isu panas juga harus dipertimbangkan. Niat untuk mengajak orang lain peduli bisa tidak tersampaikan dengan baik apabila pesan yang dikirimkan terkesan menyalahkan atau menghakimi penerimanya.
Ajak Speak Up 'Yes' Menghakimi 'No'
Ajakan kepada influencer untuk peduli dan speak up soal Karhutla tentu adalah niat yang baik, namun hal tersebut sepatutnya tidak berubah menjadi ajang menghakimi orang lain.
Setidaknya kita bisa mengingatkan orang lain soal isu yang tengah panas dengan cara yg bijak. Para influencer yang menerima ajakan semacam ini juga seharusnya bisa melihatnya sebagai kesempatan untuk berkontribusi.
Sayangnya, niat yang dilakukan Aa Juju untuk mengingatkan Awkarin justru menjadi bola panas yang membawa ranah personal.
Peristiwa ini bisa menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap bencana seharusnya tidak menjadi ajang perdebatan di media sosial.
Influencer memang tidak harus selalu berkewajiban untuk membahas tentang semua isu yang sedang ramai dibicarakan. Namun, mereka bisa memanfaatkan jangkauan besar mereka untuk membantu menyebarkan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Membagikan informasi karhutla dari sumber tepercaya bisa menjadi langkah sederhana untuk meningkatkan kesadaran publik.
Selain itu, mengajak orang lain untuk peduli juga perlu dilakukan dengan cara yang tepat, tanpa harus menggurui atau menganggap orang lain tidak memiliki empati. Karena sebenarnya, tujuan utamanya untuk memastikan isu karhutla tetap mendapat perhatian.