Ulasan

Rumah Ilalang: Ironi Jasad yang Tak Temukan Tanah untuk Beristirahat

Rumah Ilalang: Ironi Jasad yang Tak Temukan Tanah untuk Beristirahat
Rumah Ilalang Stebby Julionatan. (goodreads)

Nama "ilalang" memiliki akar yang cukup dalam dalam khazanah sastra Indonesia. Novel ini seolah bersanding dengan karya klasik Nh. Dini, Padang Ilalang di Belakang Rumah (1987). Metafora ini memang akrab di telinga kita; mulai dari sajak puitis Dorothea Rosa Herliany dalam Nikah Ilalang, hingga gubahan D. Zawawi Imron melalui Bulan Tertusuk Lalang. Bahkan, bagi masyarakat awam, kata ini mungkin langsung mengingatkan pada melodi sedih yang pernah dipopulerkan oleh Machica Mochtar.

Namun, jika Nh. Dini menggunakan ladang ilalang sebagai sekat sekaligus pemersatu antara kaum priyayi dan rakyat jelata saat agresi Belanda, Stebby Julionatan dalam Rumah Ilalang (2019) mengambil arah berbeda. Baginya, ilalang bukan sekadar latar tempat, melainkan simbol kerapuhan dan keterasingan. Tokoh utamanya adalah seorang waria bernama Tabita—yang lahir dengan nama Alang. Apakah nama ini sebuah anagram dari "ilalang"? Penulis memang tidak mengonfirmasinya secara gamblang, namun korelasi itu terasa sangat kuat.

Tragedi Kematian: Saat Jasad Tak Temukan Tempat

Konflik utama dalam novela ini bermula ketika Tabita meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tragis. Di sinilah ironi kemanusiaan memuncak: tubuh Tabita yang sudah kaku ditolak di mana-mana. Keluarganya enggan menerima, komunitas Muslim keberatan, dan kelompok Kristen pun tak memberikan ruang. Kesulitan hidup yang dialami Tabita sebagai kelompok terpinggirkan ternyata tidak berakhir saat napasnya berhenti. Bahkan untuk sekadar mencari tempat peristirahatan terakhir, ia harus menghadapi penolakan yang membeku.

Masa lalu Alang pun tak kalah pahit. Ia diusir dari rumah setelah menyadari jati dirinya yang berbeda. Pelarian itu membawanya ke Srikandi Utama, sebuah wadah perlindungan dan advokasi bagi kaum waria. Meski ia telah mengganti nama menjadi Tabita, gangguan dari dunia luar tetap menghantui, termasuk ketertarikannya pada Gosvino, seorang pemuda seminari yang mustahil digapai. Sosok Tabita mengingatkan saya pada Anjum dalam The Ministry of Utmost Happiness karya Arundhati Roy. Bedanya, jika Anjum mendirikan tempat perawatan jenazah di sebuah kuburan, Tabita justru lunglai karena tak menemukan tanah yang sudi memeluk jenazahnya.

Cinta Urusan Pribadi, Mati Urusan Sosial

Kalimat tersebut merupakan inti paling tajam dari novela ini. Sepanjang hayatnya, Tabita berjuang demi cinta dan identitas, namun saat ajal menjemput, eksistensinya justru menjadi beban sosial bagi orang-orang di sekitarnya. Stebby memotret perdebatan mengenai tata cara pemakaman Tabita—apakah secara Islam, Kristen, atau Katolik—dengan cukup intens.

Namun, ada satu hal yang menurut saya terlewatkan oleh penulis: bagaimana keinginan terakhir Tabita sendiri? Apakah ia ingin dimakamkan sebagai Tabita atau kembali sebagai Alang? Absennya penjelasan mengenai jati diri terakhir sang tokoh membuat pembaca sulit menyimpulkan apakah Tabita telah "menang" atau justru "kalah" dalam memperjuangkan identitasnya. Padahal, isu ini jauh lebih esensial daripada sekadar urusan teknis pemakaman yang tampak di permukaan.

Keberanian Tema dan Catatan bagi Penulis

Stebby Julionatan cukup berani mengeksplorasi suara kelompok minoritas, mulai dari aktivitas advokasi hingga kehidupan seksual mereka yang digambarkan secara lugas melalui tokoh seperti Tania. Namun, sebagai sebuah karya, novela ini terasa sedikit terburu-buru. Pembaca seolah tidak diberi ruang untuk bernapas dan menghayati momen-momen emosional, seperti saat pengusiran Alang atau detik-detik kematiannya. Deskripsi yang lebih mendetail mungkin akan membuat cerita ini terasa lebih hidup daripada sekadar rekaman adegan yang silih berganti.

Akan tetapi, mengingat ini adalah sebuah novela pendek, kepadatan konflik dan kecepatan alur memang menjadi faktor utama. Oleh karena itu, Stebby memilih untuk tidak membuang waktu dan langsung membedah pokok permasalahan beserta solusinya.

Ada pula sedikit ketidaktelitian dalam penyuntingan, seperti perubahan sudut pandang orang kedua ("kamu") yang tiba-tiba muncul di beberapa halaman, namun hal ini terobati dengan humor getir yang diselipkan penulis. Misalnya, melalui dialog Hari sang penggali kubur yang merasa nyalinya tak sebanding dengan keberanian Tabita dalam menghadapi Tuhan sendirian.

Kesimpulan: Modal Berharga Penulis Muda

Keberanian Stebby dalam mengangkat tema yang sensitif di tengah masyarakat yang cenderung menghakimi adalah modal yang luar biasa. Meski masih ada beberapa celah yang perlu diperbaiki, novela ini merupakan langkah awal yang solid. Sebagai penulis muda, Stebby ditantang untuk terus mengasah ketajaman prosanya dan menghidupkan karakter-karakter unik di masa depan. Jika Tabita mengatakan bahwa cinta adalah urusan pribadi dan kematian adalah tradisi sosial, maka bagi seorang penulis, menulis adalah kerja sunyi di dalam kamar, sementara menerbitkan adalah kerja massal yang siap menghadapi jutaan mata pembaca.

Identitas Buku:

  • Judul: RUMAH ILALANG
  • Penulis: Stebby Julionatan
  • Penerbit: Basabasi
  • Edisi: Pertama, September 2019
  • Tebal: 135 hal
  • ISBN: 9786237290230

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda