Johanna Lindsey bisa dibilang selalu identik dengan classic romance. Novel-novelnya setia mengangkat kisah cinta berlatar masa lalu dengan intrik sosial, gairah terpendam, dan konflik emosional khas era Kerajaan Victoria.
The Devil Who Tamed Her adalah salah satu karya Lindsey yang mengangkat tema percintaan di antara para bangsawan. Romantis, dramatis, sekaligus sarat emosi. Kalau kamu suka cerita historical romance, novel ini akan cocok buat kamu.
Lindsey dengan cermat membangun dinamika “si iblis dan si ratu es”. Raphael digambarkan sebagai pria yang selama ini lihai menghindari pernikahan dan komitmen, sementara Ophelia adalah simbol dari keangkuhan sosial bangsawan era Victoria. Pertemuan mereka bukan hanya soal cinta, tetapi benturan ego, trauma, dan luka batin yang selama ini disembunyikan.
Sinopsis Novel
Novel ini berpusat pada sosok Lady Ophelia Reid, perempuan yang terkenal sebagai wanita tercantik di Inggris. Namun kecantikannya datang bersama reputasi buruk. Angkuh, egois, manja, pendengki, dan gemar menyebarkan gosip.
Konflik bermula ketika Ophelia memutuskan pertunangannya dengan Duncan, seorang Duke dari Skotlandia. Keputusan itu membuat Raphael Locke, sahabat Duncan, murka. Raphael tak terima melihat sahabatnya dipermalukan oleh Ophelia.
Amarah itu kemudian berkembang menjadi sebuah taruhan. Duncan yakin Ophelia tak akan pernah berubah, sementara Raphael percaya tak ada manusia yang sepenuhnya tak bisa menjadi lebih baik. Taruhan sebesar 100 pound pun disepakati. Bukan tentang uang semata, melainkan soal harga diri dan pembuktian.
Untuk “menjinakkan” Ophelia, Raphael menculiknya dan membawanya ke Northumberland, tempat terpencil milik keluarganya. Bersama bibinya, Esmeralda, Raphael berusaha mengajarkan nilai-nilai kesantunan, empati, dan tanggung jawab sosial kepada Ophelia.
Klimaks Cerita The Devil Who Tamed Her
Konflik semakin rumit ketika rumor beredar bahwa Raphael dan Ophelia telah bertunangan. Gosip itu diperkuat oleh berbagai “bukti”. Tertekan oleh skandal sosial yang terus membesar, Raphael akhirnya mengambil keputusan impulsif. Menikahi Ophelia secara mendadak di sebuah pesta, disaksikan Lady Cade.
Namun pernikahan itu bukan akhir masalah. Raphael justru belum siap menjadi suami sepenuhnya. Ia tidak membawa Ophelia tinggal bersamanya, melainkan membelikan rumah besar untuk istrinya itu. Keputusan ini memicu konflik emosional baru.
Ophelia merasa ditolak, diremehkan, dan kembali terluka. Hubungan mereka diwarnai pertengkaran, jarak, dan kesalahpahaman, hingga sebuah peristiwa tragis. Ophelia koma setelah menyelamatkan sahabatnya, mengubah segalanya.
Di titik inilah Raphael mengakui perasaannya. Ia mengaku bahwa taruhan dengan Duncan hanyalah awal; selebihnya, ia sungguh ingin membantu dan mencintai Ophelia. Pengakuan ini menjadi klimaks emosional novel, ditutup dengan rekonsiliasi, pengampunan, dan kehamilan Ophelia, simbol kehidupan baru bagi hubungan mereka.
Kelebihan dan Kekurangan
Dari segi kekuatan, novel ini unggul dalam penyusunan alur yang sistematis, latar era Victoria yang tergambar jelas, serta karakter yang hidup dan kuat. Intrik sosial, skandal bangsawan, dan humor halus membuat cerita tetap mengalir.
Namun, terdapat kelemahan pada penggambaran emosi Ophelia menjelang akhir cerita. Kemarahannya saat mengetahui kebenaran taruhan terasa kurang eksplosif, seolah hanya marah di permukaan.
Meski demikian, The Devil Who Tamed Her tetap menjadi bacaan yang memuaskan bagi pencinta roman klasik. Novel ini penuh gairah, emosi, dan drama membuat pembaca tersenyum, kesal, bahkan menitikkan air mata. Sebuah kisah cinta penuh intrik dan skandal, yang sulit ditinggalkan bahkan hanya untuk sesaat.
Identitas Buku
- Judul: The Devil Who Tamed Her (Pelajaran Cinta Dari Sang Iblis Penggoda)
- Penulis: Johanna Lindsey
- Penerbit: GagasMedia
- Tahun Terbit: 2009
- Tebal: 544 Halaman
- Seri: Reid Family (Buku #2)
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS